Saya (bukan) Beruang Sirkus

Menjadi manusia berbadan besar kadang membutuhkan nyali dua kali lipat daripada manusia berbadan normal atau di bawah normal, paling tidak itu yang saya rasakan.

Sudah sejak beberapa bulan sebenarnya saya ingin bersepeda kembali. Sejak pindah ke Depok saya memang pernah memboyong sepeda peninggalan masa muda dulu, sepeda balap merk Federal berwarna kombinasi hijau putih, yang telah teronggok beberapa saat di gudang rumah paman.

Tapi apa lacur badan saya yang telah berkali lipat dari ketika dulu masih duduk di bangku sekolah menengah pertama membuat sepeda balap uzur ini terengah-engah. Sejak beberapa kali dimasukkan ke bengkel, dari ganti ban sampai ganti as yang nyaris patah dan akhirnya ketika gear gigi belakang yang coplok di tengah jalan dan menggelinding entah ke mana, saya rasa cukup sudah!

Beberapa kejadian itu menyadarkan saya bahwa mungkin ini adalah kata-kata tak terucap dari sepeda berban tipis ini untuk protes pada tuannya yang bodinya berbobot-bot-bot. Akhirnya sepeda balap Federal yang sempat diincar oleh para penggemar sepeda jenis fixie ini menemukan tempatnta untuk bersandar dengan tenang, di rumah mertua.

Nah, sejak beberapa bulan belakang tampaknya keinginan untuk bersepeda kembali menggebu. Memang bila mengingat masa lalu bersepeda menjadi salah satu kegiatan favorit saya selai berenang dan menekuni bela diri, entah ke mana sekarang sisa-sisa aktifitas tersebut. Bayang-bayang sambaran angin malam saat si Federal pertama kali saya tunggangi di sekitar lingkungan rumah, kembali menguat setelah bertahun-tahun tidak pernah lagi menyentuh sepeda.

Bolak-balik lihat web toko sepeda online sampai beberapa kali ke toko sepeda menjadi salah satu kegiatan, walau tidak sering, yang saya jalani akhir-akhir ini. Menimbang-nimbang bukan hanya style sepeda namun juga mencoba mengukur kekuatan sepeda mana yang tahan dengan badan over size saya ini selain tentu saja pertimbangan ketebalan kantong yang tidak setebal lemak pada pinggang saya.

Alhamdulillah akhirnya setelah berkali-kali survei dan berbagai pertimbangan, walau sebenarnya hanya survei harga sih, saya membulatkan tekad untuk menjemput sebuah sepeda. Dua kali ke toko sepeda di Margonda, Depok, kali pertama adalah sebuah toko sepeda ternama di dua negara tetangga dan yang kedua kalinya pada sebuah toko yang baru saja tiga bulan ini. Selalu saat di toko yang saya tanyakan pertama adalah “kuat gak nih?” sambil sedikit memasang badan agar salesnya faham benar besarnya badan saya.

Memang, semuanya menjawab dengan “pasti kuat!” walau saya tidak begitu yakin apakah mereka jujur atau hanya ingin dagangannya cepat laku. Kedua, setelah tanya-tanya macam-macam, gini-gini saya melakukan juga survei tentang detail spek sepeda, lantas mata saya melirik tag harga yang menggantung di setang. Tak ayal beberapa harga membuat mata saya yang tadinya cuman melirik langsung melotot sambil nyeletuk dalam hati MasyaAllah! Ini sih harga motor baru dan ketika melirik ke sepeda rekomendasi sales lainnya langsung saja refleks ingat sisa uang di bank. Walhasil, kunjungan ke toko sepeda pertama gagal total!

Mencari sepeda seperti mencari isteri menurut saya, kala awal-awal begitu banyak kriteria yang saya dapatkan dari internet untuk dipenuhi. Ibarat bujangan yang ingin isteri udeh cantik, putih, tinggi, kerja, PNS lagi ditambah lihai ngurus anak-anak di rumah dan tentu saja jago masak serta kalo bisa biaya walimah ditangganggung mertua walhasil kenyataan dan impian bagai minyak dan air. Kali kedua, pada toko yang baru saja buka tiga bulan itu akhirnya saya menemukan jodohnya. Saat itu memang saya sudah sedikit pasrah dengan kriteria asal bisa ganti ban dan sadel jenis lebih lebar serta, dan ini yang paling penting, cocok dikantong.

Dua kali Nyali

Singkat cerita itu sepeda akhirnya sukses nangkring di rumah, sekarang saatnya memuaskan hasrat terpendam saya untuk gowes-wess. Hanya saja ternyata tidak semudah itu, karena bersepeda untuk manusia berbadan over ini butuh tenaga ekstra tapi itu pasti biasa. Tidak hanya sejenis saya saja tapi pasti begitu juga buat mereka yang normal ketika awal-awal mulai gowes, butuh tenaga ekstra. Namun bagi saya, ada tambahan halangan yang walau sepertinya sudah berhasil diruntuhkan tembok itu enggan untuk menyerah dan kembali tumbuh bahkan siap menimpa saya setiap saat.

Tembok itu adalah mental, iya betul! tidak jarang saya lihat bagaimana orang memandang ketika saya melintas dengan sepeda. Perasaan tidak percaya diri langsung menyerang dan bisik-bisik di benak bilang lihat tuh Pak Anu atau Ibu Itu pasti mikir saya beruang sirkus, kadang demikian kuatnya perasaan itu sampai-sampai membuat kepala saya dengan tidak sadar menunduk…untung gak nabrak.

Ketika sedang tenggelam seperti itu ada kalanya yang membuat saya semakin down celetukan anak kecil …”uiiih genduuuut bangeeet!!” rasanya saat itu juga saya ingin langsing ngacir, tapi tidak bisa karena menggowes itu butuh tenaga berat, jendral!

Dan hari-hari bersepeda sayapun telah datang kembali, saya adalah Fat Biker! :)

2 thoughts on “Saya (bukan) Beruang Sirkus

  1. kenapa ga onthel aja man.. dijamin kuat, dan ada juga yang gir belakangnya 3 tingkatan…
    sadelnya lebar, ada pegasnya, lumayan nyaman lah..

    Ngomon2 gwe belum pernah liat beruang naik sepeda, kayak gimana yaa :p

Comments are closed.