Piri Reis : World Maps and Kitab I-Bahriye (The Book of Sea Lore)

Artikel oleh Salah Zaimeche BA, MA, PhD. Diterjemahkan oleh : saya. Bila menemukan ungkapan/frase/kalimat yang membingungkan silahkan berkunjung dimana artikel aslinya dimuat pada Sumber : http://www.muslimheritage.com/uploads/PiriRei%27s.pdf Semua kopirait ada pada penulisnya.Selamat membaca dan semoga bermanfaat. (Iman).
————————————————————————————————————-

Piri Reis

World Maps and Kitab I-Bahriye (The Book of Sea Lore)

Author: Salah Zaimeche BA, MA, PhD

Chief Editor: Professor Salim Al-Hassani All rights, including copyright, in the content of this document are owned or controlled for these purposes by FSTC Limited.

In Production: Ahmed Salem BSc

Piri Reis’s World Maps and Kitab I-Bahriye

July 2002

PETA DUNIA PIRI REIS dan KITAB AL BAHRI

sumber :

Introduction

Angkatan Laut Turki terkenal akan perjuangannya dalam membela Islam, dari sekitar akhir abad kesebelas sampai dengan abad keduabelas, dari ujung Barat Laut Mediterania sampai dengan Laut India dan selat Hormuz.1 Namun, terdapat sisi lain dari aktifitas Angkatan Laut Turki yakni kontribusi luas mereka terhadap ilmu geografi dan sains kelautan (nautica) . Aspek ini, seperti juga aspek ilmu pengetahuan lainnya dalam Islam, telah serta merta dilupakan. Hess menjelaskan bawa ahli sejarah Eropa hanya mengambil apa yang datang dari identitas sejarahnya sendiri saja. Pertama-tama Orang-Orang Eropa membongkar kisah-kisah dramatis pelayaran, penemuan mereka, serta kekuasaan kerajaan serta daerah perdagangan mereka, dan hanya berhenti ketika bagaimana Muslim telah mempengaruhi arah sejarah Eropa. Setelah pertanyaan seperti itu terjawabkan, penelitian atas sejarah Islam menjadi tugas yang remeh temeh, spesialisasi disiplin ilmu tertentu, semacam ilmu Oriental, yang hanya menempati tempat paling pinggir dari profesi Sejarawan Eropa.2 Ditambah kesuksesan ekspansi imperial Negara-negara Barat atas kekhalifahan dan kerajaan-kerajaan Islam pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Hess menambahkan, meyakinkan kebanyakan Orang Eropa bahwa ide sejarah Islam, terutama buah karya Sultan-Sultan Kekhalifahan Utsmaniyah, ‘memiliki pengaruh yang minim terhadap Eropa.’3

Walaupun Bress memperhatikan beberapa perkembangan ketika dia menulis bukunya, gambarannya masih dengan apa yang terjadi satu dekade kemudian setelah kematiannya, Brice dan Imber dalam sebuah catatan yang ditujukan kepada Geographical Journal, memperhatikan bahwa walaupun Bagan Eropa mengenai Mideterania telah mencapai banyak topik, tidak ada satupun yang mempertimbangkan secara serius peta-peta yang similiar milik Turki.4 Bahkan lebih buruk, cendekiawan Eropa menolak karya-karya ilmiah Turki karena dianggap berasal dari Italia dan diimpor oleh Kekhalifahan Utsmaniyah, atau dengan kata lain karya ilmiah Orang Italia yang membelot (murtad; berpindah menjadi Muslim), yang Brice dan Imber jelaskan adalah kepalsuan.

Sebenarnya ilmu pengetahuan kelautan Turki sangat canggih saat itu, Hess mencatat bahwa pada 1517 Piri Reis mempersembahkan peta Dunia Baru-nya yang terkenal kepada Sultan, memberikan Utsmaniyah, lebih maju daripada pimpinan Eropa lainnya, deskripsi akurat tentang penemuan Amerika serta detil tentang navigasi diseputar Afrika6. Salman Reis, setahun kemudian, menambahkan lebih banyak ke dalam petanya. Goodrich, dalam karya pioneer-nya, juga berusaha amat sangat untuk membenahi anggapan Orang Eropa, memberikan penghargaan kepada deskrips Kekhalifahan Utsmaniyah tentang Dunia Baru bersama dengan keuniukan, keragaman dan kekayaannya.

FOTO 1 http://www.prep.mcneese.edu/engr/engr321/preis/afet/afet0.htm

Ditengah-tengah kebesaran tokoh-tokoh kelautan Turki, Piri Reis adalah salah satu tokoh dengan warisan teragung-nya. Terdapat dua entri mengenai Piri Reis dalam Encyclopaedia of Islam. Pertama oleh F. Babinger8 dan yang kedua oleh Soucek9.Sejauh ini, Entri oleh Souce lebih lengkap, lebih imformatif dan ditulis dengan sangat kompeten. Bahwa Barbinger-lah, yang juga sudah sangat lama, masih menawarkan sumber-sumber primer bagi peneliti atau orang-orang yang berdedikasi dalam ilmu.

Terdapat entri lebih jauh lainnya mengenai Piri Reis dalam Dictionary of Scientific Biography karya Tekeli10. Dalam web, kontribusi istimewa oleh profession Afetinan, berhalaman-halaman web yang dilengkapi dengan peta kelas satu di http://www.prep.mcneese.edu/engr/engr321/preis/afet/afet0.htm salah satu peta, sebuah peta Amerika Piri Reis sangat glossi di http://www.prep.mcneese.edu/engr/engr321/preis/afet/pmapsm.jpg (sayang kedua URL di atas tidak berfungsi alias broken link. Penej.)

Piri Reis – the Naval Commander

Piri Reis lahir sekitar 1465 di Gallipoli. Dia memulai karir kelautannya dibawah pamannya yang terkenal, Kemal Reis sampai dengan akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16. Beliu ikut berperang dalam banyak pertarungan laut disamping pamannya, dan kemudian juga mengabdi dibawa Khairuddin Barbarossa. Akhrinya, beliau memimpin armada tempur Utsmaniyah berperang melawan Portugis di Laut Merah dan Laut India. Diantara perang-perang tersebut, beliau pensiun dan kembali ke Gallipoli untuk menyusun peta Dunia pertamanya, kemudian pada 1513 dua versi kitab Al Bahri-nya (1521 dan 1526) lalu peta Dunia kedua pada 1528-29. Misteri mengelilingi Piri Reis atas kebisuannya selama 1528, ketika beliau menyusun salinan kedua untuk kedua petanya, dan kemunculan kembalinya pada pertengahan abad ke-16 sebagai kapten armada Kekhalifahan Utsmaniyah di Laut Merah dan Laut India11.

The World Maps

Peta Dunia pertama Piri Reis pada 1512, yang mana saat ini tersisa hanya sebagian kecilnya saja memperlihatkan Atlantik dengan batas-batas pantai-pantai Eropa, Afrika dan Dunia Baru. Peta Dunia ke-duanya dari 1528-29, yang mana hanya seperenamnnya saja yang masih tersisa, meliputi daerah Barat Laut Atlantik dan Dunia Baru dari Venezuela sampai dengan New Found Land begitu juga dengan daerah ujung selatan Greenland. Sebagian dari peta Dunia Barunya Piri Reis ditemukan pada 1929 di Museum Istana Topkapi, dengan tanda tangan Piri Reis di atasnya dan tertanggal Muharram 919 Hijriah (9 Maret-7April 1513) hanya bagian dari peta Dunia saja yang Piri Reis serahkan kepada Sultan Selim di Kairo pada tahun 1517. Cendekiawan Jerman, P. Kahle, menganilisis secara menyeluruh dan penjelesan mengenai peta tersebut12, hasil pengamatannya menyimpulkan bahwa Piri Reis adalah seorang kartografer (pembuat peta. Penej.) yang hebat dan dapat diandalkan. Kahle juga menitikberatkan bahwa gambaran keseluruhan mengenai Columbus telah terdistorsi, hampir pada semua dokumen mengenai dirinya, dan khusunya jurnal selama perjalanan kapal-nya, yang selama ini disimpan adalah jurnal Columbus tidak dalam versi asllinya namun dalam bentuk abstrak dan telah di-edit, kebanyakan dikerjakan oleh Bishop 1314 Las Casas. Jauh setelah Kahle, pada pertengahan 1960an, Hapgood kembali menyinggung mengenai subjek peta Topkapi, walaupun kagum atas kekayaan peta tersebut, dia begitu yakin bahwa kartografer Muslim tidak bisa diandalkan, Hapgood memberikan penghargaan atas peta tersebut pada peradaban maju saat zaman es15. Posisi Hapgood saat ini sepertinya sangat menggelikan, bukan karena penjelasannya yang berapi-api, dan “perluasan” fakta hingga menyentuh dunia fiksi namun juga karena pandangan karya penelitian saat ini dalam sejarah pembuatan peta. Karya-karya terkini oleh Harley dan Woodward, saat ini terbaik dalam bidangnya, memperlihatkan dalam detil yang kaya peran kartografer dan ilmu pengetahuan kelautan muslim yang patut dihargai16. Sebagaimana Kahle temukan, satu penyesalan yang dia ekspresikan, adalah hanya sebagian saja peta Piri Reis ditemukan pada Museum Istana Topkapi dari keseluruhan peta aslinya yang mana termasuk didalamnya Tujuh samudra (Meditrania, India, Persia, Afrika Timur, Laut Atlantik dan Laut Merah) dunia yang sangat luas, dan pada saat-saat permulaannya. Pencarian atas sisa peta sampai saat ini masih belum memberikan hasil17.

Kitab I-Bahriye

Topik Peta Dunia Piri Reis ini sangat menggairahkan, terus-menerus menjadi objek studi; di bawah ini adalah “buah bibir” diambil dari Kitab Al Bahri. Lagi-lagi Kahle, menjadi pendahulu dalam mempelajari karya ilmiah ini dan menghasilkan dua volume18. Karya-nya hanya terdapat dalam Bahasa Jerman, namun terdapat beberapa kontribusi atas subjek ini yang kebanyakan oleh Soucek19. Mantran juga ikut berkontribusi, mencari dalam Kitab Al Bahrie penjelasan mengenai pantai Aljazair, Mesir, Tunisia dan Prancis20. Esin menyusun karya yang bagus mengenai pantai Tunisia21, namun di negara yang terakhir ini adalah penjelasan Soucek yang benar-benar memberikan kepuasan22. Terdapat sedikit kontribusi Italia oleh Bousani yang berisikan tentang pantai Italia23 dan beberapa daerah spesifiknya, pantai Venetian, Adriatik dan Trieste24. Laut India juga menjadi perhatian25. Goodrich juga memberikan informasi bahwa Kementerian Kebudayaan dan Turisme Turki baru-baru ini (1988-1991) menerbitkan empat volume buku seperti di atas26. Dalam buku tersebut termasuk juga faksimil berwarna mengenai manuskrip yang dimaksud, setiap halaman adalah terjemahan tekst Utsmaniyah (Bahasa Arab) ke dalam huruf latin, terjemahana ke dalam Bahasa Turki modern, dan satunya lagi ke dalam Bahasa Inggris27. Kitab Al Bahrie juga memunculkan minat ahli arkeologi, geografi, sejarah dan ahli bahasa28.

Terdapat dua versi dari Kitab Al Bahrie. Versi pertama tertanggal 1521 dan versi kedua tertanggal lima tahun setelagnya. Terdapat banyak perbedaan antara dua kitab tersebut. Versi pertama lebih ditujukan kepada para pelaut dan yang kedua lebih merupakan versi mewahnya; yang mana merupakan menjadi hadiah Piri Reis kepada Sultan Kekhalifahan Utsmaniyah. Dengan ditaburi dengan disain penuh ukir, peta-petanya digambar oleh ahli kalgrafi dan pelukis, bahkan Sultan yang sangat kaya itu melihatnya sebagai contoh pembuatan buku yang sangat luar biasa29. Sampai satu abad setelahnya salinan manuskrip terus dibuat, bahkan cenderung menjadi lebih mewah, benda berharga untuk para kolektir dan hadiah untuk orang-orang penting30. Kemewahan hanyalah sisi lain dari kitab ini, versi ini juga memberikan penjelasan yang baik atas fakta-fakta tentang maritim seperti misalnya tentang badai, kompas, bagan portolan (adalah bagan navigasi modern awal, mulai dikenal pada abad ke-13 atau sesudahnya, dalam manuskrip biasanya dengan garis yang memotong meridian, pantai-pantai, dan nama-nama tempat. Penej.), navigasi bintang, samudra-samudra dunia, serta daratan yang berada disekitarnya. Menariknya, kita ini juga merujuk pada penemuan Orang Eropa, juga masuknya Portugis ke Laut India dan penemuan Dunia Baru oleh Columbus31. Versi ini juga memasukkan duaratus sembilan belas tabel-tabel detil Laut Mediterania dan Laut Aegean, serta tiga bagan lainnya mengenai laut Marmara tanpa teks32.

Saat ini terdapat tiga puluh manuskrip Kitab Al Bahrie yang tersebar pada perpustakaan-perpustakaan Eropa. Kebanyakan manuskrip (dua pertiganya) adalah versi pertama. Soucek memberikan informasi yang bagus mengenai keberadaan kedua versi tersebut33, diantaranya :

Versi Pertama :

Istanbul Topkapi Sarayi, Bibliotheque, ms Bagdad 337

Istanbul Bibliotheque Nuruosmaniye, ms 2990

Istanbul Bibliotheque Suleymaniye, ms Aya Sofya 2605

Bologna, Bibliotheque de l’Universite, collection marsili, ms 3612.

Vienna, Nationalbibliothek, ms H.O.192.

Dresden, Staatbibliothek, ms. Eb 389.

Paris, Bibliotheque nationale, suppl.turc 220.

London, British Museum, ms. Oriental 4131.

Oxford, Bodleian library, ms Orville X infra.

USA, private collection.

Versi kedua :

Istanbul, Topkapi sarayi, Bibliothque, ms. Hazine 642.

Istanbul, Bibliotheque Koprulu Zade fazil Ahmad pasa, ms. 171.

Istanbul, Bibliotheque Suleymaniye, ms Aya Sofya 3161.

Paris Bibliotheque nationale suppl. Turc 956.

Nautical instructions in Kitab I-Bayrye

Kitab Al Bahrie diterjemahkan oleh Hess dengan judul Book of Sea Lore34, yang lebih dikenal oleh publik sebagai sebuah portulan, i.e; sebuah contoh untuk panduan instruksi kelautan untuk para pelaut, memberikan mereka pengetahuan yang baik mengenai pantai Mediterania, pulau-pulau, terusan-terusan. Selat-selat, pelabuhan, di mana harus berlindung ketika laut sedang tidak bersahabat, dan bagaimana menepi pada pelabuhan, jangkar, dan juga memberikan pengetahuan tentang arah serta perkiraan jarak antara lokasi dan tempat35. Kita ini adalah satu-satunya portolan terlengkap, menurut Goodrich, mengenai dua laut (yakni laut Mediterania dan Eagean) yang pernah dibuat, dan meliputi keduanya, baik dalam teks maupun bagan, selama lebih dari dua ratus tahun perkembangan oleh cendekiawan dan pelaut Mediterania36. Sementara ini Brice mengamati bahwa Kitab Al Bahrie memberikan set terlengkap yang kita kenal jenis skala besar survey terperinci mengenai bagian-bagian pantai yang mana menggabungkan tumpang tindih dan pengurangan menjadi skala standar, yang digunakan sebagai dasar untuk outline portolan Mediterania37. Dan dalam pembukaan-nya, Piri Reis menyinggung dia memiliki disain awal peta Dunia yang berhubungan dengan penemuan yang terjadi pada saat itu. Di laut India dan China, penemuan yang tidak diketahui oleh siapapun di daerah Rum38. Beliau juga membeberkan alasan kenapa dia menyusun kompilasi-nya39, yaitu :

“Allah SWT tidak menghadiahkan kemungkinan menyebut semua hal yang disinggung sebelumnya (i.e tempat-tempat yang dilestarikan dan dihancurkan, pelabuhan-pelabuhan serta perairan disekitar pantai dan pulau-pulau Mediterania, dan karang serta perairan dangkal) dalam sebuah peta karena peta adalah sebuah ringkasan ketika semua telah ditentukan dan ditakdirkan. Karena itu ahli dalam sains ini telah menggambar apa yang mereka sebut dengan sebuah ‘bagan’ dengan sepasang kompas dan berdasarkan skala per-mil, dan dituliskan langsung diatas sebuah perkamen (‘kertas’ terbuat dari kulit, penej.). Karena itu hanya tiga hal yang cukup dimuat dalam ruang skala seper sepuluh mil, yakni tempat yang areanya tidak lebih dari sepuluh mil. Dalam perhitungan ini hanya sembilan titil yang muat dalam berskala tiga puluh mil. Karena itu tidak mungkin untuk mengikutsertakan dalam peta terlalu banyak simbol-simbol, seperti simbol yang mewakili tempat yang dilestarikan dan ditinggalkan, pelabuhan-pelabuhan dan perairan, karang dan perairan dangkal, terletak disisi mana berada pada pelabuhan yang sebelumnya telah disebutkan, untuk angin yang bagaimana pelabuhan tersebut cocok dan lawannya, berapa banyak kapal yang mampu ditampung pada pelabuhan tersebut dan seterusnya.

Apabila ada yang keberatan dan berkata “mungkinkah untuk meletakknya pada beberapa lembar perkamen?” jawabnya adalah bahwa perkamen tersebut akan sangat besar hingga akan sangat tidak mungkin dipergunakan di atas kapal. Untuk alasan inilah, kartografer menggambar diatas perkamen sebuah peta, yang mana dapat dipergunakan untuk hamparan luas dari pantai-pantai dan pulau-pulau besar. Namun dalam ruang yang terbatas mereka (peta) akan menunjukkan jalan.’

Dan apa yang Piri Reis catat pada Kitabnya akan menyuplai detail yang cukup untuk mengurangi ketergantungan akan seorang penunjuk jalan (Inggrisnya “pilot” yang diartikan oleh dictionary.com Seseorang yang, walaupun bukan menjadi bagian dari perkapalan, namun memiliki izin untuk mengarahkan sebuah kapal meunju atau keluar pelabuhan dan/atau melalui perairan yang berbahaya, red.), halaman ini juga memperlihatkan kemiripan dengan portolan Medeterania skala kecil, kitab Piri Reis dirancang untuk mengatasi kekurangan dari portolan Mediterania40.

Isi kitab Al Bahrie disusun dengan bab-bab, 132 diantaranya dalam versi pertama dan 210 lainnya dalam versi kedua. Setiap bab disertakan dengan peta pantai atau pulau yang sedang dibahas. Dalam artikel tulisan Harley, begitu juga tulisan Soucek, peta-peta dan bagan-bagan pulau Khios, Pelabuhan Novograd, kota Venice dan Pulau Djerba dan seterusnya digambarkan dengan peta yang begitu indah dalam Kitab Al Bahrie dan seterusnya….41 saat itu memang Piri Reis berulang kali menekankan bahwa peta dan teks saling melengkapi42. Pada beberapa bagian, Piri Reis mengikuti para pendahulunya termasuk didalamnya Bartolomoeo de la Sonetti (dia sendiri sering kali mendapatkan dirinya terinspirasi oleh sumber-sumber Islam sebelumnya). Walau demikian, secara keseluruhan Piri Reis membawa banyak kemajuan43. Pada Salinan Walters Art gallery of Baltimore di USA (W.658), yang memasukkan enambelas suplemen peta menarik banyak perhatian oleh Goodrich44. Map satu, dua, tiga dan empat menggambarkan keindahan yang luar biasa, dan map tiga (f.40b) adalah Peta Dunia dalam dua bagian setengah bumi, muncul dalam manuskrip Kitab Al Bahrie. Lebih jauh, Goodrich mengamati45, peta ini similar dengan “Mappe Monde” tahun 1724 oleh Guillaume de L’isle46. Map empat (f.41a) adalah Peta Dunia Oval dengan laut Atlantik ditengahnya. Goodrich juga mencatat47 bahwa peta selanjutnya (dari 1601), dua bagian peta dunianya Anoldo di Arnoldi, sebuah proyeksi oval bernama `Universale Descrittone Del Mondo’ sangat mirip dengan peta buatan Piri Reis48.

Kekayaan informasi yang berada dalam Kitab Al Bahrie dipaparkan dengan jelas dalam serangkaian artikel tentang pantai-pantai Mediterania. Pantai Prancis49, disini dirangkum dengan singkat, mencakup empat peta, menggali tentang beberapa lokasi penting seperti Nice, atau Monaco yang diamati Piri Reis, menawarkan kemungkinan-kemungkinan untuk membuang sauh. Garis pantai dan pelabuhan Marseiles mendapatkan perhatian lebih, menurut berita dari titik inilah Angkatan Laut Prancis diorganisasikan dan diluncurkan. Pada Daerah Languedoc dari Cape of Creus sampai Aigus Mortes didata dengan setiap detil kecilnya, termasuk didalamnya ; garis pantainya, jalur air, pelabuhan, jarak dan banyak lainnya. Kitab Al Bahrie karena itu menawarkan, tidak hanya informasi akurat kepada pelaut namun juga gambaran tempat-tempat pada era yang telah lama berlalu kepada pembaca dan peneliti.

Pantai bagian selatan Mediterania, sebaliknya, mendapatkan perhatian lebih besar dalam Kita al Bahrie. Di sana terdapat pangkalan militer Turki yang dipimpin oleh Kemal Rais, termasuk juga Piri Reis sendiri. Penjelasan tentang pantai Tunisia, secara khusus pantas mendapatkan pertimbangan khusus. Penelitian Mantran50 walau masih kurang layak dibanding penelitian Soucek yang dalam hal ini lebih diandalkan51. Soucek menggunakan term Tunisia namun menyadari bawah Ifriqyah lebih tepat (catatan 16, Hal. 132) sebagai pokok pembicaran yang terpapar dari Bejaia (saat ini menjadi bagian Aljazair di bagian Barat) sampai dengan Tripoli (Libya) di barat. Saat itu, walaupun kedua daerah tersebut di bawah kekuasaan dinasti Hafsid, Muslim di Afrika Utara, sebagai penguasa, menerima Orang-Orang Turki sebagai sekutu daripada musuh (hal. 130). Saat itu, penduduk di Afrika Utara terus menerus berada dalam ancaman perompak Eropa, yang sering kali datang dengan menyamar sebagai Muslim dalam upayanya menculik Orang Islam (catatan 4, hal. 161). Pelaut Turki menggunakan pantai selatan ini sebagai tempat peristirahatan selama perjalanan mereka ke utara dan ke barat, dan sering kali berlabuh pada salah satu dari pelabuhan atau pulau-pulau, dan dengan cara inilah Piri Reis menjadi familiar dengan pantai-pantai disekitar daerah tersebut (hal. 130)52 . Pertama kali menjelaskan Bejaia, dia menyatakan bahwa Bejaia adalah benteng yang cantik terletak di tebing gunung yang diselimuti dengan pepohonan cemara dengan satu sisi di atas pantai. Penguasa kota disebut Abdurrahman, pemegangnya posisi tersebut memiliki hubungan keluarga dengan Sultan Tunisia, saudara jauh dari Umar bin Khatab(hal. 149). Piri Reis mengamati dari semua kota di Maghreb, tidak ada yang memiliki pemandangan sebanding dengan kota ini. Piri Reis pastilah pernah melihat dan sangat terkesan dengan istana-istana Hammadite sebelum akhirnya istana-istana tersebut dihancurkan oleh bangsa Spanyol ketika mereka mengambil alih kota tersebut (catatan 2 hal. 160). Ketika bangsa Spanyol akhirnya benar-benar menguasai kota pada 1510 mereka memaksa penduduk kota untuk mengungsi ke gunung, menduduki sebagian wilayah kota dan menghancurkan sisanya (hal. 151)53. Piri Reis bergerak ke Jijel dan daerah sekitarnya yang kesemuanya dibawah kekuasaan Bejaia (sebelum ditaklukan Spanyol), dibawah perlindungan Aroudj Barbarosa (hal. 157). Lebih jauh ke timur, perhatian Piri Reis tertarik pada Stora (saat ini bagian dari Skikda), reruntuhan bentengnya, sungai yang lebar mengalir di depan pelabuhan dan perairannya. Piri Reis mencatat, seperti berada di sungai Nil. Sebelum menyebarang ke daerah yang saat ini dikenal dengan Tunisia, Piri Reis mencatat keberadaan singa-singa pada daerah Bone (Annaba) (hal. 169), sering kali manusia menjadi korban kebuasannya54. Piri Reis memulai menjelejahi Tunisia dimulai dengan Tabarka, sisi barat menarik banyak pehatian sebagai tempat membuang sauh yang aman, dan dapat dinavigasikan dengan perairan yang cukup dalam. Selatan pulau Calta (Galite), Piri Reis mencatat bahwa daerah tersebut sangat bahaya ketika musim angin utara. Piri Reis menekankan bahwa pulau ini mengandung air tawar dengan kualitas luar biasa “rasanya seperti air-mawar”, (hal. 177), dan juga terdapat kawanan kambing yang sangat banyak55. Pada sisi lainnya, Bizerte dikenal karena bentengnya yang kokoh, pelabuhan yang bagus untuk buang sauh dan melimpah dengan ikan-ikan (hal. 185). Lebih jauh, di Tunisia, iklimnya adalah salah satu hal yang membuatnya menarik termasuk juga dengan perdagangannya, penguasa dan persaingannya. Kota ini memiliki lima puluh ribu rumah, setiap dari rumahnya “memiliki kemiripan dengan Istana Sultan” (hal. 197), serta kebun-kebun dan taman-taman disekililing kota. Dalam setiap taman ini, terdapat rumah peristirahatan (villa) dan kios (toko-toko), kolam dan air mancur serta aroma melati memenuhi atmosfir. Juga terdapat banyak kincir air dan begitu banyak buah-buahan sehingga orang-orang sudah tidak terlalu perduli pada buah. Kota ini saat itu didatangi oleh pedagang Venicia dan Genoa penuh dengan barang dagangan dalam kapal mereka, mereka membuang sauh sembilan mil di depan kota (hal. 197). Pelabuhan Tunisia sendiri adalah sebuah pelabuhan yang menghadap ke utara , tempat membuang sauhnya, seperti yang dijelaskan oleh Piri Reis; sedalam tujuh depa, dengan dasar perairan yang rata dan kokoh. Pengamana lebih jauh atas pelabuhan ini dari armada musuh dengan penjagaan menara dan meriam diatasnya. (hal. 199). Di Cape Cartage, juga dikenal dengan Cape Marsa, area buang sauh sangat aman dan semua kapal dapat berlabuh di mana saja. Namun, bahaya terdapat disekitar pulau Zembra, yang mana sangat terbuka khususnya atas angin selatan, seringkali karang-karang tidak tampak karena tertutup air, dasar perairian yang rata dan pasir putih (hal. 201) dapat mengelabui. Sepanjang pantai Hammamet, lautnya memiliki perairan dangkal, dasar yang rata serta pasir putih. Kedalaman laut lepas, sejauh satu mil daro garis pantai, adalah sekitar empat sampai lima depan (hal 219). Lanjut ke Sousse, Piri Reis menjelaskan sebuah benteng besar di pantai yang menghadap laut utara; di depannya terdapat pelabuhan yang dibangun oleh para kafirin; pemecah ombak buatan manusia, sebagaimana yang terdapat pada pelabuhan Khios, untuk melindungi sisi lainnya. Punbegitu, perairan ini terlalu dangkal untuk kapak besar (hal. 221). Pulau Karkena menawarkan kondisi berlabuh yang sempurna terlepas dari badai yang parah; karena itu menjadi lokasi yang ideal untuk menepi (hal 235). Begitu juga dengan Sfax. Di sekitar Karkena Piri Reis menjelaskan, sayangnya, terdapat ancaman terus menerus dari bajak laut eropa khususnya pada perairan dalam dimana mereka dapat melancarkan serangan dengan kapal mereka yang besar. Pada semua tempat disekitar pulau Djerba menjadi pusat perhatian (hal. 251-267). Piri Reis menjelaskan dengan sangat rinci mengenai penduduk pulau tersebut, sejarah, cara hidup, ekonomi, dan tentunya, kondisi perairan pada daerah dekat dan sekitar pulau. Termasuk tempat untuk berlabuh, keadaan alam saat itu, air pasang, dan resiko-resiko untuk pelaut. Ketertarikannya atas Djerba adalah hasil dari kunjungan sebelumnya, ketika bersama pamannya Kemal Reis, melaksanakan misi penyelamatan pengungsi Muslim dan Yahudi dari pembantaian saat penaklukan kembali Spanyol oleh Orang Kristen56. Sekarang memasuki Libya, perhatiannya terpusat pada Tripoli (hal 251-267), sejarahnya, perdagangannya dan pelabuhannya yang berkembang. Piri Reis mengindikasi bagaimana untuk berlayar di sana dengan menggunakan gunung-gunung sebagai patokannya. Membuang sauh pada pelabuhan Tripoli tidak buruk, Piri Reis mencatat, tiga pulau di sebelah utara pelabuhan menahan kecepatan angin yang bertiup. Pada saat Piri Reis mendeskripsikan, kota Tripoli telah jatuh ke tangan Spanyol, sesuatu yang Piri Reis sangat sesali. Adalah kehilangan atas kota ini, dan tentunya juga pelaut yang selama ini menemaninya serta diatas itu semua adalah kehancuran benteng kota yang membuatnya menyesal (sedih). Piri Reis mencatat (hal. 273) bahwa di Maghreb, tidak ada benteng seindah milik kota Tripoli, semua menara dan benteng-nya seperti diambil dari lilin lebah, dan dindingnya berwarna jeruk segar. Benteng tersebut jatuh pada 25 Juli 1510; Spanyol dan Kerajaan Kristen lainnya penuh dengan kebahagiaan, sehingga Paus Julis II melanjutkan prosesi Thanksgiving57.

References

1 See For instance:

  • M Longworth Dames: The Portuguese and Turks in the Indian Ocean in the 16th century in Journal of the Royal Asiatic Society, 1921, pp 1-28.

  • D.Ross: The Portuguese in India and Arabia between 1507 and 1517, in Journal of the Royal Asiatic Society 1921, pp 545-62.

  • D. Ross The Portuguese in India and Arabia 1517-38; in Journal of the Royal Asiatic Society, 1922; pp 1-18.

2 A.C. Hess: The Evolution of the Ottoman Seaborne Empire in the Age of Oceanic Discoveries, 1453-1525; The American Historical Review,Vol 75, 1969-70, pp 1892-1919, at p. 1892.

3 Ibid.

4 W.Brice, and C. Imber: Turkish Charts in the Portolan Style, The Geographical Journal, 144 (1978); pp 528-529 at p. 528.

5 Ibid.

6 A.C. Hess: The evolution, op cit, p. 1911.

7 T.D. Goodrich: The Ottoman Turks and the New World; Wiesbaden , 1990.

8 F. Babinger: Piri Reis, in Encyclopaedia of Islam, first edition (1913-30), vol vi; Leiden. E.J. Brill, pp 1070-1

9 S. Soucek: Piri Reis, in Encyclopaedia of Islam, New edition, 1995, Vol VIII, Leiden, Brill, pp 308-9.

10 S. Tekeli: `Piri Reis’ in Dictionary of Scientific Biography, vol 10; Editor C.S. Gillispie, Charles Scribner’s Sons, New York, 1974, pp 616-9.

11 S.Soucek: A Propos du livre d’instructions nautiques de Piri Reis, Revue d’Etudes Islamiques, Vol 41, pp 241-55, at p. 242.

12 P. Khale : Die verschollene Columbus-Karte von 1498 in einer turkishen Weltkarte von 1513, Berlin, 1933.In English: P. Kahle: The Lost map of Columbus.

13 Ibid; introduction.

14 C. Hapgood: Maps of the Ancient sea Kings, Philadelphia, 1966.

15 Ibid, p.

16 J.B. Harley and D. Woodward: The History of Cartography, (vol two, book one: cartography in the

traditional Islamic and South Asian societies;) The University of Chicago Press, Chicago London, 1992.

17 P. Kahle: The lost, op cit, p.4.

18 P. Kahle: Piri Reis, Bahriye, Berlin 1926, 2 vols.

19 S. Soucek: A propos, op cit.

  • S. Soucek: Islamic Charting of the Mediterranean; in J.B. Harley and D. Woodward edt: History, op cit, vol 2, book one, pp 263-92.

20 Robert Mantran: La Description des cotes de l’Algerie dans le Kitab-I Bahriye de piri Reis, in Revue del’Occident Musulman (ROM), Aix en Provence, Vol 15-16, 1973; pp 159-68.

R. Mantran: La Description des cotes de la Tunisie dans le Kitab I-Bahriye de Piri Reis, ROM, 23-24 (1977), pp 223-35.

R. Mantran: Description des cotes Mediterraneene de la France dans le Kitab I Bahriye de Piri Reis, ROM, vol 39 (1985); pp 69-78.

-R. Mantran: La Description des cotes de l’Egypte de Kitab I-Bahriye: Annales Islamologiques, 17, 1981 pp. 287-310.

21 E. Esin: La Geographie Tunisienne de Piri Reis, in Cahiers de Tunisie, 29, (1981), pp. 585-605.

22 S.Soucek: Tunisia in the Kitab-I Bahriye of Piri Reis, Archivum Ottomanicum, Vol 5, pp 129-296.

23 Bausani A: L’Italia nel Kitab I-Bayriye di Piri Reis, Il Vetro, 23 (1979), pp 173-96.

24 Bausani A: Venezia e l’Adriatico in un portolano Turco, Venezia e l’Oriente a cura di L.Lanciotti; Florence:Olschki, 1987, pp 339-52.

Bausani. A: La Costa Muggia-Triesto-Venezia nel portolano (1521-27) di Piri Reis, Studi Arabo-Islamici…acura di C. Sarnelli Lergua. Naples: Istituto Universitario Orientale, 1985, (1988); pp 65-9.

25 Allibert. C: Une Description Turque de l’Oceon Indien au XVIem Siecle: L’Ocean indien Occidental dans le Kitab-I Bahriye de Piri Reis; Etudes Ocean Indien, 10 (1988); pp 9-51.

26 Thomas.D. Goodrich: Supplemental maps in the Kitab-I bahriye of Piri Reis, in Archivum Ottomanicum, Vol 13 (1993-4), Verlag, Wiesbaden, pp 117-35.; at p. 119.

27 Kitab-I Bahriye, Piri Reis, 4 vols, ed., Ertugrul Zekai Okte, trans, Vahit Cabuk, Tulay Duran, and Robert bragner, Historical research Foundation-Istambul Research Centre (Ankara: Ministry of Culture and Tourism of the Turkish Republic, 1988-91).

28 P. Kahle: the Lost, op cit, p,2

29 T.Goodrich: Supplemental, op cit, at p.116.

30 Ibid, p. 117.

31 S. Soucek: Islamic Charting, op cit, at p. 272.

32 T. Goodrich: Supplemental, op cit, p.117.

33 A. Soucek,, A propos, op cit, pp 244-5.

34 A.C. Hess: The Evolution, op cit.

35 S. Soucek: A propos, op cit, pp 242.

36 T. Goodrich: Supplemental, op cit, at p.117.

37 W. Brice: Early Muslim Sea-Charts, in The Journal of the Royal Asiatic Society, 1977, pp 53-61, at p.56.

38 P. Kahle: The Lost, op cit, p. 2.

39 Derived from W.Brice-C. Imber: Turkish Charts, op cit, p 528.

40 Ibid, p.529.

41 S. Soucek: Islamic, op cit,, pp 277-80.

42 Ibid at 277.

43 See fig 1 in W. Brice: early Muslim sea-charts, op cit, at p. 57

44 T.Goodrich: Supplemental, op cit, p. 120.

45 T.Goodrich, Supplemental, op cit, p.122.

46 See R.V. Tooley: French mapping of America, London: Map Collector’s Circle, 1967.

47 T.Goodrich: Supplemental, op cit, p.122.

48 See Rodney W.Shirley: The Mapping of the World, Early Printed World maps, 1472-1700; London; The Holland Press, 1984, no 228 and plate 180.

49 R.Mantran: Description des cotes Mediterranneenes de la France, op cit.

50 R. Mantran: La Description des cotes de la Tunisie… op cit.

51 S.Soucek: Tunisia in the Kitab-I Bahriye of Piri Reis, Archivum Ottomanicum, Vol 5, pp 129-296.

52 With respect to this `Tunisian’ coast, Soucek notes, it is the first version of the Kitab which is much richer than the second.

53 Bejaia was to be retaken forty five years later, in 1555 by Salah Reis, beylerbey of Algiers, but following the Spanish entry, it never regained its former glory.

54 In 1891, the French killed the last lion of North Africa between Bone and Bizerte (Tunisia) (Note 5, p. 180. Source in Soucek: L. Lavauden: La Chasse et la faune cynegetique en Tunisie, Tunis, 1924, p. 9.

55 That is until the French exterminated them all (Lavauden, op cit, pp 18-19.)

56 S. Soucek: Islamic Charting, op cit, p 267.

57 Note 8, p. 287 in Soucek., Source Sanuto Diarii, v, fol.109.

The city was retaken from the Spaniards in 1551 by Sinan Pasha and Turgut.

Bibliography

-C.Allibert. C: Une Description Turque de l’Ocean Indien au XVIem Siecle: L’Ocean indien Occidental dans le Kitab-I Bahriye de Piri Reis; Etudes Ocean Indien, 10 (1988); pp 9-51.

-F. Babinger: Piri Reis, in Encyclopaedia of Islam, first edition (1913-30), vol vi; Leiden. E.J. Brill, pp 1070-1.

-A. Bausani: L’Italia nel Kitab I-Bayriye di Piri Reis, Il Vetro, 23 (1979), pp 173-96.

-A.Bausani: Venezia e l’Adriatico in un portolano Turco, Venezia e l’Oriente a cura di L.Lanciotti; Florence: Olschki, 1987, pp 339-52.

-A.Bausani: La Costa Muggia-Triesto-Venezia nel portolano (1521-27) di Piri Reis, Studi Arabo-Islamici… acura di C. Sarnelli Lergua. Naples: Istituto Universitario Orientale, 1985, (1988); pp 65-9.

-W.Brice, and C. Imber: Turkish Charts in the Portolan Style, The Geographical Journal, 144 (1978); pp 528-529.

-W. Brice: Early Muslim Sea-Charts, in The Journal of the Royal Asiatic Society, 1977, pp 53-61.

-E. Esin: La Geographie Tunisienne de Piri Reis, in Cahiers de Tunisie, 29, (1981), pp. 585-605.

-T.D. Goodrich: The Ottoman Turks and the New World; Wiesbaden , 1990.

-Thomas.D. Goodrich: Supplemental maps in the Kitab-I bahriye of Piri Reis, in Archivum Ottomanicum, Vol 13 (1993-4), Verlag, Wiesbaden, pp 117-35.

-C. Hapgood: Maps of the Ancient sea Kings, Philadelphia, 1966.

-J.B. Harley and D. Woodward: The History of Cartography, (vol two, book one: cartography in the traditional Islamic and South Asian societies;) The University of Chicago Press, Chicago London, 1992.

-A.C. Hess: The Evolution of the Ottoman Seaborne Empire in the Age of Oceanic Discoveries, 1453-1525; The American Historical Review,Vol 75, 1969-70, pp 1892-1919.

-P. Khale : Die verschollene Columbus-Karte von 1498 in einer turkishen Weltkarte von 1513, Berlin, 1933. In English: P. Kahle: The Lost map of Columbus.

-P. Kahle: Piri Reis, Bahriye, Berlin 1926, 2 vols.

-M Longworth Dames: The Portuguese and Turks in the Indian Ocean in the 16th century in Journal of the Royal Asiatic Society, 1921, pp 1-28.

-Kitab-I Bahriye, Piri Reis, 4 vols, ed., Ertugrul Zekai Okte, trans, Vahit Cabuk, Tulay Duran, and Robert bragner, Historical research Foundation-Istambul Research Centre (Ankara: Ministry of Culture and Tourism of the Turkish Republic, 1988-91).

-L. Lavauden: La Chasse et la faune cynegetique en Tunisie, Tunis, 1924.

-R. Mantran: La Description des cotes de l’Algerie dans le Kitab-I Bahriye de piri Reis, in Revue de l’Occident Musulman (ROM), Aix en Provence, Vol 15-16, 1973; pp 159-68.

-R. Mantran: La Description des cotes de la Tunisie dans le Kitab I-Bahriye de Piri Reis, ROM, 23-24 (1977), pp 223-35.

-R. Mantran: Description des cotes Mediterraneene de la France dans le Kitab I Bahriye de Piri Reis, ROM, vol 39 (1985); pp 69-78.

-R. Mantran: La Description des cotes de l’Egypte de Kitab I-Bahriye: Annales Islamologiques, 17, 1981 pp. 287-310.

-D.Ross: The Portuguese in India and Arabia between 1507 and 1517, in Journal of the Royal Asiatic

Publication Number: 4022 Page 10 of 11 Society 1921, pp 545-62.

-D. Ross The Portuguese in India and Arabia 1517-38; in Journal of the Royal Asiatic Society, 1922; pp 1-18.

-Sanuto Diarii, v, fol.109.

-Rodney W.Shirley: The Mapping of the World, Early Printed World maps, 1472-1700; London; The Holland Press, 1984, no 228 and plate 180.

-S. Soucek: Piri Reis, in Encyclopaedia of Islam, New edition, 1995, Vol VIII, Leiden, Brill, pp 308-9.

-S.Soucek: A Propos du livre d’instructions nautiques de Piri Reis, Revue d’Etudes Islamiques, Vol 41, pp 241-55.

-S. Soucek: Islamic Charting of the Mediterranean; in J.B. Harley and D. Woodward edt: History, op cit, vol 2, book one, pp 263-92.

-S.Soucek: Tunisia in the Kitab-I Bahriye of Piri Reis, Archivum Ottomanicum, Vol 5, pp 129-296.

-S. Tekeli: `Piri Reis’ in Dictionary of Scientific Biography, vol 10; Editor C.S. Gillispie, Charles Scribner’s Sons, New York, 1974, pp 616-9.

-R.V. Tooley: French mapping of America, London: Map Collector’s Circle, 1967.