1001 Years of Missing Martial Art

Artikel oleh Master Mohammed Khamouch. Diterjemahkan oleh : saya. Bila menemukan ungkapan/frase/kalimat yang membingungkan silahkan berkunjung dimana artikel aslinya dimuat pada Sumber : http://www.muslimheritage.com/uploads/1001_Years_of_Missing_Martial_Arts%20.pdf Semua kopirait ada pada penulisnya.Selamat membaca dan semoga bermanfaat. (Iman).
————————————————————————————————————-

 

Oleh : Master Mohammed Khamouch

Pelopor pedagang muslim dan musafir awal berasal dari Arab dan Persia melakukan perjalanan ke China dalam pencariannya untuk perdagangan sutra, menjalani perjalanan sangat jauh dan berbahaya untuk membangun hubungan perdagangan yang akan berlangsung selama berabad-abad kedepan. Hal tersebut menghasilkan peningkatan yang dramatis dalam perkembangan ekonomi didalam komunitas pedagang Muslim, terutama pada kota kerajaan kuno Chang’an (sekarang Xian) bagian dari Propinsi Shaanxi, ujung timur dari Jalur Sutra, pelabuhan laut al-Zaytun dan Guangzhou (Kanton).

Sejalan dengan menetapnya dan menyebarnya Orang-Orang Islam ke seluruh negeri China, perkembangan cepat dicapai dapat terlihat dengan diizinkannya Muslim untuk mengatur urusan mereka sendiri; membangun masjid-masjid juga termasuk menunjuk Qadi’ (hakim) yang diputuskan menurut hukum Islam (syari’ah). Ketika komandan militer An Lu-Shan berontak melawan Kaisar Su T’sung pada 755, permintaan bantuan dikirimkan kepada Khalifah Abbasiyah Abdul Jafar al-Mansur yang dengan segara mengirimkan satu kontingen terdiri dari 4000 tentara yang akhirnya memadamkan pemberontakan dan mengamankan kembali kota tersebut.


Figure 1. A contemporary multicultural scene of the Shaolin Monastery with the Abbot and a senior monk at the back, attentively observing how diligently their foreign disciples (left) apply the art. Shaolin Temple witnessed the rise and fall of dynasties, and experienced both glory and destruction for its great pride, heritage and legacies, that left a discernible influence on world martial arts today. It was once said, “One Shaolin Monk was considered to be worth one thousand soldiers”.

 

Chang’an yang memiliki arti “Kota Damai Selamanya” kembali normal sekali lagi dan melanjutkan kemegahannya dibawah Dinasti Tang (618-907) sebagai metropolis paling berkembang pesat di dunia. Selama periode Tang beragam kebudayaan, ilmu pengetahuan dan kepercayaan yang beragam berinteraksi satu sama lainnya karena itu menarik perhatian bagi banyak cendekiawan Jepang dan Korea yang berharap untuk mempelajari dan mengobservasi “seni” Orang-Orang Cina.

Banyak pahlawan Abbasiyah yang menolong kaisar menerima undangan untuk tetap tinggal di China dan akhirnya menikahi wanita China hal itu memulai proses alami atas integrasi ke dalam komunitas China dengan tetap mempertahankan identitas muslimnya baik garis keturunan umum dan keturunan dari nenek moyang muslim yang dihormati. Dalam bahasa sehari-hari selama berabad-adab leluhur ini dikenal dengan “Hui Hui”, dan membentuk salah satu minoritas Muslim tertua, terjarang dan terlama di dunia. Pola yang sangat berwarna ini disinggung secara implisit dalam al-Qur’an :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku (bermacam bahasa/budhaya dan kulit) supaya kamu saling kenal mengenal(saling bersahabat, saling belajar, berdagang, dan saling bantu membantu dalam berbuat kebajikan). Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS.49:1)

Selama Dinasti Mongol Yuan (1279-1386 M), yang didirikan oleh Kublai Khan, Orang-Orang Islam diberi status spesial dan dikenal sebagau “Da’shma” atau “da’shman” (artinya : orang yang terpelajar), karena kemampuan dan kontibusi muslimin yang luar biasa sebagai negarawan, astronom, astrolog, dokter dan ahli farmasi, arsitek, pengusaha, filsuf, dan penulis. P’u Sung Ling, populer dikenal sebagai salah satu novelis China terbesar, menulis kisah yang dianggap sebagai versi China-nya “1001 Malam”-Arab, dapat diperoleh dalam banyak bahasa.

Administrasi pengadilan kerajaan dan istana Kublai Khan didalamnya termasuk lebih dari tiga puluh pejabat Muslim dicatat oleh Marco Polo (1254 – 1324 M) yang terpesona oleh penguasa yang perkasa. Dari dua belas daerah administrasi delapan diantaranya memiliki gubernur Muslim, selain juga menduduki banyak posisi senior lainnya pada pemerintahan sipil. Orang-Orang Islam juga menjadi penasehat militer sebagaimana juga sebagai ahli seni bela diri serta pengawal yang mengawal karavan selama perjalanan jauh. Ilmuwan Muslim diundang untuk berpartisipasi dalam pelbagai proyek termasuk mengkonstruksi dan menjalankan alat pengamat bintang terkenal di Shensi (Shaanxi).

Banyak Orang Islam terpandang merespon kebutuhan China untuk mengisi kesenjangan yang strategis dan unggul dalam semua bidang. Dua ahli tehnik yang membuat meriam “Hui Hui” (Muslim) adalah Allahuddin dari Mufari, yang kemudian dipromosikan menjadi Deputi Wan Hu; menjadi orang kedua yang membawahi 3000-7000 pasukan. Dan Ismail dari Syria yang diangkat menjadi inspektur kepala pada pabrik meriam “Hui Hui”. Meriam yang dibuat kedua Muslim ini dipakai selama Dinasti Yuan untuk memborbardir Benteng Hsiang Yang di Propinsi Hunei. Kedua ahli teknik ini mungkin salah satu dari beberapa orang yang memanfaatkan bubuk mesiu untuk pertama kali-nya1.

Sayyid ‘Umar Shamsuddin (dikenal dengan Sayyid al-Ajall), sosok yang mulia dan keturunan jauh Rasulullah, menyumbangkan peran yang besar atas pencapaian Dinasti Yuan, dengan anaknya Nasir al- Din aktif berdakwah dan mengajak ribuan orang kembali ke Islam. Sebagai seorang anak dia diserahkan oleh ayahnya (Raja Bukhara) sebagai tawanan kepada Genghis Khan yang membawanya ke Peking dimana dia dididik baik dalam Bahasa China dan Arab. Karena sangat cerdas beliu dapat membaur baik dengan kebudayaan Mongol ataupun China. Pada 1271 beliau ditunjuk oleh Kubilai Khan sebagai Gubernur Yunnan dan dihadiahi anumerta gelar “Pangeran Hsie Yang”. Beliau menyuburkan cahaya baru pada pendidikan, hukum China dan pertanian juga yang pertama membangun kuil Konghucu di Yunnan walaupun beliaua sendiri adalah pengikut Agama Islam yang taat.

Shamsudiin mempelajari tiga jenis buku-buku kuno China, disebut “Buku-Buku Perubahan” (Books of Change) yang diterbitkan pada 909, yang hanya bisa dimengerti oleh sedikit ilmuwan saat itu. Shamsuddin-lah yang memperkenalkan (kembali) “Tai T’si”, simbol Yin dan Yang, konsep kuno yang berpusat pada filosofi Taois dan prinsip kesatuan dari dua kekuatan kosmik2. Ketika dia meninggal dunia pada 1279 di usia 67 tahun banyak yang menghadiri prosesi pemakamannya, dan Orang China non-Muslim membangun sebuah pemujaan untuk menghormatinya dan tugu penghormatan di Guangzhou.

Kekuatan yang saling bertentangan antara Yin dan Yang melengkapi satu dengan lainnya dan yang satu tidak dapat hidup tanpa yang lainnya. Di Barat, term martial arts (seni bela diri) merujuk pada seni perang, diambil dari kata “mars”, dewa perang Romawi3. Punbegitu latar belakang filosofi China atas seni bela diri terdapat pada pepatah umum “Go-Ju”, “Go” berarti “keras” dan “Ju” memiliki arti “lembut. Elemen negatif (Yin) adalah Kung fu yang keras, dan elemen positif (Yang) adalah Kung fu yang lembut.

Terdapat beberapa ratus (secara harfiah) tipe seni bela diri yang berbeda di China, semua berasal dari beberapa cabang yang berbeda. Gaya mereka berasal sebagian besar dari Kung fu eksternal (keras) dan sisanya Kung fu internal (lembut). Kung fu Muslim, bagaimanapun, terbaik dikeduanya baik gaya internal dan yang paling terkenal yakni : ekternal!

Sejak awal peradaban, manusia telah memiliki hasrat akan pertarungan tangan kosong dan peperangan untuk mempertahankan diri dan harta-bendanya. Berbagai macam jenis bela diri yang berbeda berkembang secara alami pada banyak negara dalam perjuangan mereka selama berabad-abad, menggabungkan beberapa tekhnik perkelahian yang mirip dan ditempa dengan nilai-nilai kebudayaan dan spiritual, ditularkan dari berbagai generasi yang memelihara cita-cita keahlian bertarung legendaris dari pendekar pemanah, ahli pedang dan penunggang kuda. Terdapat beberapa bukti sejarah berusia beberapa ribu tahun akan asal muasal berbagai bela diri yang terorganisir (bukan serampangan) telah eksis di Asia Tenggara.


Figure 2. A frozen action depicting Shaolin monks engaged in unarmed combat welcomes new disciples at Shaolin Temple today, reminisc ent of ancient past tradition.

 

Salah satu referensi pertarungan tangan kosong paling tua dipaparkan pada lempengan prasasti Babilonia berusia lebih dari 5000 tahun, yang menggambarkan dua figur dalam pertarungan tangan kosong, menggunakan kuda-kuda dan kontra-bloking (tangkisan) berciri khas seni bela diri Orang Asia4. Objek lainnya ditemukan pada 1975 dalam penggalian arkelogi situs makam di Desa Jiangling, Propinsi Hubei, berasal dari Dinasti Qing (221-207 SM) sebuah sisir kayu yang dihiasi dengan dua pegulat bertelanjang dada, saling berhadapan satu sama lainnya di depan wasit resmi5.

Di China elemen dari seni bela diri mereka, dikenal di Dunia Barat dengan nama populer mereka “Kung fu”, dapat ditemukan kembali jejaknya sampai dengan sekitar 2700 SM di zaman Kaisar legendaris Huang Ti berkuasa, yang bertarung dan mengalahkan lawannya Chi Yuo, menggunakan metode gulat China6. Gulat tersebut berbeda dengan gaya gulat Barat atau Judo, dan dikenal dengan nama Shuai Chiao, atau Shuai Jiao. Gulat yang terdiri dari kombinasi tangan dan kaki tangkisan dan tendangan berevolusi sekitar 700 SM sebagai salah satu sistem pertarungan yang teroganisir paling awal, memiliki ciri yang sama dengan teknik yang ada pada Kung fu7.

Almarhum Grandmaster Ch’ang Tung Sheng (1905-1986), seorang Hui Muslim dari Propinsi Hubei, adalah salah satu ekponen penting dari seni bela diri kuno China, Shuai Chiao. Menurut Matt Mollica (5th Teng), murid senior Grandmaster Ch’ang, “menyerang Ch’ang Tung sheng seperti memasukkan tangan anda ke dalam blender”. Almarhum Ch’ang menerima semua tantangan bertarung dari banyak perguruan lain namun tidak pernah dikalahkan selama setengah abad belakangan.

Dahulu gulat sering dipertunjukkan di depan Kaisar sebagai bagian dari latihan militer, sampai pertarungan tangan kosong berkembang menjadi sistem pertarungan yang kompleks dan sama sekali berbeda. Selama Dinasti Shang (1523-1027 SM) pejuang-pejuang bertarung menggunakan tanduk binatang mempertunjukkan tarian rakyat lalu saling menjatuhkan lawannya ke tanah. Selama Dinasti Chow (kira-kira 1027-256 SM) pada awal zaman besi pemanah dan penunggang kuda didukung oleh semua bangsawan dan cendekiawan dari sekolah filsafat yang saat itu sedang naik daun8.

Seni bela diri, yang bersinar dari Timur Jauh, memiliki pondasi mistik dan spritual yang sangat dalam dan sejalan dengan doktrin dan filosofi kepercayaan Konfusianism, Buddhisme, Taoisme dan pada akhirnya Islam. Islam meningkatkan minat pengikutnya untuk berlatih dan unggul dalam Wu Shu (seni bela diri militer di China), sebagai latihan yang sakral. Ini adalah refleksi dari sebuah hadist Rasul memberikan inspirasi pada Muslim untuk “mencari ilmu, bahkan sampai ke negeri China”.

Sebuah contoh atas bagaimana Rasullah mengaplikasian prinsip yang seperti ini terjadi ketika perang Khondag (parit) pada 5/267 M. Beliau mengadaptasi strategi yang diusulkan oleh Salman al Farisi (seorang Persia), untuk mempertahankan Madinah dengan menggali lubang parit sebagai pertahanan di sekeliling kota. Usul tersebut ditinjau dari manfaatnya bukan atas dasar kesukuan. Strategi semacam itu belum pernah dikenal oleh Bangsa Arab sebelumnya, namun biasa digunakan oleh Bangsa Sasanids (Sassanian) di Persia.

Kepercayaan spiritual memainkan peran yang sangat penting dalam pengembangan keahilan bertarung Timur Jauh seperti yang kita kenal saat ini. Walaupun asal muasal seni bela diri China berusia lebih dari 5000 tahun, sebuah perayaan besar-besaran yang dirayakan satu dekade lalu menandai ulang tahun biksu Shaolin yang ke-1500, di mana studi yang sangat teliti selama berabad-abad dilakukan untuk mempelajari tekhnik bertarung pada binatang dan digabungkan menjadi ketrerampilan jurus bertarung yang unik. Beberapa dari jurus tersebut terukir pada interior maupun eksterior komplek biksu Shaolin, seperti “Lorong Seribu Budha” dimana bekas injakan dan hentakan para biksu selama latihan bertahun-tahun menyebabkan kerusakan (bergelombang/tidak rata) pada lantai bata9.

Beragam pola dari keterampilan bertarung pelan-pelan berubah menjadi senjata berbentuk manusia yang efektif. Gaya Kung fu yang ganas di China lebih populer dengan nama “Tong Lun” sudah ada sejak empat ratus tahun lalu dipenghabisan kekuasaan Dinasti Ming, ketika Master Wang Lang dari Timur Propinsi Shan Tung China mengamati pertarungan antara cencorang (belalang sembah) dan belalang.

Kuil Shaolin Si Lum di China, salah satu pondasi relijius yang paling terkenal di seluruh China, terletak dekat Gunung Songshan, 15 kilometer barat lautnya kota Dengfeng di Propinsi Henan. Dibangun pada 495 M, atas perintah Kaisar Hsiao Wen dari Dinasti Utara (386-354 M) untuk menghormati kunjungan biksu Batuo (Fu Tuo dalam Bahasa China) dari India10.

Figure 3. The author’s martial arts demonstration at the Shaolin Temple’s 1500 th anniversary, was received with a round of applause, and saluted by Chinese television crew members and this young Shaolin monk.

 

Figur legandaris dan misterius Bodhidharma ( P’u-t’i-ta-mo dalam Bahasa China atau Daruma Daishi dalam Bahasa Jepang), keturunan ketiga dari raja Brahmana dan pemimpin keluarga keduapuluh-delapan, meninggalkan Selatan India dan melakukan perjalanan ke Guangzhou, di mana di sana dia dihadiahi pengikut oleh Kaisar Emperor Wu Ti dari Dinasti Liang (502-577 M). Ketika Bodhidharma akhirnya tiba di kuil Shaolin, dalam usahanya mencari pencerahan spritual, dia mulai berkhotbah Ch’an Budhisme kepada murid-muridnya, bersamaan dengan tehnik bernafas dan latihan untuk meningkatkan ketrampilan mereka untuk bertahan dalam periode yang lama dalam meditasi statis. Latihan seperti ini dipercaya menjadi pondasi dari seni bela diri modern, dan ajaran budhanya membentuk dasar-dasar sekolah filosofi Budha baru yang dikenal dengan “Ch’an” di China dan “Zen” di Jepang11.

Lebih dari seratus tahun kemudian, pada 651 M, dimasa Dinasti Tang, sebuah delegasi dikirim ke China oleh Khalifah Usman bin Affan (sekitar 644-656 M) dari Madina, dipimpin oleh Said Ibnu Abi Waqqas (wafat 674 M?) dari Bani Zuhrah, sukunya Aminah binti Wahab ibu dari Rasulullah, tiba di pelabuhan Guangzhoi untuk menyampaikan pesan damai Islam. Said adalah satu komandan dan pejuang yang sangat berani, pertama yang melepaskan busur dalam membela Islam, salah satu pemanah terbaik yang tidak pernah meleset dari sasarannya, dan terkenal karena keberaniannya dan kemurahan hatinya12.

Sebelum perjalanan ke China, beliau telah mengalami pelbagai peperangan bersama sahabat-sahabat yang terkemuka seperti Ali bin Abi Thalib yang ahli dalam memakai pedang dan dihadiahi sebuah pedang yang terkenal bernama “Dhul Fiqar” oleh Rasulullah. “Tidak ada pedang dapat menandingi Dhul Fiqar, dan tidak ada pejuang muda dapat dibandingkan dengan Ali” begitu kata Rasulallah. Ali mendemonstrasikan keberanian yang menakjubkan dalam kemampuannya bertarung, keahliannya dalam memainkan pedang membuatnya dijuluki “Singa Allah” (Asad Allah) dan menjadikannya terkenal serta memiliki pengaruh yang luar biasa pada Muslimin, dari jantung Maroko hingga Barat Laut China dimana penduduk Muslim pertama merancang seni bela diri tongkat (red: toya) yang diberi nama “tongkat (toya) Ali”. Diantara jenis jurus pedang “Jian” (berarti pedang lurus) lainnya, yang eksis di masa lalu, terdapat beberapa jurus seperti jurus “Pedang Qur’an” dan Pedang Sulaiman”13.

Ketika Ali bin Abi Tholib r.a terlibat dalam peperangan, pada perang Khondag dan telah menjatuhkan seorang pejuang musuh ke tanah, ketika hendak membunuhnya, tiba-tiba musuhnya tersebut meludahi mukanya; Ali terdiam dan menahan diri untuk tidak membunuhnya. “Kenapa anda mengampuni saya?” tanya musuhnya. Ali kemudian menjawab :


Kenapa? “Saya tidak mau ditaklukkan nafsu. Semula, saya mengayunkan pedang dengan niat jihad li i’la’i kalimatillah (menegakkan kalimat Allah-Red). Namun setelah muka saya diludahi, keinginan membunuh itu datang dari dorongan nafsu,” ujar suami Fatimah Azzahra itu.

Musuh memandang dengan kagum pada karakter mulia yang dimiliki Ali bin Abi Tholib r.a, bahkan ketika ditawari untuk pergi dengan bebas malah berbalik memeluk kepercayaan Islam.

Iman Ibnu Qayyim al-Jawzi (1292-1350), dalam bukunya “Zad al-Ma’ad”, menekankan pentingnya olah raga dan efeknyaya pada tubuh manusia, bagaimana hal tersebut memberi kekuatan, meningkatkan kekebalan tubuh dan menjaganya dari penyakit. Beliau menjelaskan memperkuat ingatan, pembelajaran juga membaca, sebagaimana juga melatih pendengaran, bicara, observasi serta Juga berjalan seseorang secara bertahap dari lambat hingga semakin cepat. Juga disiplin diri “nafs” (jiwa) dalam hal kebahagiaan, kesedihan, kesabaran dan kestabilan, memafkan, mengasihi sekaligus juga keberanian. Elemen-elemen olah raga yang diperintahkan di atas dapat ditemukan pada inti pengajaran filosofi Orang Asia yang mana membentuk dasar-dasar seni bela diri yang kita kenal saat ini.

Berusaha untuk mencapai kebijakan yang sangat dalam tersebut menekankan kebutuhan akan menyempurnakan dan mengkondisikan tubuh, dan mencapai kesehatan yang sempurna, dilakukan oleh Muslim seluruh dunia sebagai “the way of life” atau “jalan hidup, dalam memenuhi baik kewajiban-kewajiban yang bersifat duniawi maupun ukhrowi (dunia dan akhirat). Kewajiban shalat lima waktu dan tahajud (shalat malam), semuanya membantu untuk merangsang jiwa (nafs) dan tubuh. Kewajian ritual Haji, yang mana menuntut usaha fisik dan mental yang sangat keras, akan menjaga hati dan membantu menjaga tubuh yang sehat. “ A sound mind in sound body ” (dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat) begitu kutipan dari karya penyair Romawi bernama Juvenal yang biasa menulis karya-karya sindirian lebih dari dua ribu tahun lalu 14.

Keahlian Bangsa Arab dalam dunia perpedangan ditunjukkan selama perjalanan pasang surutnya kerajaan-kerajaan Islam, dan saat ini pedang dapat ditemukan di semua bagian dari dunia Islam dari Marakesh sampai Jakarta sebagai bagian dari bendera negara-negara Muslim sampai hiasan dinding. Pada negara-negara Muslim di Asia Tenggara ritual pedang tahunan dilakukan ketika Muharram, bulan pertama dalam kalender Islam yang menandakan datangnya tahun baru, di manan “mata” (pedang, dalam Bahasa Malaysia) atau “wilah” (dalam Bahasa Jawa?) dibersihkan secara ritual. Di Jawa, bulan Muharam juga bertepatan dengan “suro” di mana Orang-Orang Jawa membersihkan Kris (penj. Keris) diiringi dengan bacaan al-Qur’an sebelum memulai prosedur pembersihan, oleh pemiliknya yang berkeinginan mengembalikan kekuatan spiritual dari Keris mereka.

Selama periode 900an seni klasik militer perang China, Sun Tzu, dipelajari oleh prajurit samurai Jepang, yang sebelum akhirnya dapat menggunakan pedang sungguhan dididik dengan pedang latihan bernama Bokken terbuat dari kayu oak merah dengan berat dan keseimbangan yang disesuaikan pedang asli kecuali melukai atau membunuh lawannya. Upacara ritual khusus yang mana diwarisi oleh para master selama berabad-abad, juga dilakukan selama pembuatan pedang Jepang. Takuan , Master besar Zen dan seorang pemain pedang adalah yang pertama mengaplikasikan psikologi Zen dalam dunia perpedangan.

Berbeda dari karakter pedang China “jian” atau mandau Damaskus adalah “Urumi” (Pedang Musim Semi) dari seni orang India; Kalarippayattu, yang terbuat dari sekumpulan empat lempeng baja, yang diasah pada kedua sisinya. Ketika dilepaskan senjata ini memercikkan api yang luar biasa dan menimbulkan kebingungan untuk musuhnya, berputar di udara dengan gerakan melingkar. Sebuah senjata yang mematikan, hanya beberapa yang dapat menguasainya, dapat menebas beberapa penyerangnya bila diputar-putarkan berturut-turut ke udara. Punbegitu, kehilangan kontrol tiba-tiba pada senjata tersebut dapat memberikan nasib yang sama bagi pemiliknya15

Dibawah kekuasaan Dinasti Ummayah (651-750) pasukan Infantri mengembangkan senjata seperti panah, busur dalam kotak (magazine), pedang-pedang dua sisi dan lembing (tombak); mereka juga memakai helm untuk melindungi kepala dan beberapa lapis baju kulit untuk membentengi tubuh mereka. Menurut Ibnu Khaldun (1332-1406), terdapat dua jenis bela diri, pertama dengan menyerang lalu mundur dan lainnya dengan menyerang dengan jarak dekar, sampai Khalifah Ummayah terakhir mengenalkan pasukan kecil yang “compact” berbeda dari pasukan Arab pendahulunya yang berperang berdasarkan lapisan satu atau dua baris.

Master Salahuddin al-Ayyubi atau Saladin (1183-1193) , putra Jendral Kurdi, dihormati oleh Muslim maupun Kristen; seorang pejuang yang patut diteladani, penuh belah kasih dengan rasa keadilan yang tinggi kepada orang yang tidak berdaya. Beliau bertarung dengan sangat berani dan berhasil mengalahkan pasukan Salib (The Crusaders) di daerah Tanduk Hittin dekat Tiberias, dan merebut kembali al-Quds (Jerusalem) pads 1187 , mengakhiri delapan puluh delapan tahun pendudukan Bangsa Franks.

Richard the Lion Heart memamerkan kemampuan bermain pedangnya dengan membelah sebatang baja, dan langsung saja ditantang oleh Salahuddin al-Ayubi, beliau menghunuskan pedang Damaskus terbaiknya (berbentuk sedikit melengkung dan langsing) dan menjatuhkan sehelai sutra di sisi tajam pedangnya yang dengan seketika memotongnya menjadi dua (saking tajamnya pedang yang dimiliki Salahuddin al-Ayubi). Dalam Kung fu jurus-jurus eksternal dan internal memiliki kontras yang serupa seperti kejadian di atas, dimana eksternal adalah aksi yang keras dengan menggunakan kekuatan otot dan lebih cepat untuk dikuasai, daripada jurus-jurus Kung fu internal, yang mana lembut dalam aksi dan memanfaatkan “Chi” tenaga dalam dan butuh bertahun-tahun untuk menguasinya.

Di China, ribuan praktisi seni bela diri dari segala umur memulai hari mereka dengan latihan T’ai Chi Chuan (salah satu yang paling populer digunakan setelah Hsing-I dan Pakua) di taman lokal. Jurus ini selama bertahun-tahun banyak menarik minat orang karena gerakannya yang lembut dan ketenangan pikiran, prinsip dasarnya adalah dengan tidak melawan atau menentang kekuatan musuh, namun lebih dengan memanfaatkan atau membalikkan serangan yang datang melawan dirinya sendiri dalam menahan penyerang.

 

Figure 4. A Double sword attack in a forward (split) position, demonstrated by the author

 

Saat itu prajurit Muslim biasa membawa pedang mereka pada sabuk pundak (penj: mungkin mirip ninja membawa pedang), berbeda dari periode Mamluk dan Salahuddin saat itu membawa pedang di pinggang lebih disukai. Mirip dengan Samura Jepang yang juga menghormati pedang mereka sebelum akhirnya maklumat kaisar dikeluarkan pada 1868, selama restorasi Meiji, yang melarang semua Samurai untuk membawa pedang mereka di muka publik. Bilah pedang pada masa awal China, India dan Malaysia dinilai karena kualitasnya yang tinggi, dianggap sebagai puncak teknologi fungsional.

Pengaruh seni bela diri tidak berhenti sampai di China saja. Dibawa oleh imigran China saat demam emas 1848, seni bela diri menjadi dikenal di Amerika. Karate diperkenalkan setelah Perang Dunia ke-2, melalui interaksi antara pasukan Amerika dan ahli Karate Jepang di daerah pendudukan Okinawa. Setelah perang, sayangnya, karena sibuk membangun kembali ekonomi yang berantakan olahraga tersebut menjadi kurang populer.

Melalui Judo yang belum sempurna; kemudian dikenali sebagai “Jujutsu” atau gulat Jepang, diperkenalkan kepada beberapa negara Eropa selama dekade pertama abad ke-20, namun tidak sampai pada awal 1950an ketika artikel majalah dari Timur Jauh dan Amerika memperkenalkan ide umum tentang Karate untuk pertama kalinya. Punbegitu Jim Alscheik (al-Sheikh dalam Bahasa Arab), berkewarganegaraan Prancis keturunan Turki salah satu praktisi Judo yang memperkenalkan Judo kepada Prancis. Al-Sheikh mempelajari Judo, Karate, Aikido dan Kendo dibawah bimbingan Master Minoru Mochizuki, ketua Sekolah Bela Diri Jepang Yeseikan. Al-Sheikh menyebarkan Karate ke seluruh Prancis dan beberapa negara Afrika Utara sebelum akhirnya tewas ketika terjadi pemberontakan di Aljazair pada 196116.

Pada awal tujuh-puluhan, seni bela diri berkembang dengan sangat pesat, mencapai popularitas global dan digemari pada pelbagai negara walaupun Karate menggunakan tangan kosong dan Tae Kwon Do dengan tentadangan putar yang tinggi. Film-film Kung fi China juga diperkenalkan sepanjang era film klasik seperti “History of White Crane Heroes” dibintangi Master Crane paling terkenal di dunia Kwan Tak Hing dan kemudian “Enter the Dragon” dibintangi Lee Jun Fan (terkenal dengan nama Bruce Lee) (1940-1973) yang sudah menjadi legenda diantara praktisi bela diri sebelum karirnya dalam film, yang menjadikannya dikenal dunia karena mempromosikan prinsip holistik Oriental, di mana sebelumnya diacuhkan oleh pemikir analitik Barat.

Saat berusia tiga belas tahun Bruce Lee mulai berlatih Wing Chun (“musim semi yang indah”), didirikan oleh seorang wanita bernama Yim Wing Chun, lebih dari seratus tahun lalu. Walaupun begitu, Bruce Lee menguasai seni bela diri di bawah bimbingan Grandmaster Yip Man (188-1972) yang sangat terkenal, bapak dari versi modern Wing Chun, serta ketua Asosiasi Athletik Hong Kong. Bruce Lee kemudian mengembangkan “Jeet Kune Do” (Cara Menangkap Ikan), di sini dia menggabungkan beberapa seni bela diri; jepitan, metode tinju, tendangan tinggi dan rendah begitu juga termasuk seni bela diri Islam seperti “Kali” (Arnis, Eskrima). Menurut Bruce Lee, Jeet Kune Do hanyalah sekedar nama dan dia menolak dikatakan menemukan sesuatu yang baru, namun dia berharap untuk membebaskan rekan-rekannya dari batas-batas jurus, pola dan doktrin 17.

Secara retrospeksi, seni bela diri Oriental mengalami perubahan besar dibawah kebangkitan Bruce Lee dari banyak seni bela diri yang berbeda. Untuk mencapai keseimbangan seperti ini dalam seni bela diri Bruce Lee telah mendisain peralatan latihan khusus dan meminjam tekhnik latihan dari banyak negara termasuk India dimana dia meminjam gaya “cat strecth” untuk memperkokoh tekhnik gulatnya, dari “Gama” seorang pegulat Indian terkenal yang mana Bruce Lee baca mengenainya.

Figure 5. A jumping side-kick by the author, used for reaching high targets and one of the most powerful and favorite Strikes of the “Hard” Kung fu and Korean Tae Kwon Do.

 

Sisi filosofi Bruce Lee menuntunnya untuk mendalami dan mempelajari prinsip filosofi dari seni bela diri dan konsep ying yang, dalam hubungannya dengan pertarungan fisik. Lee meraih posisi dalam seni bela diri yang membuat orang-orang dari segala penjuru dunia terpana, terutama Dunia Barat dengan pandangannya yang logis. Dengan segala hormat, hal ini dapat dibandingkan dengan Ibnu Rushdi (1126-1198 M), seorang jenius filsafat yang dikenal oleh Barat sebagai “Sang Komentator” yang karya-karya filosofinya, fakta tak terbantahkan, teori dan kesimpulan pada beberapa isu filosofofi memberikan efek yang sangat mendalam pada beberapa bagian ilmu pengetahun, bagi pemikiran para filosofer baik di Timur dan Timur. Walaupun buah fikirnya ditolak baik oleh Dunia Islam maupun Kristen, keduanya tidak dapat menyanggah kesimpulan filosofinya terutama dalam kurikulum dari universitas-universitas di Eropa.

Seorang sahabat sekaligus murid Bruce Lee dengan tinggi sekitar tujuh kaki tiga inchi juga seorang super atlit bernama Kareem Abdul Jabbar bermain bersama-nya dalam film yang tidak rampung berjudul “Game of Death”. Kareem biasa berdiskusi dengan Bruce menyingkirkan segala batasan dalam mencapai keseresaian jurus Jeet Kune Do sambil menikmati diskusi filosofi, khususnya dalam mengagumi Jalaluddin Rumi (1207 – 1273), seorang ahli kimia yang juga filsuf, dikenal oleh sebagian orang sebagai tokoh dunia mistis yang terkenal8.

Pemegang gelar kejuaraan kelas berat yang melegenda, Muhammad Ali (lahir pada 17 Januari 1942) juga salah satu pengagum Bruce Lee. Ali sangat menyukai seni bela diri Oriental, dan dianugerahi gelar Sabuk Hitam bersertifikat “Dan” di Kukkiwon, berlokasi di Seoul Korea Selatan pada 28 Juni 1976 oleh Dr Un Yong Kim, presiden Federasi Tae Kwon Do Dunia19. Ali juga diterima dengan hangat oleh The White Crane Grand Master Luk Chi Fu di Hong Kong, ketika beliau mengunjungi Hong Kong pada 197920 .

Semangat bertinju Ali mendorong Bruce untuk mengunci diri dalam sebuah ruang dan mempelajari pertandingan tinju Ali dalam rangka menyempurnakan tekhkik sparingnya. Hasilnya, gerakan tinju seperti milik Ali dapat dilihat dalam film “The Way of the Dragon” dalam adegan pertandingan final, melawan Chuck Norris. Bruce juga mempelajari berbagai macam metode pertarungan tangan kosong dan tekhnik toya Kali (Eskrima) dari Danny Inosanto (berasal dari Filipina) seorang pendukung yang berpengaruh, teman dekat sekaligus murid.

Kali adalah seni bela diri pejuang kuno yang muncul dari Filipina, sekumpulan pulau di bagian Laut Cina Selatan. Kepulauan ini berada pada jalur dagang yang makmur sehingga mempengaruhi penghuninya untuk menyerap pelbagai macam pengaruh asing, yang mana khususnya terlihat pada tekhnik pertarungan mereka. Bentuk seni beli diri yang efektif ini dikembangkan pada Bagian Selatan Filipina di mana komunitas besar Filipino Muslim tinggal dan dikenal dengan Moro. Punbegitu, tidak seperti seni bela diri Asia lainnya yang mengajarkan lebih dahulu teknik tangan kosong, Kali menerapkan kebalikannya dimana keahlian senjata lebih dahulu baru kemudian tangan kosong.

Sekitar seratus jenis gaya berbeda di Filipina dikelompokkan di bawah kosa kata “Kali”, dapat dikelompokkan sebagai berikut : Gaya Utara, Timur, Barat dan Selatan. Kali dipraktekkan luas diseluruh Kepulauan Filipina untuk keperluan bela diri, menggunakan sebuah atau sepasang tongkat sederhana, kombinasi atas dua ukuran tongkat; panjang dan pendek, bahkan belati. Kali sangat terinspirasi dari pengaruh kebudayaan Islam Indonesia jauh sebelum intervensi asing. Saat musim perayaan dan upacara penobatan rajaselama kekuasaan Sultan Abu Bakar, penguasa kepulauan Sulu pada 1450, prajurit-prajurit Muslim sering kali mempertunjukkan tarian pedang yang dikenal dengan dabus21.

Punbegitu, seni bela diri Filipina mulai populer dan menjadi pusat perhatian pada 1521, ketika armada Spanyol yang dipimpin oleh petualang berkebangsaan Portugis Ferdinand Magellan mengakupasi Pulau Samar di Mactan. Magellan berusaha untuk merubah keyakinan penduduk Muslim Mactan menjadi Kristen. Dia dan pasukannya terlibat pada banyak pertempuran sejak kedatangannya, dan kemudian akhirnya dikalahkan oleh seni bela diri asli milik penduduk pulau. Walaupun dipersenjatai dengan pedang-pedang dan baju zirah, namun terbukti kurang efektif dibandingakn penduduk asli yang berperang menggunakan tongkat yang dikeraskan dengan dipanaskan. Raja “Lapu Lapu” mengalahkan Magellan dan menjadi pahlawan Filipina yang pertama, serta meraih reputasi master paling utama dari seni bela diri kuno.

Pada pertangahan abad ke-16, Thailand mengalami perpecahan besar Muay Thai (Thai Boxing) pertamanya dari “Krabi-Krabong” ;dari Bahasa Siam yang berarti pertarungan tongkat dan pedang. Pemisahan ini terjadi saat Pangeran-Hitam Naresuan berkuasa yang dimaksudkan untuk mengurangi korban selama latihan Krabi (sejenis Belati dari Thailand)22. Saat itu adalah periode zenithuntuk muslim di Filipina Sulu dan Mindanao yang tercerminkan dalam kemampuan mereka pada abad-abad yang akan datang.

Penemuan terakhir Magellan mendorong percobaan lebih jauh oleh penakluk Spanyol lainnya, yang kemudian mengalahkan penduduk asli dengan senjata api mereka yang superior. Kekalahan tersebut bagi Sultan-sultan Muslim pulau Luzon di Utara membawa konsukensi dengan pemaksaan perpindahan keyakinan dari Islam menjadi Katolik-Roma (Rhoman Chatolicsm) dengan pengecualian; Kepulauan Sulu dan Mindanao, dimana Orang-Orang Spanyol bertemu dengan perlawanan yang luar biasa hebatnya dari Orang-Orang Moro.

Jauh sebelum kolonial Spanyol yang memberikan jejak yang tak dapat terhapuskan pada Filipina dan kebudayaannya, Orang-Orang Filipina telah mengembangkan sendiri sistem pengobatan, astronomi, permesinan dan bahasa tertulis mereka. Legenda menyebutkan bahwa pada abad ke-12, sebuah “bothoan” didirikan oleh sepuluh Datus (kepala suku) dari Kalimantan (Borneo) yang datang dan tinggal di Panay. “Bothoan” adalah pusat sekolah komunitas dimana para Datus mengajarkan para pemimpin suku lainnya seni bela diri Kali, bersamaan juga dengan pelajaran akademis lainnya dan pertanian23.

Kebanyakan bukti tertulis (tentang Bothoan) kemudian dihancurkan oleh penakluk Spanyol yang memaksakan pengaruh mereka terhadap penduduk asli. Hal ini menandakan adopsi metode, terminologi dan konsep baru Kali dengan terminologi : Arnis de mano, berarti “kekuatan tangan” dan dari Bahasa Spanyol “espada y daga”(pedang tipisdan belati) yang mempengaruhi perkembangan dari Eskrima yang diambil dari bahasa Spanyol “Esgrima” berarti “memagari”.

Selama tiga abad pendudukan mereka, Spanyol melarang praktek Kali dan membawa belati bagi penduduk asli. Sebagai respon atas pelarangan ini, “baston” (rotan) atau “bahi” (kayu yang sangat keras) dijadikan pengganti dan dilatih secara sembunyi-sembunyi. Kali berubah dengan radikal setelah abad ke-18 dan 19, di mana metoda lama ditukar dengan konsep petarungan baru. Arnis De Mano disisipkan ke dalam tarian rakyat dan “Moro-Moro“ dipertunjukkan untuk menghibur Bangsa Spanyol, yang tidak pernah memahami gerakan tangan dan kaki dari tarian tersebut adalah jurus-jurus serangan ilmu bela diri tradisional.

Okinawa juga mengalami hal serupa ketika pada awal abad ke-17 pasukan Jepang mengakupasi pulau tersebut. Semua jenis senjata disitadan semua ilmu bela diri dilarang, memicu perkembangan pembuatan senjata berdasarkan model China awal dan kemudian penambahan beberapa senjata asal Asia Tenggara seperti “kama” a sickle dan “nanchaku” terdiri dari dua kayuyang saling diikatkan dengan tali atau rantai (penj: mungkin maksudnya “double stick”), semula digunakan sebagai penumbuk padi, dan dipopulerkan dalam beberapa film Bruce Lee.

Seni pertarungan teknik tangan kosong Filipina lainnya yang tetap bertahan selama pendudukan Spanyol adalah yang digunakan oleh Orang-Orang Islam di Pulau Sulu dan Mindanao memiliki nama “Kun-tao”, yang dikembangkan oleh suku Tausug dari Mindanao, diambil dari gerakan-gerakan binatang dan menggunakan jurus pertarungan lunak maupun keras. Usaha-usaha yang sangat luar biasa untuk menaklukan dan menguasaidan menduduki daerahbarat daya Muslim Filipina karena sumber dayanya yang kaya dan tentu saja termasuk juga logam mulia alias emas, namun usaha-usaha tersebut selalu saja dapat dipatahkan oleh ksatria Moro “Kalistas” (pejuang Kali), yang sangat menempel pada keyakinan Islam mereka dan menjawab dengan “juramentados” (perang suci).

Penguasaan Suku Moro terhadapat Kali mencapai tingakatan tertentu hasil dari latihan yang tekun memungkinkan mereka untuk membidik titik syaraf secara akurat dengan kecepatan luar biasa. Orang-Orang Moro mengasah dan menjaga seni bela diri untuk selama berabad-abad lamanya, dengan menggunakan pelbagai metode sebagai usaha yang berkelanjutan memperlihatkan strategi yang koheren dalam semangat bertarung mereka; sebagaimana merujuk pada salah satu Master Kontemporer Amerika, Danny Inosanto yang menyatakan “Pejuang-pejuang Muslim melawan penjajah Spanyol dengan agama, keberanian dan kemampuan bertarung mereka yang tidak tertandingi24.

Figure 5. A security guard in Manila, standing ready to attack, using two baston (rattan) sticks.

 

Kekuatan pertahanan Muslim Moro memberikan mereka respek dan tetap independen dalam ilmu pengetahuan serta keberanian yang luar biasa dalam keahlian seni bela diri, Kali, yang mana membantu mereka untuk tetap tak terkalahkan. Kali adalah sistem bela diri yang komplit dan merangkul banyak jenis senjata tajam, tongkat dalam berbagai jenis, dan ukuran dari sepanjang kepulauan Pasifik Tenggara. Termasuk juga senjata yang populer seperti “Kalis” atau yang lebih dikenal dengan “Keris”, atau “Barong” pedang dengan panjang 18 inchi dengan satu sisi, keduanya biasa digunakan baik oleh pedagang dari Indonesia dan Moro dan memperkenalkannya kepada Filipina. Salah satu belati paling favorit yang digunakan oleh kalistas disebut dengan “Balisong”atau “Pisau kupu-kupu” sudah ada sejak lebih dari seribu tahun. Banyak “panday” (pembuat pedang Moro) dan para tukangtetap memproduksi berbagai macam belati otentik, beberapa diantaranya adalah replika dari salah satu yang dipamerkan pada Museum Aga Khan di Pulau Mindanao25.

Setelah berakhirnya kekuasaan Spanyol pada 1898 M, akibat dari perang Amerika-Spanyol, Kesultanan Moro Selatan yang tetap setia pada Kekhalifhan Islam di Istanbul terus bertahan. Senjata berkaliber 38 Amerika menghasilkan hasil yang sangat minim dalam melawan logam-logam Kris tempaan Moro, karena itu Orang Amerika beralih ke revolver kaliber 45. Kekalahan serupa juga dialami Jepang ketika menghadapi pejuang Moro yang menggunakan ikat kepala berwarna merah, seperti yang dicontoholeh Abu Dujana, “pejuang berikat-kepala merah” (Kawan), dan bersama-sama melawan sampai titik darah penghabisan26.

Ikat kepala merah dipakai bersama kostum tradisional oleh Eskrimadors, yang juga dipakai oleh pimpinan Jeet Kune Do Bruce Lee protégé, Dan Inosanto dalam film berjudul “Game of Death”. Di Thailand, di mana petarung-nya menyamarkan diri sebagai “petarung spiritual (rohaniawan)”, untuk menaikkan status mereka dari yang dikenal saat itu dengan gladiator modern. Karena itu para petarung Thai Boxer sebelum bertanding dimulai dengan mendapatkan ‘monkhon”, ikat kepala yang keras(mahkota), sebuah benda keramat yang telah diberkahi oleh tujuh kuil Budha, ditempatkan di atas kepala mereka sebelum memasuki arena pertarungan, diikuti dengan ritual tarian sebelum bertanding dikenal dengan “Ram Muay”. Banyak pemain dan pemenang Thai Boxing seperti mantan pemegang gelar Thai lightweight Abdul Sri Sothorn, adalah asli Muslim dan mempertunjukkan penguasaan yang luar biasa atas Thai Boxing.

Tidak seperti seni bela diri Asia lainnya, Kalista Moro disempurnakan dengan disiplin dan pautan ideologi selama setengah abad perlawanan dalam mempertahankan integritas dan kemerdekaan mereka; di mana penguasaan dan akurasi yang sempurna harus dicapai, baik pertarungan dengan tangan kosong maupun dengan senjata yang masih dapat disaksikan sampai saat ini. Semua ini timbul dari kondisi lingkungan khas Filipina.

Beberapa Master Kali terbaik pada abad terakhir ini yang terinspirasi oleh Master Muslim, memperkenalkan dan memberikan kontribusi mereka pada seni bela diri Kali di Amerika. Seperti Master John (dikenal juga dengan Juanito) LaCoste (1887/9-1978), salah satu Master Master Danny Inosanti. Master Danny mempercayai bahwa Master John dilatih pada beberapa daerah di Filipina termasuk Master Kali Moro Selatan, saat itu Master Juanito memakai nama Muslim agar dapat diterima oleh Master Muslim seni bela diri bersenjata belati di Filipina 27.

Praktisi Kali lainnya yang cukup dikenal adalah Grandmaster Floro Villabrille (1912-1992), lahir di Cebu, Visayas. Mempelajari Kali dari paman dan kakeknya ketika kecil dan kemudian merantau ke perkampungan di sana dia menguasai kemampuan Kalinya yang hebat dibawah bimbingan seorang pangeran Muslim buta28.

Arnis modern lebih berdasarkan pada tehnik pergerakan penggunaan tongkat dan tangan daripada bentuk Kali warisan tradisional nenek moyang yang rumit; dimana para master melatih secara rahasia murid-murid yang setia dan terpilih di tempat yang tersembunyi. Saat ini, Arnis diajarkan sebagai mata pelajaran formal pada Physical Education Department of Manila University, dan karena popularitasnya yang semakin bertambah mengundang keingintahuan dari peminat ilmu bela diri Eropa, Australia dan Amerika yang melakukan perjalanan ke Filipinan untuk mempelajari seni bela diri Filipina yang spektakuler baik dari Master Muslim maupun Kristen, untuk membantu menjembatani jurang ilmu pengetahuan dan menambah ilmu mereka atas seni bela diri kuno ini, tidak terbantahkan hal initelah lama dianggap menjadi tulang punggung masyarakat Filipina.

Kerangka spiritual yang terkandung dalam Islam dengan sukses dimanfaatkan oleh Muslim China, yang pencapaiannya berada dipuncak selama beberapa abad lamanya. Mereka mewarisi contoh yang sempurna atas penguasaan mereka dan pencapaian pengetahuan dalam ilmu bela diri dengan menciptakan garis sejarahdan membuka banyak permintaan baik dari Muslim ataupun non Muslim untuk mengikuti dan mempelajari dasar-dasar Kung fu. Kisah menakjubkan dari seorang Master Sufi, yang memiliki kemiripan dengan master Zen Jepang, adalah mengenai Imam Abu al Hasan al Ibnu Abdullah ash-Shadili (1196-1258), yang berhasrat ingin menemukan “Qutb” (sumbu spiritual), atas usianya. Beliau dinasehati oleh Abu al Fatah untuk melakukan perjalanan ke Maroko, dimana di sana akan menemukan Master sejatinya, Sheikh Abdussalam Ibnu Mashis dari Fez, yang hidup dalam pengungsian pada tebung Jabal Alam. Ketika ash-Shadili pertama kali bertemu dengan Ibnu Mashis, beliau diminta untuk mempertunjukkan “ghusl”, dan ketika beliau telah melakukannya, Ibnu Mashis memintanya untuk mempertunjukkan kembali “ghusl”. Sampai ketiga kalinya akhirnya ash-Shadili akhirnya faham, dan berkata “Saya mencuci diri saya dari pembelajaran dan ilmu pengetahuan sebelumnya”. Imam ash-Shadili harus mencuci bersih benaknya dari hambatan akibat ilmu pengetahuan dari masa lalu untuk menerima pencerahan spiritual suci.

Hikmah seperti ini dicontohkan oleh seseorang yang ingin menjadi murid seorang Master Zen. Ketika Masternya mulai berbicara, orang tersebut tiba-tiba memotong pembicaraan Masternya dan berkata “Oh ya, saya sudah tahu itu”. Sang Master mendengar dengan sabar dan akhirnya mengajak muridnya tersebut untuk minum teh bersama. Sang Master kemudian menuangkan teh kedalam cangkir Si Murid dan terus menuangnya hingga penuh dan luber. “Cukup! Stop!”, seru Si murid, “Cangkir saya sudah penuh”. “Tentu saja” kata Sang Master, “Seperti cangkir ini, benak anda penuh dengan opini dan spekulasi anda sendiri. Jadi, bila anda tidak mengosongkan cangkirnya lebih dahulu, bagaimana bisa anda berharap untuk menikmati secangkir teh saya?”. Untuk membantu tubuh merespon dengan cepat terhadapat situasi sekeliling, Orang-Orang Jepang menerapkan prinsip “Mu” (Zen, kekosongan atau kenihilan) untuk membantu praktisi seni bela diri membersihkan benaknya dari segala fikiran.

Kebijakan seperti di atas mengakar dalam benak Orang Islam, sepanjang sejarah Sufi dan persaudaraan yang eksis di China. Karena itu, Sufisme memiliki peran utama dalam menjaga Islam selama repressi berabad-abad, dan terdapat beberapa Tariqah (aliran) Sufi utama yang dianut oleh masyarakat Hui dan memiliki pengaruh yang sangat besar pada aspek filosofi seni bela diri mereka.

Doktrin penting dari kebatinanIslam telah diajarkan dalam kombinasi dengan seni bela diri oleh para Master besar, yang mewariskan kebijakan mereka para generasi penggantinya. Murid-muridmelakukan perjalanan ke seluruh dunia dalam mencari Master-master terkemukayang reputasinya dikenal karena keahlian bela dirinya dan penguasaannya terhadap tenaga dalam. Syeikh SufiHuiterkemuka beberapa kali mengalahkan biarawan Budha dalam pelbagai kontes menentukan siapa yang paling “sakti”. Inspirasi Sufi bahkan membayangi gaya Kung fu Muslim bernama “Qa Shi” artinya Tujuh Pejuang. Qa Shi aslinya diberi nama untuk menghormati tujuh tokoh dunia Sufi sebelum akhirnya berubah nama menjadi “Tujuh Rupa”. Jenis Kung fu ini sangat populer diantara para Muslim yang tinggal di Propinsi Henan dan kemudian menyebar ke Propinsi Shaanxi.

Jenis Kung fu lainnya yang populer adalah Hsing-I Chuan, yang diwarisi dari Master Ma Hsieh Le dan dipraktekkan diantara Muslim China dari Henan. Hsing-I Chuan telah menghilangkan beberapa pengaruhnya pada Kosmologi Kong Hu Cu, dan kemudian dikembangkan dibawah dominasi Muslim; banyak Master-Master terkemuka memasukkanbela diri ini dengan pengaruh Islam dan mempopulerkannya dengan nama gaya Henan29.

Melalui penelitian yang mendalam atas makna sejati “intenal jihad”, para Master Kung fu Muslim berhasil untuk menjinakkanpara musuh dan menyelaraskan energi intrisink mereka, yang mana kemudian memberikan hasil dalam kontribusi atas pengembangan “Ch’i Kung” (tenaga dalam atau “kekuatan kehidupan”) di China, kekuatan universal yang mana dibangun melalui praktek latihan pernafasan yang memupuk dan memperkuat tubuh bagian dalam. Pengembangan seperti ini dilakukan oleh banyak Master Kun fu Muslim yang sampai saat ini masih menjadi referensi kapan saja Kung fu disinggung-singgung.

Ch’i Kung atau Qigong telah dipraktekkan selama berabad-abad oleh banyak master Kung fu, yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencapai dan menyempurnakan tenaga dalam mereka, yang diterjemahkan menjadi “Ki” dalam Bahasa Jepang. Tidak seperti bentuk tenaga dalam China, seni bela diri Islam Pencak Silat asal Indonesia dan Malaysia kebanyakan mencakup baik jenis bela diri “keras” dan “lunak” serta sangat dipengaruhi oleh Qur’an. Penggiat Silat berusaha kerasdalam latihan bela diri mereka untuk mencari “Ilham” atau inspirasi spiritual. Punbegitu, rahasia hakiki darikekuatan tenaga dalam tidaklah terbataspada hanya satu ras tertentu, meski usaha oleh banyak master Kung fu kontemporer yang menunjukkan kemampuan luar biasa untuk membuktikan eksistensi didalam keterbatasan mereka.

Seni bela diri tradisional Silat adalah salah satu sistem yang paling komplit dan rumit yang pernah dikenal dunia, didukung selama berabad-abad oleh beragam etnis dan dominasi spiritual sepanjang kepulauan Indo-Malaysian Archipelago. Sebelum kolonialisme Eropa, banyak dari kebudayaan Melayu dipengaruhi oleh Arab, China, India, Thailand dan Indochina. Pencak Silat (“latihan untuk bertarung”) menyebar sekitar abad ke-4 SM. Menurut legenda asal muasal Silat berasal dari seorang wanita tua sederhana yang pergi mengambil air dari aliran sungai dan menyaksikan duel antara harimau dan burung yang besar. Suaminya kecewa dan dia mencoba untuk memukulnya karena keterlambatannya, namun wanita tua tersebut dengan mudah menghindarinya dengan menggunakan metode yang dia pelajari dari duel dua binatang sebelumnya. Suaminya yang kagum kemudian mintadiajarkan seni bela diri oleh Sang isteri. Cerita ini masih dapat ditelusuri dalam legenda orang-orang Sumatra bahwa beberapa wanita masih menjadi ahli Silat30. Saat ini terdapat cabang yang sangat banyak dari Silat di daerah tersebut.

Kejadian yang sangat luar biasa dapat disaksikan untuk pertama kalinya pada pertemuan Master-Master Silat di Bukittinggi, Sumatra Barat pada Minggu 14 Desember 2003, ketika 79 pendekar Silat Tua (Silek Tuo) yang semuanya berusia di atas tujuh puluh tahun mendemontrasikan seni Pencak Silat kuno, memperlihatkan teknik yang anggun namun efektif penuh dengan semangat dan ketangkasan. Pesilat tertua dalam ajang bersilaturahmi tersebut adalah Master Ibu Inyiak Upiak Palatiang, berusia 104 tahun31.

Salah satu jurus yang paling khas dan sukar difahami dalam Pencak Silat , berasal dari masyarakat Minangkabau, dinamakan jurus “Harimau” karena jurus tersebut meniru gerakan harimau. Karena kondisi yang lembab dan berlumpur posisi meniru harimau menjadi ideal. Sistem pertarungan yang universal dapat digunakan dalam kondisi bagaimanapun, apakah di atas tanah yang kering atau basah dan licin, permukaan lunak, keras atau bahkan lautan. Pesilat Harimau sangat terlatih dengan kaki mereka sehingga mereka dapat menyerang musuhnya secara efektif dengan menendang dan menyapu dengan cara meluncurkan tubuh mereka kedepan dari posisi merunduk sampai ketika musuh dalam jangkauan serangan.

Murid yang ingin mempelajari Pencak Silat halus melalui prosedur negoisasi dengan Masternya sebelum membawa tawaran yang diperlukan. Terdapat lima tawaran ; 1) seekor ayam dipotong dan darahnya dipercikkan di arena latihan, sebagai simbol darah yang mungkin keluar dari murid yang akan belajar Silat; 2) selembar kain kafan untuk membungkus Si murid bila meninggal dalam latihan; 3) sebilah pisau, yang mana menyimbolkan ketajaman yang diharapkan dari si murid’ 4) tembakau untuk Master yang akan dihisap selama waktu istirahat; 5) uang secukupnya untuk Master membeli baju baru bila baju lamanya rusak/robek selama latihan. Permintaan di atas yang sifatnya duniawi biasanya setelah itu dilanjutkan dengan sumpah setia dengan Qur’an yang mana membuat semua murid menjadi saudara 32.

Dahulu Pencak Silat sempat dilarang ketika Belanda berkuasa, namun secara diam-diam tetap dipraktekkan dan dilatih sampai akhirnya diperbolehkan sebagai alat bela diri yang efektif selama pendudukan Jepang pada Perang Dunia II. Silat kemudian menggantikan gerakan senam yang diperkenalkan oleh Belanda, menjadi mata pelajaran wajib selama satu tahun baik bagi Muslim maupun Muslimah, diusulkan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) dan dikokohkan pada 1947.

Malaysia memiliki cerita sendiri berkaitan dengan seni bela dirinya, “Bersilat”, (melakukan pertarungan). Bersilat merangkul baik pertarungan tangan kosong maupun bersenjata, dan dipersembahkan untuk seorang wanita bernama Bersliat yang mendapatkan pengetahuan bela diri tersebut melalui mimpi. Bersilat sebagian besar diambil dari Pencak Silat Indonesia dimana Bersilat memiliki kemiripan dan berkembang menjadi pelbagai cabang33. Punbegitu secara teknis sangat berbeda dan Bersilat terbagi menjadi dua gaya, dikenal dengan “Buah” bentuk pertarungan yang efektif dari Bersilat tidak pernah dipertunjukkan di depan publik dan hanya sedikit dari yang terpilih dapat menjadi murid Bersilat; yang bersumpah untuk merahasiakan ilmu pengetahuan magis mereka. Buah menggunakan teknik kaki yang efektif dan terlihat seperti akrobatik. Gaya lainnya adalah “Pulut” yang memiliki banyak gerakan pertarungan yang realistis dan estetis dan saat ini biasanya dipertunjukkan sebagai tarian dalam upacara-upacara adat dan hari raya.

Tjabang” adalah pentungan besi yang digunakan secara berpasangan bentuknya menyerupai dengan yang biasa disebut oleh Orang Okinawa “Sa”. Mungkin buyut Tjabang aslinya berasal dari budaya Hindu, memasuki Indonesia sekitar abad ke-4 dan ke-534. Tjabang digunakan di Indonesia dan Malaysia oleh para Master Silat, dapat dengan efektif mempertahankan diri mereka dari serangan pedang dan senjata lainnya. “Badik”, pisau belati Melayu dengan bentuk mirip kupu-kupu, adalah simbol perlawanan terhadap penjajah sejak digunakan oleh Raja Haji dari Malaka, seorang pejuang terkenal yang melawan penjajah Belanda yang saat itu sedang jaya-jayanya dengan berani.

Salah satu belati yang paling disegani dan misterius adalah keris. Pejuang legendaris, Hang Tuah, dianggap (oleh Orang Malaysia red.) sebagai yang pertama membawa Keris, yang mana dipercaya oleh sebagian Muslim di Malaysia sebagai benda kerajaan Sultan Perak yang ditempa dari sisa-sisa “baut Ka’bah yang suci di Mekah”35. Keris telah mengbadi pada pemiliknya (masyarakatnya) selama berabad-abad dengan caranya sendiri dan memiliki kekuatan supranatural yang mana dapat menjadi sebuah keuntungan atau sebaliknya. Terdapat kira-kira empat puluh jenis berbeda dari Keris, dan konon katanya bila terdapat bahaya mendekat maka keris akan memperingati pemiliknya dengan bergetar di dalam sarungnya. Walaupun hal supernatural sepeti ini ditertawai oleh Orang-Orang Barat namun kepercayaan seperti ini masih dipercaya dengan sangat kuat.

Dari semua pengaruh asing, kedatangan Islam-lah melalui pedagang Arab yang penuh kedamaian meninggalkan jejak yang tidak terhapuskan pada kehidupan penduduk di kepulauan Nusantara. Menurut catatan resmi sejarah Orang China tertanggal 674 SM, terdapat catatan mengenai pemimpin Arab yang sedang dalam perjalanan menuju pemukiman komunitas Arab di pantai Barat Sumatra36. Tidak seperti Spanyol pada abad ke-16, pemukiman Arab tidak dalam rangka menaklukan atau menggunakan pedang atau juga mengklaim sebagai penguasa atas penduduk asli; malah mereka menawarkan perdamaian serta berbagi kebudayaan dan peradaban kepada masyarakat yang sata itu ditakuti karena salah satu yang paling sadis di muka bumi. Marco Polo (1254-1324) yang menghabiskan waktu beberapa bulan pada pantai Barat Sumatra pada 1292 menjelaskan penduduk asli di Pulau tersebut sebagai penzinah dan pelaku kanibalisme bertolak belakang dari kerajaan Perlak yang terletak di sudut timur pulau Sumatra di mana Orang Islam tinggal37.

Tenaga yang sangat mendalam ini, yang telah ada sejak empat belas abad yang lalu, telah meninggalkan jejak yang tidak dapat dihapuskan pada Dunia Islam. Penelitian mendalam mengungkapkan bahwa Qur’an memberikan Master-Master Sufi pengertian penting akan metafisik dari “ma’rifah” atau “ilmu” dari “al-Btin dan “al-Zhir”, yang secara spiritual memupuk “Nafs” yang eksis bersamaan dengan “al-Ruh”, dikenal dengan “al-Aql al-Awwal” berarti “pengetahuan pertama”

Karena kekuatan Sufi menggabungkan baik Bhakti Yoga dan Jinani Yoga, “Tafakkur: atau meditasi dirasakan oleh banyak Master melalui “Zikr”, benar-benar memperkuat kemampuan “eksoterik” dan “esoterik” mereka dengan mencapai kesatuan dengan Tuhan. Ketika singgah di pulau Maladewa, Ibnu Batutta menceritakan tentang sebuah legenda mengenai kehebatan spiritual oleh Abu al-Barakat pada 1163, seorang yang sholeh dari Maghribi (Maroko), yang menjadi pahlawan karena mengusir setan dengan ayat-ayat suci Qur’an, sementara disisi lain, penduduk asli menawarkan untuk mengorbankan gadis perawan kepada setan. Selanjutnya beliau berhasil mengajak penduduk asli pulau tersebut untuk kembali ke Islam dari Agama Buddha.

Bentuk lainnya lagi dari tenaga dalam diperlihatkan di Jakarta oleh Master Silat pada 1964. Ketika pertunjukkan besar seni bela diri, yang juga termasuk di dalamnya almarhum Master Nakayama seorang figur penting Japan Karate Association dan lainnya mempertunjukkan kekuatan mematahkan kayu mereka. Setelah tepuk tangan mereda, seorang pria Indonesia yang terlihat rapuh membawa sebongkah batu yang sangat besar yang diperiksa oleh Master Nakayama dan Orang Jepang lainnya dan menyatakan bahwa batu tersebut tidak mungkin dihancurkan dengan tangan kosong. Ketika semua orang merasa puas (atas pernyataan Nakayama) pesilat yang rapuh tadi berkonsentrasi selama lima menit, menumpahkan secangkir kopi pada ujung-ujung jarinya, memanjatkan do’a dan tiba-tiba sebuah teriakan yang sangat keras terdengar; diikuti dengan hancurnya batu di hadapan mereka bahkan pesilat yang rapuh tadi tidak menggerakkan tangannya sama sekali38. Seorang ahli Silat dapat menerapkan prinsip yang mirip apabila ingin meluncurkan pukulan, dengan memanjatkan do’a lalu meniup tangannya sebelum memukul lawan, yang akan merasakan efek penuh sebuah pukulan. Hal ini bahkan dapat melukai penyerang dari jarak jauh.

Proses penyebaran Islam mengambil tempat dalam pelaksanaan seni bela diri pada negara-negara Muslim di Asia Tenggara, yang mana pada akhirnya membentuk tradisi kebudayaan mereka. Di China, Kung fu bagi para Muslim mengambil tempat di “Qing Zhen Si” setempat, berarti “Kuil Kemurnian dan Kebenaran (Masjid)”, bukannya Kuil Buddha, serta menggunakan Bahasa Arab dalam latihan Kung fu mereka. Contohnya “Bismillah” digunakan untuk memulai aksi bukannya menghormat dengan membungkuk sambil berteriak “Ki-ai”, sebagaimana yang dilakukan oleh Orang Jepang dalam rangka “pertemuan roh”.

 

Figure 6. A group of Hui Muslim youths demonstrating their Kung fu skills, during a religious (Eid) festival

 

Kung fu dirangkul oleh Hui dan menjadi bagian dari kurikulum madrasah, kehidupan sosial, serta kehidupan agamis, terutama ketika Idul Fitri dan Idul Adha, dan Maulid Nabi. Komunitas Hui berkumpul di sekitar halaman Masjid untuk merayakan hari-hari besar dan dihibur dengan pertunjukkan Wu Shu setelah ibadah ritual dilaksanakan. Termasuk pertunjukkan seperti ini adalah “Hui Qashi Forms” lebih dikenal dengan “Tujuh Pejuang” dan jurus tua milik Muslim “Liuhequan” (enam tinju harmoni) nama tersebut diambil dari enam sisi Peci muslim.

Punbegitu setelah beberapa abad, nama Arab Muslim berasilimasi menjadi kosa kata China, yang pas dengan kebudayaan dua bangsa tersebut, namun ternyata hal tersebut membuat ahli sejarah China luput menyinggung pencapaian Muslim China pada daftar pada catatan sejarah nasional mereka. Beberapa pria Muslim mengambil nama keluarga isterinya yang datang dari keturunan Han, dan lainnya menggunakan nama-nama seperti “Ma” untuk Muhammadi, “Ha” untuk Hassan atau “Hu” untuk Hussain, “Ta” untuk Tahir dan “Na” untuk Nasser, “sha” untuk Salim, dan beberapa nama keluarga seperti “Ma, Sha dan Zha. Terdapat paling tidak tiga belas nama keluarga berasal dari nama Syed Sini. Salah satu nama keluarga yang paling terkenal adalah keluarga “Ma” dari wilayah Cangzhou di Propinsi Hubei. Nama keluarga ini aslinya dimiliki oleh Master legendaris Muhammad Ma ho (Ceng Ho), juga dikenal dengan nama Zeng He (1371-1433 SM), seorang pahlawan angkatan laut setinggi tujuh kaki, penjelajah dan ahli seni bela diri dari Yunnan.

Seorang yang sangat penting sekaligus ahli strategi Militer Kaisar King, Jenderal Qi Jiquang mencatat dalam Jixiao Xinshu Seni Bela Diri Klasik miliknya tentang keunggulan dari tiga Sekolah Bela Diri Tombak yang dipimpin oleh keluaga Yang, Ma dan Sha di masa pertengahan dan akhir Dinasti Ming39. Kemudian, Dinasti Ming juga menyaksikan munculnya gaya “Hui Hui Shi ba zhou”, 18 pukulan-petarung milik para Hui diakui sebagai latihan bertarung yang terbaik, dan kemudian disertakan ke dalam “Huaquan Zongjiangfa”, (Pendapat Seorang Jenderal tentang “Flower Boxing”), ditulis oleh pahlawan Shaolin yang terkenal Gan Fengchi, pendiri “Bak Sil Lum dan Hua Quan (“Flower Boxing”), Gan Fengchi adalah seorang figur yang terkenal dalam legenda China seperti Biarawan Shaolin lainnya dia menentang kelaliman kaisar Qing bernama Yongzheng (1723-1735 SM). Sekolah-sekolah Wu Shu berkembang dengan sangat pesat pada periode pertengahan kekuasaan dinasti Qing, beberapa diantaranya didirikan oleh Master Master Wu Shu Muslim.

Teknik bertarung menggunakan tombak telah diturunkan diantara keluarga Muslim selama berabad-abad dan masih dipraktekkan sampai sekarang. Menurut Guru Besar Ma Xianda (lahir 1932), salah satu empat master Wu Shu yang masih hidup serta termuda dalam meraih “Ninth Duan” (level tertinggi); kakeknya yang juga Master besar Ma Fengtu menegaskan dalam Yoi Lu-nya (List of Games) bahwa keduanya “Ma” dan “Sha”, berasal dari keluarga Muslim. Master Besar Ma Xianda juga mengajarkan Master Goi Xian, yang memainkan peran penting dalam film “Crouching Tiger, Hidden Dragon”, dan Li Lin Jei (Jet Lee), bintang film dari film-film kuil Shaolin dan pemenang dalam lima gelar Kontes Wu Shu Nasional, yang keahliaannya dan keinginan kerasnya menggabungkan performa baik Bruce Lee maupun Jackie Chan.

Pemegang “Ninth Duan” muslim lainnya adalah Master Besar Zhang Wenguang yang dilatih dibawah paman Guru Besar Xianda, bernama Guru Besar Ma Yintu. Salah satu Guru Besar Kung Fu yang meninggalkan jejak kontribusi tidak terhapuskan sepanjang hidupnya dan menjadi harta karun China terbesar pada akhir abad ini, adalah Guru Besar Wang Zipping (1881-1973) yang lebih dikenal dengan “Singa-nya Kung fu China”. Orang Islam China telah dikenal dengan “Hui” sejak Dinasti Yuan di mana saat itu periode Islam di China sedang dalam puncaknya, mereka hidup di empat belas propinsi China dan setiap kota-kota utama China.

Konsentrasi terbesar Orang-Orang Islam terdapat di Ningxia Hui Daerah Otonomi pada Bagian Tengah China. Mereka mengadaptasi kebiasaan dan adat istiadat Orang-Orang China bahkan nama keluarga merekapun diambil dari Bahasa China, mengenakan busana lokal serta peci putih khas Muslim ketika berlatih Wu Shu. Bila busana dan peci putih tersebut dilepas maka mereka benar-benar mirip dengan Orang China lokal (Han).

Walau begitu, Muslim di China mengalami penderitaan selama berabad-abad akibat konflik internal, tekanan-tekanan dan kekejamanakibat invasi asing di China. Karya sejarah Al-Masudi (meninggal pada 957) melaporkan pembataian 120.000 orang, yang kebanyakan beragama Islam. Brutalitas terjadi pada berbagai tirani, terutama ketika dinasti Qing berkuasa (16411-1911). Terjadi tekanan oleh Manchus, bagi kamu minoritas. Orang-Orang Islam berbeda dengan Han, dan penolakan untuk mempelajari Bahasa China menyebabkan ketegangangan antara Hui dan Han, menyebabkan intrik politik Manchus, mempertanyakan kesetian Orang-Orang Islam dan menekan mereka dengan cara yang menyakitkan serta pada akhirnya melarang Busana Muslim, ibadah, masjid serta perjalanan ibadah haji.

Seperti juga nenek moyang Arab mereka yang berani beberapa abad sebelumnya, Muslim di China menolak untuk melakukan “K’o tou” (sebuah gerakan tradisional, menundukkan punggung) untuk Kaisar Hsuan Tsung.Keyakin seperti ini dipupuk melalui ajaran-ajaran agama, dan ditanamkan dalam ajaran Islam, membuka jalan bagi keseriusan dan ketaatan kepada master Wu Shu yang sering juga memainkan peran sekaligus menjadi seorang Imam (teladan).

Secara umum, ketika kosa kata “Kung Fu” (atau Gung fu dalam Bahasa Kanton) disinggung, menjadi sebuah term yang mencakup ratusan jenis seni bela diri milik Orang China. Padahal definisi sejatinya adalah “penguasaan seni bela diri”, “kerja keras atau berlatih”, contohnya adalah keahlian seorang pemanah bernama Imam Muhammad Ibnu Idris ash-Shfi’s (767-820), yang berhasil mengenai target yang sama dengan tepat 10 kali dari 10 sasaran40. Seorang cendekiawan Muslim, yang tidak disangkal lagi menguasai “Kung fu Muslim” sekaligus juga seorang Ilmuawan dan jenius, bernama : Abu Rayhan al Biruni (973-1051) membawa dirinya sampai di China, menghabiskan empat dekade usianya untuk mengunjungi pelbagai tempat dari Dunia Islam, termasuk India dimana dia tinggal di sana lebih dari sepuluh tahun serta menguasai Bahasa Sangsekerta dan Astronomy Hindu. Japa-Yoga dilantunkanoleh para filsuf Hidu saat Al-Biruni duduk bersama dan berdiskusi mengenai kepercayaan Hindu mereka. Ketertarikannya pada seni Yoga India diekspresikannya dalam terjemahan ilmiahnyatentang Yoga Sutra Pantanjali ke dalam Bahasa Arab.

Penjelajah Ibnu Batutta (1304-1369 SM) juga banyak bertemu banyak praktisi Yoga di India. Beliau mendeskripsikan mereka sebagai orang dengan kemampuan yang luar biasa, menjalani diet makanan ketat dan diberikan kedudukan yang tinggi oleh Sultan. Di Srilangka (Ceylon) empat praktisi Yoga menyertai rombongannya dalam perjalanan spiritual tahunan mereka ke “Gunung Serendib” (Puncak Adam). Di China, Ibnu Batutta diterima dengan baik serta beliau mengagumi bakat dan penguasaan seni-seni yang dipertunjukkan masyarakat China. Trompet, bugle (alat tiup semacam trompet, red.) dan drum dimainkan ketika beliau tiba, diikuti dengan pelbagai macam pertunjukkan termasuk akrobat, yang tidak dapat disangkal, merupakan gabungan Wu Shu dan gerakan akrobatik dalam aksinya. Beliau juga melaporkan melihat prajurit wanita dan bodyguards di sepanjang Asia Tenggara, yang mempraktekkan seni bela diri kuno Silat dan Kali.

Di Calicut, India Selatan, yang dari sana Ibnu Batutta berlayar menuju China membawa misi diplomatik, di sana eksis seni bela diri kuno bergaya India Selatan, bernama “Kalarippayattu”, Kalari berarti lokasi peperangan atau tempat, dan ppayattu berarti latihan-latihan. Secara geografi terbagi menjadi gaya selatan dan utara, mirip dengan Kung Fu China dan terdiri dari pertarungan tangan kosong dan bersenjata serta menggunakan jurus-jurus maut untuk menyerang titik-titik vital. Ibnu Batutta mungkin bekerjama karena keahlian bertarung mereka, yang mungkin dapat menyelamatkan nyawanya ketika beliau berlayar meninggalkan Delhi ke China untuk mempertahkan diri dari penyerangnya. Sekitar kurang lebih satu dekade sesudah Ibnu Batutta meninggalkan China, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Zhu Yuangzhang (1328-98 ). Dia adalah seorang yatim piatu yang dibesarkan oleh biara Shaolin, disana dia menguasai seni bela diri yang tampak pada awal karirnya sebagai bodyguard. Kemudian. Zhu menggulingkanBangsa Mongol dan mendirikan dinasti Ming (yang memiliki arti “Cemerlang”) (1368-1644).

Banyak Orang-Orang islam yang mengambil bagian dalam pendirian Dinasti Ming, termasuk Jendral-Jendral terkenal seperti Chang Yui Chong, Hu Da Hai, Mu Ying, Kan Yui, Feng Sheng dan Ding Dexing juga tak ketinggalan para ahli seni bela diri kenamaan yang menjadi bagian dari tentara revolusioner sekaligus sekutu terdekat Kekaisaran Zhu Yuangzhang. Jendral Chang Yuchun disebut-sebut memiliki andil atas pengembangan “Kaiping Qiangfa” yang terkenal (Kaiping Art of Wielding Spear) yang dikenal dengan baik oleh para praktisi Wu Shu bahkan sampai detik ini.

Menurut salah seorang cendekiawan, Jing Chee Tang (Penulis “Sejaran Islam di China), Kaisar Zhu Yuangzhang (Chu Yuan Chan) dan sepupunya, Koh Shiao-Tze, adalah pemeluk Agama Islam. Permaisuri Zhu, Ma, datang dari keluarga Ma dari Chee Men, di Propinsi Anhui, dimana keluarga Ma telah dikenal dengan sangat baik menjadi nama keluarga Muslim sepanjang Dinasti Ming dan Ching. Mr. Jing menambahkan; “ketika seseorang mencapai jabatan nomor dua terpenting di kantornya, cenderung mengenyampingkan agamanya”. Punbegitu,<!–