How Islamic Learning Transformed Western Civilization: Review of ‘The House of Wisdom’

Review oleh : FSTC Research Team, 26 Juli, 2009. Diterjemahkan oleh : saya. Bila menemukan ungkapan/frase/kalimat yang membingungkan silahkan berkunjung dimana artikel aslinya dimuat pada Sumber http://muslimheritage.com/topics/default.cfm?ArticleID=1153. Semua kopirait ada pada penulisnya.Selamat membaca dan semoga bermanfaat. (Iman) 

———————————————————————————————————————
The House of Wisdom: How the Arabs Transformed Western Civilization

 

oleh Jonathan Lyons. London: Bloomsbury Publishing, Februari 2009. Hardback, 272 pages. ISBN-10: 1596914599 – ISBN-13: 978-1596914599. Dimensions: 9.4 x 6.2 x 1.3 inches.

 

1. Pengantar

 

Gambar 1: Front cover of The House of Wisdom: How the Arabs Transformed Western Civilization by Jonathan Lyons (Bloomsbury, 2009).

 

Di dalam buku ini yang berjudul The House of Wisdom: How the Arabs Transformed Western Civilization (Rumah Kebijaksanaan : Bagaimana Orang-Orang Arrab Mentransformasi Peradaban Barat) yang diterbikan baru-baru ini, Jonathan Lyons menjelaskan aspek-aspek yang paling menonjol yaitu penyebaran pendidikan Islam dan penjelasan kisah yang sangat luar biasa akan cara yang beragam, bagaimana tradisi pembelajaran ditularkan (pindahkan) kepada Barat dan bagaimana hal tersebut membantu perubahan secara mendalam terhadap peradaban Barat pada abad pertengahan. Judul buku ini terinspirasi dari simbol institusi akademi Bayt al-hikma atau Rumah Kebijaksanaan, didirikan di Baghdad pada awal abad ke-9. Punbegitu, buku ini membahas jauh sebelum babak awal peradaban Islam dan menjelaskan topik yang mendalam pada persinggungan antara Timur dan Barat serta bagaimana persinggungan tersebut mendorong kebangkitan Barat. 

Struktur buku ini diatur sesuai dengan lima waktu saat Orang Islam berdo’a (red: shalat) minus maghrib. Empat bagian ini, dengan bijak, diberi judul : Al-Isha/Isya (Bagian 1), Al-Fajr/Fajar (Subuh) (bagian 2), Al-Zuhr/Dhuhur (bagian 3), and Al-‘Asr/Ashar (part 4). Mereka sesuai dengan kebangkitan peradaban Islam serta cakupan yang sangat luas dari kekuatan politik dan sosialnya, dipasangkan dengan intelektualistas yang dinamis dan ilmu pengetahuan yang krusial, serta pengaruhnya yang menguntungkan bagi peradaban pra-modern Dunia Barat. Struktur buku ini,  yang disusun seperti lima waktu shalat (minus maghrib), dimulai dengan Isya pada abad ke-10, ketika Perang Salib pertama dimulai dan Dunia Barat  diselimuti “kegelapan”. Subuh dan Dhuhur pada buku ini didedikasikan untuk menjelaskan kejadian-kejadian yang terjadi selama abad ke-11 dan 12 ketika Peradaban Muslim sedang pada puncaknya. Pada bagian Ashar; menjelaskan perihal di abad ke-14 dan menandai “penampakan” pertama dari Dunia Barat. Walaupun Lyons tidak menjelaskan apa yang terjadi saat Maghrib, namun sepertinya saat tersebut mewakili “tenggelam”-nya ilmu pengetahun pada peradaban Dunia Muslim. Punbegitu, patut dipertimbangkan bahwa penggiliran peradaban dipengaruhi oleh interaksi antar budaya dalam menangani produk-produk kemanusian kepada peradaban berikutnya, dimana mereka terus hidup dan memakmurkan dalam konteks yang baru.

 

Konteks sejarah dari terbitnya peradaban pada tanah/daerah yang ditaklukkan oleh Orang-Orang Islan sejak pertengahan abad ke-7 dan konteks interaksi antar budaya dari penyebaran ilmu pengetahuan sekitar Laut Mideterania dapat diringkas sebagai berikut : Selama berabad-abad setelah runtuhnya Roma, Eropa Barat mengalami kemunduran dan kegelapan, terkunci di dalam Abad Kegelapan bahkan hampir-hampir tidak bisa membaca waktu (jam). Augustine mendeklarasikan bahwa kepercayaan, bukan alasan (reason), harus menjadi panduan dari pemikiran Kristen yang menyebabkan Orang Eropa hidup dalam minimnya melek huruf dan peternakan, di mana taklid buta (mengikuti saja tanpa didasari pemahaman), tahayul dan dukun memiliki peran yang penting dalam pengobatan, serta gereja  menyetir bibit-bibit agresi di antara kerajaan sampai titik darah penghabisan dalam mewujudkan  perang suci yang kejam dan bar-bar…Perang Salib.

 

Kebudayaan Islam, pada sisi yang lain, berkembang dan menjadi tempat eksplorasi serta diskusi  intelektual dan “menyilaukan” untuk seseorang seperti Adelard of Bath (Latin: Adelardus Bathensis) yang melakukan perjalanan ke Timur untuk mencari kekayaan sains yang banyak terdapat di kota-kota seperti  Antioka, Baghdad dan Kairo, dimana perpustakaannya menyimpan ratusan ribu buku sementara disaat yang sama perpustakaan terbaik di Eropa hanya menyimpan, paling banyak, beberapa lusin volume saja. Dalam kerangka ilmiah yang dinamis dan tradisi intelektual, ilmuwan Islam dapat mengukur diameter bumi, sebuah kemampuan yang tidak dapat ditandingi oleh Barat dalam delapan ratus tahun; mereka (ilmuwan muslim) menemukan aljabar; ahli dalam astronomi dan navigasi, mengembangkan astrolabe dan alat-alat astronomi lainnya, menerjemahkan semua ilmu pengetahuan serta teks-teks filosofi Yunani, termasuk seluruh kumpulan tulisan Aristoteles, Galen, Ptolemy dan lainnya; ilmuwan Islam juga membuat kertas, memproduksi lensa dan cermin, serta mengembangkan theori sebagaiman juga cabang-cabang praktis ilmu pengetahuan. Tanpa mereka, dan ilmu pengetahuan yang dibawa seperti oleh Adelard-ke Barat, Eropa sepertinya akan menjadi tempat yang berbeda dalam seribu tahun belakangan ini. 

 

Gambar 2: Photo of author and journalist Jonathan Lyons

Dalam buku yang mengagumkan dan penuh pelajaran ini Jonathan Lyons mengembalikan penghargaan kepada kontribusi Dunia Islam Klasik, mengeksplorasi serta mengungkapkan taraf pembelajaran Orang-Orang Islam juga menjelaskan keberanian penjelajahan mereka dalam pencariannya, begitu juga mereka yang meletakkan dasar-dasar atas sesuatu yang saat ini dikenal dengan renaisan

 

Di antara contoh-contoh yang dituliskan penulis dalam bukunya kami mengutip beberapa kontribusi:

 

·     Kemampuan menentukan waktu dan tanggal secara akurat. Disini, alat utama yang digunakan adalah astrolabe, komputer analog yang sangat canggih sebelum zaman modern.

 

·     Penguasaan dalam kimia, mendahului kimia modern

 

·     Trigonometri dan spherical geometry – sangat berharga untuk membuat peta-peta, navigasi dan menentukan lokasi letak kota-kota

 

·     Aljabar, geometri, trigonometeri dan sistem penomoran kontemporari kita (1,2,3…dst)

 

·     Tabel bintang dan almanak yang mampu mempredikse kejadian astronomi seperti gerhana bulan dengan cukup akurat

 

·     Istilah teknis modern kita : dari azimuth sampai zenith, dari alkohol sampai zero (nol).

 

·     Makanan-makanan yang kita makan – alpukat, jeruk,  artichokes (al-harsuf) adalah diantaranya

·     Filsafat alam, kosmologi ilmiah serta optik

·     Serta yang paling penting dari semuanya, gagasan bahwa agama dan ilmu pengetahun, keyakinan (keimanan) dan alasan (reason) dapat saling melengkapi; hal ini memberikan cendekiawan Barat “alasan” untuk menjelajahi alam sekitarnya tanpa harus bertabrakan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

 

Daftar tokoh intelektual terbaik dan petualang sains atas pengembangan ilmu pengetahuan dan penyebarannya ke Barat, antara lain :

 

·     Al Khawarizmi : ahli matematika dan seorang astronomi, lahir sekitar tahun 783 di dekat laut Aral saat ini lebih dikenal dengan Uzbekistan. Beliau berafiliasi dengan Rumah Kebijaksanaan, dan tabel bintang-nya serta karya-karyanya tentang aretmatik, aljabar, astrolabe, serta sistem penomoran Arab sangat mempengaruhi Dunia Barat.

 

·     Al-Ma’mu : Khalifah Abbasiyah dari 813 sampai 833. Dia sangat tertarik pada sains dan filosofi serta secara aktif mempromosikan orang-orang terpelajar pada Rumah Kebijaksanaan dan tempat-tempat lainnya.

 

·     Abū ‘Alī al-Husayn ibn ‘Abd Allāh ibn Sīnā (Ibnu Sina atau Avicenna): seorang yang ahli dalam banyak bidang (polymath) pada abad ke-11 dan filsuf terpandang serta ahli dalam kedokteran. Pengaruhnya pada kebudayaan Barat bertahan selama berabad-abad, dalam pelbagai bidang, dari filosofi sampai kedokteran.

 

·     Abu al-Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Rushd (Ibnu Rushdi atau Averroes) filsuf terkenal dari Andalusia. Dia menanjak di Kordoba dan Marakesh pada abad ke-12. Beliau banyak pengaruh pada pemikiran Kristen dan Yahudi, terutama sebagai komentator karya-karya Aristoteles serta penulis asli dalam bidang filosofi, logis, astronomi dan obat-obatan.

 

·     Abu Abd Allah Muhammad al-Idrisi (Al-Idrisi atau Dreses) ahli geografi dari Afrika Utara dan direktur proyek peta dunia Raja Roger II dari Sisilia yang selesai pada 1154 peta tersebut dikenal dengan nama ‘Tabula Rogeriana’.

 

·     Adelard of Bath : Seorang pionir dalam eksplorasi Dunia Ilmu Pengetahuan Muslim, yang membawa keajaiban geometri, astronomi dan bidang-bidang lainnya pada dunia Abad Pertangahan Barat.

 

·     Frederick II :  The Holy Roman Emperor dan seorang pengamat atas kebudayaan Arab. Dia adalah pelindung dari Michael Scot dan penerjemah dari komentor Ibnu Rushdi pada tulisan-tulisan pendukung pemikiran Aristoteles.

 

 

2. Rumah Kebijaksanaan : Model pengaturan kelembagaan ilmu pengetahuan dalam Islam

 

Gambar 3: Aristotle teaching astronomy. The Arab scientific tradition was greatly influenced by the work of the classical Greek scholars, whose “natural philosophy” represented a complete system of knowledge that encompassed both the physical sciences and metaphysics, and upon which the scholars of the Islamic tradition commented extensively. © Topkapi Palace Museum, Istanbul (Source: House of Wisdom Gallery )

 

Rumah Kebijaksanaan atau Baitul Al-Hikmah adalah institusi ilmu pengetahuan didirikan di Baghdad oleh Khalifah al-Ma’mun. Aktifitas utamanya adalah menerjemahkan karya-karya ilmiah dan filosofi yang berasal dari Yunani. Biasanya seorang delegasi diutus oleh Khalifah untuk membawa buku dari daerah Rum. Direkturnya adalah Sahal bin Harn serta Salim, dengan asistennya Sa’id bin Harun. Pada Rumah Kebijaksanaan staff penerjemah sangat penting, yang mana  paling terkenal adalah Banu al-Munajjim, juga staff penyalin dan penjilid. Sepertinya saat itu perpustakaan telah demikian melembaga, dan sering kali disebut dengan Khizanat al-hikma  yang sudah eksis sejak masa kekuasaan Harus al-Rasyid dan Barmakids (seorang pendeta Zoroastrian yang masuk Islam) telah menerjemahkan beberapa karya dari Yunani. Al-ma’mun mungkin hanya memberikan stimulus pada tradisi tersebut dan memberikan pengaruh yang sangat berharga pada perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam.

 

Rumah Kebijaksanaan juga dihubungkan dengan dua observasi astronomi (marasid), satu ditempatkan di Baghdad sedangkan lainnya di Damaskus, di mana peneliti muslim membangun beberapa tabel astronomi (zij atau zidj), mengkoreksi data astronomi yang diwarisi dari masa lalu, terutama yang berasal dari Ptolemy.

 

Rumah Kebijaksanaan atau Baitul al-Hikmah, demikian biasa disebut, sepertinya tidak dapat bertahan sampai akhir Kekhalifahan Abbasiyah al Mutawakkil, disebabkan dengan pergantian kepimimpinan yang sangat sensitif,  walaupun beberapa kali disinggung keberadaanya di Irak pada abad ke 3/9, beberapa perpustakaan ilmiah, memiliki hutang budi pada beberapa orang (pribadi) dan kenyataannya kalifah al mutahid mendukung beberapa cendekiawan dari berbagai disiplin ilmu yang disimpan pada perpustakaannya. Hanya Kekhalifahan Fatimiyah yang kemudian membangun akademi resmi serupa, yang paling terkenal adalah Darul Hikmah yang dibangun oleh Al-Hakim.

 

Benar, dikarenakan usia Baitul Hikmah al-Ma’mun yang sangat singkat, beberapa perpustakaan dibangun di Irak dan Persia tidak hanya menyediakan informasi dan pembelajaran secara tradisional, namun juga memperkenalkan ilmu pengetahuan klasik (‘ulum al-awa’il). Peletakkan dasar seperti itu ternyata sangat berhasil di Mesir dibawah kekhalifahan Fatimiyah, di mana doktrin-doktrin syi’ah menyediakan atmosfir yang mendukung untuk pengembangan ilmu sains Yunani. Istana di Kairo dalam waktu singkat menjadi rumah bagi koleksi yang sangat besar, dan salah satu pustakawannya adalah penulis al-Shabushti(d. 388/998). Menteri dari al-Aziz, Yaqub bin (illis?) (d. 380/990), mengatur  pertemuan di kediamannya antara cendekiawan, ahi hukum, dan theologist dan menghadiahkan mereka pinjaman finansial, namun inisiatif ini kemudian didominasi oleh Darul Hikmah yang oleh Al-Hakim ditempatkan pada bagian Barat laut dari bagian Barat Istananya. Di dalamnya terdapat perpustakaan dan ruang baca, serta juga menjadi tempat pertemuan bagi tradisionist, ahli hukum, ahli grammar, para doktor, ahli astronomi, ahli logika dan ahli matematika. Darul Hikmah Kairo di-admin oleh  Da’ial-du’at, yang mengundang orang-orang terpelajar untuk berkumpul di sana setiap dua kali seminggu. Hal ini sangat dekat dengan penyebaran doktrin syi’ah, dan bertanggung jawab untuk memberikan instruksi dalam doktrin Isma’ili, yang mana juga disebut dengan hikma sejak masa al Mu’is. Pada 435/1045 sebuah katalog dipersiapkan, mendaftar sekitar 6500 volume karya astronomi, arsitektur dan filsafat. Darul Hikmah ditutup pada akhir abad ke-5/11 oleh menteri al-Aftal, namun al-Ma’mun membuka kembali pada 517 H/1123 M pada bangunan lain  yang terletak di selatan dari bagian timur istana. Sebelumnya pernah dijarah pada 461 H/1068 M ketika perang sipi saat al-Muntasir berkuasa, dan ketika dinasti kekhalifahan Fatimiyah mendekati kehancurannya (567 H/1171 M) perpustakaan Darul Hikmah sekali lagi ditutup. Salahuddin al-Ayyubi menjual harta benda istana, termasuk buku-buku, untungnya beberapa diantaranya dibeli oleh orang-orang terpelajar hingga dapat dilestarikan.

 

 


3.  Inti dari tradisi penciptaan pengetahuan yang hidup dan dinamis

 

Gambar 4: A page from the manuscript of Al-Qanun fi ‘l-tib (The Canon of Medicine) by Ibn Sina, written in the 11th century. It served as the leading medical text in the West for more than five hundred years. © National Museum, Damascus (Source).

 

Ketika Baghdad membuka gerbangnya sebagai ibukota Kekhalifahan Abbasiyah, letak paling strategis pada kota Baghad diperuntukkan untuk perpustakaan kerajaan. Baik kota dan perpustakaan selesai pembangunannya sekitar tahun 765, yang dibangun oleh Khalifah al-Mansur, sekaligus merancang metode penentuan rotasi bumi dan orang penting kedua dalam daftar Kekhalifah Abbasiyah yang menghargai pemikiran dan pembelajaran dibanding lainnya. Kekhalifahan Abbasiyah menciptakan, mengembangkan dan membentuk salah satu periode ilmu pengetahuan yang paling subur dan kaya dalam sejarah manusia.

 

Perpustakaan tersebut secara resmi disebut “Rumah Kebijaksanaan”. Adalah struktur yang sangat monumental, mengakomodasi penerjemah, penyalin, cendekiawan, ilmuwan, pustakawan dan menyimpan dalam jumlah besar volume koleksi dari Persia, Sangsekerta dan Yunani yang membajiri Baghdad. Tidak mengejutkan, Rumah Kebijaksanaan menjadi daya tarik untuk para pencari ilmu pengetahuan dari segala penjuru wilayah Muslim.

 

Jonathan Lyons menuliskan kisah mengenai Rumah Kebijaksanaan, para khalifah yang mendukungnya dan orang-orang yang bekerja di sana, pada tahap yang sangat dinamis dan mengagumkan tersebut.  Dalam daftar yang singkat kita menemukan cendekiawan seperti al-Khwarizimi, seorang ahli matematika muslim yang sangat dikenal dan penemu aljabar; ahli geografi,  al-Mas’udi, yang menjabarkan jalur laut utama menuju Persia, Kamboja bahkan sampai sejauh Semenanjung Malaya dalam  The Book of Roads and Kingdoms, juga al-Kindi, filsuf Arab pertama. Namun Lyons lebih memperhatikan dengan bagaimana perpindahan (ilmu pengetahuan) ke Eropa dan apa yang terjadi di Baghdad serta kota-kota Muslim. Jadi, beliau memfokuskan pada warna-warni penerjemah dan para cendekiawan yang melakukan perjalanan ke Dunia Islam dan mengambil ilmu pengetahuan serta penemuan-penemuan ke Eropa.

 

Adelad of Bath, contohnya, melakukan perjalanan ke Antioka dan Sisillia dalam perburuannya yang dia sebut dengan studia Arabum, Studi tentang Arab. Pioneer awal dari pendidikan bahasa Arab, dia menerjemahkan banyak karya astronomi, termasuk tabel astronomi buatan al-Khwarizmi, yang mana dari karyanya tersebut memperkenalkan sebuah badan dan kosa kata baru dari matematika kepada Barat.  Karya terjemahannya memungkinkan Adelard menuliskan karya ilmiahnya dalam pemakaian astrolabe, yang merevolusi cara pandang Orang Barat dalam memandang alam semesta. Orang Inggris lainnya, Michael Scot, selalu haus akan ilmu pengetahuan orang-orang Islam. Terjemahannya yang sangat detail dari karya-karya Ibnu Rushd dan Ibnu Sina, dikerjakan sekitar abad ke-13, memperkenalkan karya-karya filosofi Yunani dan Arab kepada Barat.

 

Gambar 5: A Muslim and a Christian playing a duet on the lute in 13th-century Spain. This work was dedicated to Alfonso the Wise, the Christian ruler of Castile, Leon, and Galicia. © Monasterio de El Escorial, El Escorial, Spain/The Bridgeman Art Library (Source)

 

Namun ketertarikan pada studi tentang Arab tidak terbatas hanya pada penerjemah dan cendekiawan. Tidak sedikit para penguasa, seperti kaisar Roma Frederick II, menyadari bahwa ilmu pengatahuan Arab adalah sumber kekuatan. Eropa mengetahui bahwa pada ilmuwan Muslim mengembangkan tekhnik navigasi yang sangat canggih; dan buku-buku seperti misalnya karya al-Biruni  The Determination of the Coordinates of Cities dapat menyediakan metode yang akurat untuk menentukan lokasi-lokasi secara geografi. Saat itu hubungan seperti ini-lah yang memotivasi raja yang baru saja naik, sebelumnya wilayah Muslim; Sisilia, Roger II, menugaskan ahli geografi Muslim, al-Idrisi, untuk membuat peta dunia. Peta tersebut selesai pada 1138 , merepresentasikan dunia bagaikan bola yang dipaparkan, atau 180 derajat, mencangkup dari Korea di Timur sampai Pulau Canary di Barat. Al-Idrisi juga menulis teks berkaitan dengan peta tersebut berjudul : Amusements for Those Who Long to Traverse the Horizon, dikenal dengan  The Book of Roger, yang berisi penjelasan mengenai masyarakat, keadaan geografi dan kebudayaan dari pelbagai penjuru dunia.

 

Pemikiran dan pembelajaran Islam mentransformasi keadaan dunia Kristen pada abad pertengahan dengan sangat luar biasa, tulis Lyons. Kata kuncinya adalah import Filsafat alam, cikal bakal ilmu pengetahuan modern, serta ide-ide yang datang bersamanya; gagasan akan universitas sebagai institusi intelektual, sosial dan kultural. Roger Bacon, seorang ilmuwan dan filsuf berkebangsaan Inggris pada abad ke-13, melalukan perjalanan sepanjang wilayah Muslim di Spanyol dengan mengenakan pakaian ala Orang Arab dia juga termasuk yang pertama mengajar filsafat alam di Paris. Tanpa import tersebut, Lyons mengatakan, Renaisan tidak akan mungkin terjadi dan “kemajuan” Orang-Orang Eropa seperti yang kita kenal selama ini tidak akan mungkin tercapai. Ilmu pengetahun Orang-Orang Arab memberikan Orang Eropa identitas ideologi dan intelektual mereka – bahkan, pendapat Lyons, “the West” itself is a Muslim invention.

 

Namun rasa terimakasih Barat kepada Islam diekspresikan dengan sebisa mungkin melupakan hutang budi mereka atas Dunia Muslim. Proses ini dimulai dari para penerus Adelard dan Scot yang memiliki empat tema inti : Islam memilintirkan Wahyu Tuhan, Islam disebarkan dengan pedang, Islam mengajarkan seks yang menyimpang; dan Rasulnya, Muhammad, adalah seorang penipu, seorang anti-Christ. Sehingga dipandang perlu untuk menghapuskan studi tentang Arab dari sejarah dan mengklaim ilmu pengetahuan yang Barat dapatkan adalah warisan langsung dari Yunani. Sebagaimana yang dideklarasikan oleh Petrarch, salah seorang intelektual abad ke-14 yang anti Arab, “I shall scarcely be persuaded that anything good can come from Arabia.” (saya tidak bisa diyakinkan bahwa ada sesuatu yang baik datang dari Arabia). Kepakaran Scott dalam Kajian Arab telah mendorong Dante untuk menjebloskannya ke dasar neraka, bersama para penyihir.

 

Terimakasih atas usaha modern yang tercerahkan, mereka seperti Jonathan Lyons serta lainnya, penilaian yang picik tersebut, yang dibangun di atas antagonisme reliji namun tidak mengakar pada fakta-fakta sejarah, dikoreksi  secara benar.

 

 

4. Contoh orisinalitas dan dampaknya pada Barat

 

Gambar 6: A European copy of al-Idrisi’s map of the world, originally created at the commission of Roger II the ruler of Sicily, in the mid-12th century. © Bibliothèque Nationale de France, Paris (Source).

 

Dalam review pada dua buku yang diterbitkan sebelumnya mengenai Warisan Muslim dan Pengaruhnya terhadap Dunia Iptek, Philip Ball menulis dalam The Sunday Times : “[November 2008], ilmuwan dilaporkan dengan menggunakan teleskop luar angkasa Hubble untuk pertama kalinya dapat melihat planet mengitari bintang selain matahari milik kita. Orbitnya kira-kira sejauh 25 tahun cahaya sekitar salah satu bintang terbesar di langit, dinamakan Fomalhaut. Bukankan itu nama yang “sangat menarik” untuk sebuah bintang bukan? Pastinya nama tersebut bukan diambil dari kisah mitologi, atau…sepertinya diwarisi dari beberapa astronomer Prancis yang terlupakan. Tebakan anda salah, nama itu nyatanya, diambil dari Bahasa Arab fum u’l haut, memiliki arti “mulut ikan”. Dan Fomalhaunt bukan satu-satunya kosa kata yang berasal dari dalam Bahasa Arab – terdapat lebih dari 100 kosa kata lainnya, termasuk Betelgeuse, Aldebaran dan Deneb. Bagaimana Orang-Orang Arab dapat menamakan bintang-bintang?”

 

Jawabnya adalah; Muslim pada suatu titik dalam sejarah pernah menguasai dunia astronomi. Saat itu ilmuwan-ilmuwan Muslim memetakan luar angkasa dan memikirkan dengan sangat mendalam tempat kita (bumi) pada tata surya yang luas, sementara orang-orang Eropa saat itu masih memandang langit dengan tatapan kebingungan. Menurut narasi ilmiah, tongkat estafet ilmu pengetahuan atas astronomi dioper langsung dari Ptolemy Yunani pada abad ke-2 masehi kepada Copernicus pada zaman renaisan. Nyatanya, hampir segalanya yang diketahui oleh Dunia Barat mengenai benda-benda langit pada abad ke-16 diambil dari ilmu pengetahuan bangsa Arab, termasuk karya Ptolemy yang mana diterjemahkan dan disempurnakan pada abad ke-9 dan abad ke-13. Sesungguhnya, cendekiawan Islam tidak hanya membaca karya Ptolemy; mereka juga menambahkan dan bahkan mengkritisi teori Ptolemy, dengan data yang dikumpulkan oleh teropong (observer) bintang yang salah satunya dibangun pada tahun 820-an di Baghdad oleh penguasa “ilmiah” terbesar, al-Ma’mun, Khalifah Abbasiyyah.

 

Astronomi adalah salah satu contoh dari hutang Dunia Barat yang sangat besar atas pencapaian sangat luar biasa ilmu pengetahuan Islam pada masa di mana Dunia Barat masih disebut dengan Abad Kegelapan atau Abad Pertengahan.  Sementara Orang-Orang Eropa masih berjuang sampai paling tidak abad ke-12 dengan teori-teori dasar matematika dan filsafat alam, Kekhalifahan Abbassiyah pada abad ke-8 sampai abad ke-13 mempromosikan rasionalisasi dalam visi Islam yang mana itu adalah tugas sakral untuk  mendapatkan karya-karya dari seluruh dunia. Program ini dicanangkan di atas reruntuhan dan sisa-sisanya kebudayaan Roma dan Hellenik, dengannya Orang Islam memiliki akses langsung pada pusat-pusat seperti Aleksandria, Harran dan semua pusat intelektual dari keseluruhan Timur Tengah. Mereka menyiapkan versi Bahasa Arab dari karya-karya Aristoteles, Euclid, Ptolemy serta Archimedes, serta membangung sekolah-sekolah serta perpustakaan-perpustakaan seperti Rumah Kebijaksaan di Baghdad.

 

Sejalan dengan melestarikan pengetahuan ilmiah klasik, pemikir Muslim juga berinovasi dalam pelbagai bidang: astronomi, optik, kartografi (peta) serta kedoktersan. Kamera kamar gelap misalnya, semacam kamera lubang jarum (pinhole) yang mana pemandangan dari luar diproyeksikan ke atas sebuah tembok di dalam kamar gelap bersamaan dengan masuknya cahaya dari lubang kecil, pertama kali dipelajari dengan eksperimental oleh ahli fisika dan matematika Irak yang berdiam di Mesir yakni Al-Hassan ibn al-Haytham (Alhazen) pada abad ke-11. Roger Bacon kemudian menggunakan alat yang sama untuk mempelajari gerhana matahari, dan pelukis tua dari Van Eyck sampai Vermeer mungkin telah menggunakan metode projeksi tersebut untuk mendapatkan detail mikro yang sangat nyata pada lukisan mereka.

 

Pembuat peta muslim, sementara itu, menggambar outline Benua Eropa yang sangat akurat, juga area Padang Pasir serta India, Pakistan dan daerah-daerah sekitar Asia Selatan sementara Orang-Orang Barat masih membagi-bagi piringan peta dunia menjadi kwadran yang absurd. (Adalah peta buatan Muslim yang memandu Vasco de Gama melampui Cape of Good Hope menuju India pada akhir abad ke-15).  Dan dalam kimia, Arab sangat jauh melampaui usaha tentatif dari dunia klasik, mewariskan kita kosakata seperti alkali dan alkohol, alembik, elixir dan alchemy (kimia). Teori standar dari transmutasi kimiawi metal berdasarkan tulisan-tulisan ilmuwan abad ke-8, Jabis ibnu Hayyan, yang di dalamnya nitric, hidrokhlorik dan asam sulfir (sulphuric acids) – penting untuk praktek kimia saat itu dan sekarang – mulai diperkenalkan.

 

Orang-Orang Islam juga diuntungkan atas hubungan mereka dengan China, darinya mereka mempelajari pembuatan kertas, dan Juga India yang dari sana Orang Islam mendapatkan “penomoran Arab” yang jauh lebih tangguh dari cara “penomoran Romawi” dalam penghitungan aritmatika, bersama dengan konsep nol (zero : nama tersebut diambil dari kosa kata Arab). Ini semua dan penemuan-penemuan lainnya ditularkan ke Barat, ke depannya.

 

Buah manis dari masa keemasan ilmu pengetahuan Islam dirangkum dengan sangat tajam dan menarik dalam buku Jonathan Lyons. Bukunya, The House of Wisdom sangat bergairah dalam melucuti mitos bahwa Islam sangat menentang ilmu pengetahuan, dan bagaimana dia menunjukkan dengan lugas bahwa peradaban Islam sangat haus akan ilmu pengetahuan serta penelitian yang logis.

 

Lebih spesifik fokus buku tulisan Lyon ini adalah cerita tentang bagaimana ilmu pengetahuan membuka mata Dunia Barat pada abad ke-12,  sebuah periode yang saat ini dikenal dengan sejenis renaisan abad pertengahan. Pahlawan buku ini adalah seorang berkebengsaan Inggris yakni Adelard of Bath, salah satu Orang Eropa yang terbuka pikiraanya untuk melihat bahwa mereka harus banyak belajar dari penganut agama selain Kristen. Terlalu sering dianggap sebagai sekadar penerjemah, nyatanya Adelard tidak hanya memberikan Barat pandangan pertama akan elemen-elemen Euclid dan astronomi serta aljabar karya ahli matematikawan al-Khawarizmi (yang namanya dilestarikan sampai saat ini dalam kata algoritma), namun juga seorang pemikir asli yang membantu memperkenalkan Eropa abad pertengahan kepada visi Islam tentang alam semesta yang diatur tanpa campur tangan Tuhan.

 

 

5. Eropa Abad Pertengahan vs. Pencerahan Islam

 

Gambar 7: In November, scientists using the Hubble space telescope reported the first sighting with visible light of a planet circling a star other than our sun. The discovered planet orbits 25 light years away around one of the brightest stars in the sky, called Fomalhaut or Alpha Piscis Austrini (Source). The name Fomalhaut is derived from fum u’l hût (mouth of the fish), the Arabic initial name of this star. Fomalhaut is not alone in having an Arabic origin: there are well over 100 other stars, including Betelgeuse, Aldebaran and Deneb (see FSTC, Arabic Star Names: A Treasure of Knowledge Shared by the World).

 

Mungkin, dalam bab 2 yang berjudul “The Earth is Like a Wheel” (Hidup bagaikan roda) obyektivitas Jonathan Lyons  paling tampak. Di sini penulis menggambarkan  keadaan ilmu pengetahuan, atau lebih tepatnya ke-alfa-an ilmu pengetahuan sekuler, yang memberikan karakter pada Eropa sepanjang Abad Pertengahan.

 

Sebaliknya dengan berkembanganya kemudian tradisi ilmu pengetahuan di Eropa yang bermula sejak abad ke-17, bab ke-dua buku Lyon menjelaskan bagaimana Intelektual Eropa pada Abad Pertengahan mengetuk gerbang tanah Islam yang sangat canggih dan terpelajar. Dia menjelaskan bahwa ayah Fibonnaci mengirimkan dia kepada keluarga Muslim untuk belajar matematika – dia mempelajari pembukan entri ganda yang saat itu belum dikenal di Utara.

 

Ketika biara di Eropa menyimpan beberapa lusin volume, perpustakaan-perpustakaan di Arab menyimpan ratusan ribu buku. Ketika seorang pemimpin Muslim memutuskan untuk mendonasikan buku-buku ke sekolah yang baru dibangun, dia mengirimkan 80,000 buku dari koleksi pribadinya.

 

Adelard of Bath dilahirkan pada 1080 di bagian Barat Inggris. Ayahnya adalah sekutu kuat uskup lokal, dan dia kaya serta terpelajar mengenyam pendidikan tinggi di sekolah Katedral, Prancis. Namun dia mengutuk pembelajaran kontemporer merindukan masa lalu yang ideal, katanya “saya fasih dalam masa lalu dan menyebut modern itu bodoh” (“I judge the ancients eloquent and call the moderns dumb.“)

 

Dia (Adelard of Bathh) tidak memiliki minat dalam menyebarkan agama Kristen, dia mempelajari sampai tuntas Bahasa Arab dan kembali dengan ilmu pengetahuan dari Arab. Kita percaya bahwa dia berada di Antiokhia pada 1114, berdasarkan pada bukti-bukti dia selamat dari gempa bumi. Dia faham untuk menguliti kulit mayat sampai sistem syaraf di balik kulit terlihat untuk mempelajari sistem mereka. 

Dia kembali ke rumah sebagai orang yang berbeda, dia bertekad untuk mengajar murid-muridnya keajaiban yang dia pelajari di Timur. Dia khawatir bahwa murid-muridnya akan menolak ilmu pengetahuan modern yang datang dari dunia Arab arena kekhawatiran dalam benak mereka dan kegemaran yang berlebihan (seperti juga Adler of Bath) pada literatur Yunani klasik. Dia membawa buku kimia yang mengajarkan mewarnai kulit, gelas berwarna dan mewarnai kain menjadi hijau. Dia juga membawa astrolabe, komputer yang paling canggih saat itu, dapat menentukan waktu, menunjukkan arah utara dengan tepat, dan mengukur tinggi bangunan. Sialnya, itu semua dapat dilakukan bila pengguna astrolabe memahami tentang garis lintang (latitude) – karena untuk menggunakan astrolabe harus memasukkan koordinat-koordinat garis lintang.

 

Baca lebih lanjut bab dua ini pada rangkuman berikut : (Bab 2, The Earth is like a Wheel, Hal. 28)

 

“Tujuh tahun sebelum gempa bumi yang menghancukan pondasi moral Pasukan Salib Antiokha, Adelard mengamati lingkungan disekitarnya dan melihat bahwa dunia dalam keadaan yang bobrok. Studi terkininya pada sekolah katedral terkenal di Prancis memberi dia pendidikan terbaik saat itu. Dia menikmati dukungan dan perlindungan dari Uskup Bath yang sangat berkuasa, serta ahli fisika sekaligus cendekiawan Prancis,  John de Villula. Dia mempelajari seni berburu dengan elang, sebagai tanda kebangsawanan dan kenikmatan hidup yang dia dapatkan. Dia juga seorang pemain musik yang sangat ahli, yang bertahun-tahun kemudian masih dikenang ketika dia diundang untuk memainkan cithara, cikal bakal gitar, untuk ratu.

 

“Singkatnya, Adelard of Bath adalah model bangsawan sejati. Ayahnya, Fastrad, salah satu  penyewa terkaya Uskup Bishop dan salah satu pemberi dana senior, memastikan jaminan fasilitas hidup dan kenyamanan untuk putranya. Keluarga tersebut muncul beberapa kali secara acak pada dokumen-dokumen resmi gereja dan negara.  The Pipe Roll, atau akuntan kerajaan, kemudian memasukkan Adelard pada daftar penerima pensiun dari pendapatan Wiltshire, bagian Barat daya Inggris. Tetapi, Adelard muda melihat keuntungan yang sedikit pada dunia kontemporer, dan dia merasa kecewa terhadap dunia pendidikan Barat pada khususnya. . “When I examine the famous writings of the ancients – not all of them, but most – and compare their talents with the knowledge of the moderns, I judge the ancients eloquent, and call the moderns dumb,” dia menyatakannya pada pembukaan essay akil baliknya dan karya pertamanya yang diketahui berjudul On the Same and the Different.

 

“Ketidaksukaan Adelard’s pada term “modern” bisa dimengerti, saat itu di Barat akhir abad ke-11 keadaanya sangat tidak teratur. Kehidupan sehari-hari sangat tidak pasti, dibawah tekanan beban kekerasan yang tidak terkontrol dan ketidakstabilan sosial. Gerombolan tentara bayaran yang kesetiannya bukan pada raja maupun Tuhan, berkeliaran di desa-desa, kata-kata komandan mereka adalah hukum yang berlaku di daerah tersebut. Sepanjang Eropa,  tehnik pertanian primitif tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan populasi yang terus meningkat, sementara undang-undang warisan kuno meninggalkan banyak kemiskinan dan keputusasaan. Kekerasan – diperparah oleh kelemahan otoritas politik pusat dan  lemahnya pengaruh Gereja Katolik – adalah keadaan saat itu. Sebagaimana Uskup Urbanus telah diketahui sebagai pencetus Perang Salib Pertama, pimpinan agama tidak berdaya untuk menahan kekacauan di sepanjang benua. Yang terbaik yang bisa dilakukan gereja saat itu adalah mengarahkan segala gelombang kekacauan tersebut melawan orang-orang non kristiani di Timur.

 

“Bahkan tempat tinggal Adelard yang terencil dipojokan Inggris juga tidak kebal dari masalah. Saat itu baru saja dua dekade sejak penaklukan Normandia, keadaan politik dan sosial yang kacau mewabah di Inggris. Hubungan yang tidak serasi – selama berabad-abad diwarnai dengan konflik bersenjata dan pertikaian – antara yang saat ini dikenal dengan negara Prancis dan Kerajaan Inggris menjadi fitur biasa pada akhir abad pertengahan. Pada saat yang sama, politik, kebudayan dan saling berhubungan erat, dan bahwa tidak heran Adelard dapat mendapatkan pendidikan tinggi di Tours dan bahwa banyak pejabat tinggi dan terkemuka, seperti Uskup Bishop John, berasal dari benua Eropa. Pada 1086, sebagai bocah kecil, Adelard menyaksikan kota asalnya West Country of Bath, termasuk biara yang pernah dibanggakan biarawan jubah hitam, hampir terbakar habis selama kebangkitan perlawanan terhadap pewaris tahta, William the Red [William Rufus]. Perlawanan berharap untuk mengamankan kekuasaan saudara laki-laki William, Robert of Normandy, namun usaha mereka berakhir dengan linangan darah dan kegagalan serta kehancuran. Robert, anak tertua William si Penakluk, kemudian meninggal di penjara kerajaan.

 

 “Keadaan  terasa lebih baik di dalam sekolah-sekolah elit katedral. Kekacauan dan kehancuran yang menyapu bersamaan invasi orang-orang barbar di Kekaisaran Romawi bagian Barat, bermula pada  abad ke-4 Masehi, hampir saja menghancurkan pendidikan formal dan pelestarian ilmu pengetahuan klasik. Penaklukan oleh Orang Islam tiga ratus tahun kemudian menutup isolasi Barat dengan mempersempit akses termudah ke basis Kristen Bizantium di Konstatinopel (sekarang Istanbul), di mana beberapa jejak intelektual Yunani masih dapat ditemukan. Keajaiban ilmu pengetahuan klasik sangat luas namun terlupakan, atau paling tidak terpinggirkan sampai dengan daerah yang paling pinggir dari kesadaran Orang Eropa. Teks-teks tidak ternilai hilang selama ketidakpedulian tersebut, hancur oleh gerombolan buta huruf, atau hanya karena ketidaktahuan dari bakal ilmuwan, atau juga hanya karena ketidakfahaman mereka atas warisan Yunani tersebut. Para aristrokat Kekaisaran Romawi ahli dalam bahasa aslinya, sehingga tidak perlu saat itu untuk terjemahan filsafat Plato, dan Aristotle, keajaiban rekayasa (engineering) Archimedes, atau geometri-nya Euclid. Musnahnya bahasa Yunani sebagai bahasa resmi dalam pendidikan sama dengan artinya ilmu pengetahuan selama ratusan tahun hampir-hampir musnah dari benak kolektif Orang Eropa berbahasa Latin.

 

Gambar 8: Photo of Dar Al-Hekma College in Jeddah, Kingdom of Saudi Arabia. The name of the college refers to the importance of the name to the memory of the Arab people. Dar Al-Hekma College is a private higher education institution. Its mission is to provide selected degree programmes of the highest quality to academically qualified women. The College fosters creativity and emphasizes the important role in society of women as the first builders of the family and the first educators of the nation.

 

“Terdapat beberapa pos terluar – biara yang tersebar di Irlandia, Inggris Utara, Katalonia dan Itali Utara – di mana para biarawan dipekerjakan untuk menjaga tradisi klasik tetap hidup. Namun hasilnya sangat sedikit dibandingkan dengan besarnya skala yang dihasilkan oleh Yunani dulu, atau pada karya baru dan menggairahkan yang dihasilkan oleh Dunia Arab. Pusat studi matetatika terdepan di Barat, the cathedral school of Laon, tidak memiliki hasrat atas pemakaian angka nol. Pimpinan Laon mendidik tekhnik terakhir yang digunakan oleh Raja Henry I, yang memimpin baik Inggris dan Normandia pada awal abad ke-12, untuk mengelola kas-nya. Ini termasuk pemakaian taplak meja khusus, ditandai dalam baris dan kolom seperti papan catur, dan berdasarkan pada prinsip Abakus yang mana telah mencapai Prancis dari Islam-Spanyol beberapa tahun sebelumnya. Taplak meja tersebut dikenal sebagai scaccarium, dari Bahasa Latin yang berarti papan catur, dan asal term Bahasa Inggris untuk treasury, “the Exchequer.”  Mesikipun Laon sangat penting dalam tugas kerajaan, standard pendidikan di Laon tetap sangat rendah; salah satu buku kontenporer mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang konsisten bahkan dalam hitungan-hitungan dasar.

 

“Paling menjengkelkan dibanding akunting kerajaan adalah ketidakmampuan untuk menentukan waktu sehari-hari juga membuat kalender yang tepat. Bahkan dengan standar tidur Kristen abad pertengahan, waktu adalah hal yang sangat penting, dikaitkan dengan pencarian keselamatan surgawi. Peraturan dari St. Benedict yang mana membawahi puluhan ribu biara dari abad ke-6 sampai seterusnya, memerlukan delapan set peribadatan pada waktu-waktu khusus selama dua puluh empat jam. Praktek ini didasarkan pada dua ayat dalam Mazmur 119: (yang inggrisnya / tidak saya terjemahkan) : “Seven times a day I praise thee” and “At midnight I rise to give thee thanks.” Akan sangat mudah di siang hari, ketika perubahan posisi matahari dapat menjadi patokan waktu secara kasar, namun ketika malam biarawan-biarawan dari Latin Barat dibiarkan secara harfiah dalam kebodohan mereka sendiri”.

 

 

6. Endorsements

 

·     ‘A wonderful and important book which for the first time presents the Western debt to medieval Arabic learning in a clear, accessible manner. A fascinating book.’ – William Dalrymple (on the back cover of the book)

 

·     “The House of Wisdom: How the Arabs Transformed Western Civilization is a 320-page treasure trove of information for the uninitiated that packs a powerful punch of science, history, geography, politics and general knowledge at a time when so much disinformation about the Arab world is swirling around in various media.”— Magda Abu-Fadil, Director of Journalism Training Program at the American University of Beirut, on www.HuffingtonPost.com

 

·     “Jonathan Lyons tells the story of the House of Wisdom, the caliphs who supported it and the people who worked there, at a riveting, breakneck pace.”— Ziauddin Sardar, Times (UK)

 

·     “Sophisticated and thoughtful… In The House of Wisdom, Jonathan Lyons shapes his narrative around the travels of the little-known but extraordinary Adelard of Bath, an English monk who traveled to the East in the early 12th century and learned Arabic well enough to translate mathematical treatises into English… Mr. Lyons’s narrative is vivid and elegant.” – Eric Ormsby, Wall Street Journal, New York

 

·     “Jonathan Lyons vividly conveys the excitement young European scholars travelling east must have felt as they glimpsed a dazzling new world of learning.” – Jo Marchant, New Scientist (UK)

 

7. About the author

 

Author and journalist Jonathan Lyons has spent his professional and personal life exploring the shifting boundaries between East and West. After more than 20 years as an editor and foreign correspondent for Reuters — mostly in the Muslim world —, he is now a researcher at the Global Terrorism Research Centre and a PhD candidate in sociology of religion at Monash University in Melbourne, Australia. He lives in Washington DC and teaches courses on Islam and how to cover it journalistically at George Mason University in Virginia, USA. For more information on the author and the book, visit: www.jonathanlyonsportfolio.com.

 

8. Table of contents

 

Note to Readers ix

 

Significant Events xi

 

Leading Figures xv

 

Prologue: Al-Maghrib/Sunset 1

 

Part I Al-Isha / Nightfall 7

 

1. The Warriors of God 9

 

2. The Earth Is Like a Wheel 28

 

Part II Al-Fajr / Dawn 53

 

3. The House of Wisdom 55

 

4. Mapping the World 78

 

Part III Al-Zuhr / Midday 101

 

5. The First Man of Science 103

 

6. “What Is Said of the Sphere …” 125

 

7. “The Wisest Philosophers of the World” 142

 

Part IV Al-Asr / Afternoon 163

 

8. On the Eternity of the World 165

 

9. The Invention of the West 186

 

Acknowledgments 203

 

Notes 205

 

Selected Bibliography 229

 

Index 237

 

9. Resources and bibliography

 

·     Abu-Fadil, Magda, The House of Wisdom: How the Arabs Transformed Western Civilization. Posted February 2, 2009: book review and author interview.

 

·     Al-Khalili, Jim, It’s Time to Herald the Arabic Science That Prefigured Darwin and Newton. Published 3 January 2009 on www.MuslimHeritage.com.

 

·     ‘Awwad, Kurkis, Khaza’in kutub al-‘iraq al-‘amma, in Sumer (Baghdad), vol. ii, 2, 1946, pp. 214-218.

 

·     Buchan, James, Invaders of the mind, The Guardian, 28 February 2009.

 

·     Burnett, Charles, Mont Saint-Michel or Toledo: Greek or Arabic Sources for Medieval European Culture? Published 25 February 2009 on www.MuslimHeritage.com.

 

·     Burnett, Charles, The Appreciation of Arabic Science and Technology in the Middle Ages. Published 16 May 2007 on www.MuslimHeritage.com.

 

·     Burnett, Charles, Tracing the Impact of Latin Translations of Arabic Texts on European Society. Published 1 July 2008 on www.MuslimHeritage.com.

 

·     FSTC, The Impact of Islamic Science and Learning on England: Adelard of Bath and Daniel of Morley. Published 13 October 2004 on www.MuslimHeritage.com.

 

·     Folkerts, Menso, and Lorch, Richard, The Arabic Sources of Jordanus de Nemore. Published 11 July 2007 on www.MuslimHeritage.com.

 

·     FSTC, Muslim Scholars: Muslim Scholars of the Past is a huge list of analytic and historical biographies compiled by FSTC Research Division about famous Muslim Scholars of the past: click to browse through the list, by name or by year.

 

·     FSTC, Scientific Contacts and Influences Between the Islamic World and Europe: The Case of Astronomy. Published 25 January 2007 on www.MuslimHeritage.com.

 

·     FSTC, A Plea for the Recovery of the Forgotten History of Muslim Heritage. Published 10 January 2009 on www.MuslimHeritage.com.

 

·     Recognizing a Decisive Tribute: Islam’s Contribution to Western Civilization. (Review of What Islam Did For Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization by Tim Wallace-Murphy, Watkins Publishing, 2006). Published 4 September 2007on www.MuslimHeritage.com.

 

·     FSTC, How Islam Created the Modern World. (Review of How Islam Created the Modern World by Mark Graham, Amana Publications, 2006). Published 13 September 2007 on www.MuslimHeritage.com.
FSTC,
Remembering the Language of History and Science: When the World Spoke Arabic. Published 1 January 2009 on www.MuslimHeritage.com.

 

·     www.MuslimHeritage.com.

 

·     Healey, John, The Syriac-speaking Christians and the Translation of Greek Science into Arabic. Published 2 April 2007 on www.MuslimHeritage.com.

 

·     Mubaidin, Omar, Tentative Global Timeline of Contacts between the World of Islam and Western Europe: 7th -20th Centuries. Published 19 February 2008 on www.MuslimHeritage.com.

 

·     Khan, Yasmin, Shining light upon light. Published 3 April 2009 on www.MuslimHeritage.com).

 

·     Ormsby, Eric The Islamic Enlightenment: Recalling an era when science and scholarship were prized, Wall Street Journal, 14 February 2009.

 

·     O’Shea, Stephen, The House of Wisdom’ by Jonathan Lyons. A look at the significant impact of the Arabic world on Western civilization, Los Angeles Times, March 27 2009.

 

·     Pinto, O., Le biblioteche degli Arabi nell’eta degli Abbassidi, Florence 1928, pp. 12-14.

 

·     Rifa’i, A. F., ‘Asr al-Ma’mun, Cairo 1928, vol. 1, pp. 375-76.

 

·     Sardar, Ziauddin, “Book Review: The House of Wisdom: How the Arabs Transformed Western Civilization by Jonathan Lyons“, The Times, 22 January 2009.

 

·     Sourdel, D. “Bayt al-Hikma.” Encyclopaedia of Islam, Second Edition, vol. I, p. 1141, column 1.

 

·     Sourdel, D. “Dar al-hikma.” Encyclopaedia of Islam, Second Edition, vol. II, p. 126, column 2.

 

·     The Library of Congress Webcasts, How Arabs Transformed Western Civilization, online video featuring a lecture by Jonathan Lyons at The African and Middle Eastern Division of the Library of Congress on 26 February 2008 (56 minutes).