Kotak lugu yang tidak lagi na’if

Seperti kebanyakan orang seusia dan besar di kota seperti saya, hampir-hampir tidak asing dengan kotak yang dapat menyajikan gambar-gambar hidup ini. Bisa dibilang saya tidak bisa hidup sehari saja tanpa televisi sampai dengan menginjak bangku kuliahpun, walau sudah mulai berkurang ketergantungannya, masih saja kerusakan televisi di rumah membuat hari-hari semakin panjang.

Sepanjang yang saya ingat memang televisi sudah menjadi bagian rumah kami. Dari model lagunya Michael Jackson (black and white) sampai dengan berwarna, dari televisi sederhana sampai model mirip almari lengkap dengan tutup tabungnya yang dari kayu. Dari hanya TVRI sampai akhirnya sekarang puluhan saluran. Hanya jenis LCD/Plasma serta stasiun televisi berbayar saja model kabelvision dan konco-konconya yang belum pernah mampir di kehidupan saya. Mengingat untuk saat ini kedua hal tersebut masih harus merogoh kantung lebih dalam untuk menikmatinya, jadi yah, saya harus cukup puas dengan apa yang saya miliki.

Demikian pentingnya arti televisi, pernah ketika beralih dari model hitam putih ke berwarna dengan bangganya kami sekeluarga berpose di depan benda tersebut. Dengan senyum lebar dan puas…memberi pernyataan tegas bagi siapa saja yang melihat foto tersebut “kami sudah masuk dalam lingkaran masyarakat modern, loh”.

Tidak heran memang kenapa televisi menjadi demikian dalam hadir dalam kehidupan setiap keluarga bukan hanya di Indonesia namun hampir di seluruh dunia. Bahkan, ada yang menyamakan penemuan televisi seperti penemuan roda dalam peradaban manusia. Bagi anda yang kurang faham, penemuan roda dianggap sebagai langkah penting umat manusia karena dapat merubah peradaban.

Kata televisi sendiri pertama kali dikemukakan Constatin Perskyl dari Rusia pada acara International Congress of Electricityyang pertama (1900) dalam Pameran Teknologi Dunia di Paris. Tujuh tahun kemudian Campbell Swinton dan Boris Rosingdalam percobaan terpisah menggunakan sinar katoda untuk mengirim gambar.Sejak itu perkembangan benda kotak ajaib ini semakin pesat dan sampai akhirnya menjadi umum dimiliki setiap orang.

Di Indonesia sejarah televisi tentunya tidak bisa lepas dari TVRI (Televisi Republik Indonesia) . Siaran televisi pertama kali adalah salah satu buah dari proyek mercusuar nya Bung Karno. Siaran pertamanya adalah dalam rangka meliput Asian Games pada 23 Agustus 1962 menjadi titik awal sejarah penyiaran televisi anak negeri ini. Sampai dengan puluhan tahun ke depan TVRI mendominasi udara Indonesia. Tidak dijelaskan apakah saat itu masyarakat Indonesia mendapatkan televisi dengan pembagian gratis atau harus membelinya. Karena tentunya tidak ada artinya siaran televisi tanpa ada yang menyaksikan.

Tahukah anda bahwa di Indonesia memiliki televisi tidak selamanya gratis. Ada saatnya di mana pemilik peawat televisi harus membayar tarif tertentu kepada pemerintah. Iuran televisi memang tidak lain dan tidak bukan akan digunakan untuk membiayai TVRI, seperti yang anda tahu sampai sekarang TVRI tidak memberikan slot iklan dalam siarannya, setidaknya bukan dengan cara yang ketara jelas. Maka dana untuk operasional selain dari pemerintah juga diambil dari iuran tersebut.

Memang iuran televisi masih diterapkan di beberapa negara seperti misalnya, Inggris, Korea Selatan dan Pakistan. Bahkan di Pakistan iuran televisi terintegrasi dengan iuran listrik entah bagaimana sistem yang dipakai. Namun, ternyata iuran televisi di Indonesia banyak ditentang dan akhirnya hari ini TVRI harus mencari sumber dana lain selain iuran.

Seperti halnya sarapan untuk beberapa orang televisi menjadi bagian rutin yang hampir-hampir tidak bisa ditinggalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ibarat pisau bermata dua, televisi kian hari dituduh sebagai biang keladi menyebarnya virus masyarakat bahkan sampai di depan meja makan ketika pagi. Ada kalanya menjadi primadona bahkan alat propaganda penguasa untuk menjaga kekuasaannya, televisi dicaci dan dimaki namun dilain sisi justru semakin dicinta.

Dari cap “benda mewah” sampai akhirnya sekarang menjadi hal yang umum, bahkan tunawisma-pun bisa memiliki televisi sepanjang bisa mendapatkan sambungan listrik. Sejak lahirnya TVRI sampai sekarang marak stasiun televisi lokal. Dari model penyiaran via antena-antena relay sampai menggunakan jarinngan paket data yang bahkan hanya memerlukan handphone saja untuk menyaksikannya. Televisi sudah sedemikian menyatunya dengan masyarakat. Dari sebuah hiburan yang menghibur dan mendidik sampai sebuah tayangan kekerasan dan semi porno….bahkan full porno.

Membuat saya berfikir…masih adakah saat-saat kami dengan naifnya berpose di depan pesawat televisi 21 inci dengan casingsebesar lemari, berfikir :…selamat menjadi bagian dari masyarakat modern.

Bangunkan saya bila televisi masih senaif itu :)

Link berguna
Asosiasi Televisi Lokal Indonesia http://www.atvli.com
Televisi Republik Indonesia http://www.tvri.co.id/
Gambar biasa….dari http://pro.corbis.com