Tanjakanku Bukan Tanjakanmu

Katanya, setiap manusia memiliki Gunung Everesetnya masing-masing yang menjadikannya sebuah prestasi kala dapat mencapai puncaknya. Tidak melulu Gunung Everest yang berada di negeri nun jauh di sana namun dapat juga berupa tantangan dalam keseharian. Bedanya lagi, gunung ini tidak pernah habis sampai akhir hayat karena setiap kali satu gunung berhasil ditaklukkan masih menunggu lagi ribuan “Everest” di baliknya.

Seminggu sudah saya kembali ke atas sadel untuk menjadi pedalis. Sensasi bersepeda yang saya tulis pada catatan sebelumnya, setiap kaki ini mulai menginjak pedal dan tangan meremas setang lalu lamat-lamat angin mulai menerpa wajah saat sepeda berjalan, sedikit demi sedikit kembali lagi. Hanya saja usia, keadaan dan berat badan tentunya, tidak pernah bohong. Hari ini bukan diri saya puluhan tahun lalu, diri saya saat ini butuh banyak penyesuaian…cincai-cincailah dengan usia.

Hari pertama, saya mulai memasang strategi bagaimana dapat menemukan waktu yang paling tepat demi bersepeda yang nyaman tanpa gangguan dua krucil, Ais dan Sena. Karena, teurtama Ais, setiap kali saya keluar rumah biasanya akan ngintilin, bahkan kadang saat ke peturasan sekalipun. Jadi, mencari waktu untuk bersepeda adalah sebuah prioritas. Waktu Subuh adalah jawabannya, karena saat itu krucil-krucil ajaib yang menggemaskan itu sedang terlelap dan saya dapat dengan bebas keluar rumah asal dengan tingkat kehati-hatian ala ninja dan tidak membangunkan mereka.

Rencana itu berhasil, saudara! Seminggu sudah setiap kali habis shalat Subuh jama’ah di masjid saya langsung genjot itu sepeda. Awalnya saya hanya berani ambil jarak teraman walhasil dua hari pertama saya hanya dapat tiga kilometer lebih sedikit plus risol dan nasi uduk, titipan ibunya anak-anak di rumah. Lantas hari-hari berikutnya beranjak dari lima kilometer sampai akhirnya mentok di delapan kilo meter kurang sedikit.

Awalnya memang sangat berat, baru tiga kilo meter saya tempuh rasanya keringat yang keluar sudah seember padahal medannya tidak terlalu naik-turun itupun di atas jalan mulus bak wajah perawan yang akan melangsungkan pernikahannya. Lama-lama setelah terbiasa saya mulai menambah jarak bersepeda dan sebisa mungkin dengan waktu yang lebih singkat. Rasanya saat itu nikmat sekali, sampai akhirnya saya bertemu dengan Everest saya…..tanjakan!

Topografi daerah sini memang tidak melulu lurus-mulus, ada kalanya di beberapa titik harus melewati semacam lembah kecil. Untuk kebanyakan orang dan bagi yang sudah terbiasa bersepeda medan seperti ini tentu saja tidak terlalu menantang dan menyenangkan untuk dilalui, namun tidak begitu untuk saya yang berbadan over dan baru mulai ini. Dalam rute saya paling tidak ada satu tanjakan yang memiliki kemiringan sampai dengan 6-7 derajat, dan itu rasanya luar biasa, kawan!….luar biasa capek!

Pada awal-awalnya mungkin tidak sampai setengah menanjak saya sudah tidak sanggup, langsung saja pasang jurus kaki injak bumi dan langkah lima belas, karena untuk langkah seribu nanti disangka maling. Belakangan walau tidak sampai tuntas jarak itu semakin dekat dan hampir-hampir saya bisa melihat puncak Everest di ujung sana. Tanjakan ini memang menjadi momok untuk saya, bahkan menjadi semacam benchmark bilamana teratasi nanti berarti saya sudah cukup siap untuk menyelesaikan Everest berikutnya yakni, bersepeda ke kantor yang kurang lebih pulang-pergi sekitar 32 kilo meter.

Dan saya masih belum merasa untuk menyerah!

 

One thought on “Tanjakanku Bukan Tanjakanmu

  1. saya juga punya tanjakan yang belum berhasil saya lewati dengan menggowes sepeda. pasti selalu turun kaki kalau lewat tanjakan itu. miring dan panjang. ga tahan. ngos2an luar biasa. berharap ada derek sepeda yg mau bantuin heuheuheu…

Comments are closed.