Surat untuk anakku (2008?)

Panggilan apa yang pantas untuk ibu bapakmu ini? Pada awalnya memang bapak dan ibumi sedikit berdebat bagaimana ananda nanti memanggil kami berdua. Mungkin dengan ayah dan bunda seperti pakde ananda menyebut dirinya di depan sepupu-sepupumu, mungkin juga abi dan ummi seperti beberapa teman-teman orang tuamu, atau juga sesederhana bapak dan ibu seperti dulu kakek-nenekmu kami panggil. Namun yang pasti tidak dengan papah mamah karena walaupun beberapa teman orangtuamu ini menyebut dirinya begitu di depan anak-anaknya namun sepertinya, ah…kenapa ya, panggilan papah-mamah demikian asing.

Nak, belum lagi ananda lahir, ananda telah membuat kedua orangtuamu cukup bingung menghadapinya. Bukan karena nanda membebani kami namun kerapkali bapak-ibumu ini bingung bila menghadapi sesuatu yang baru. Bagaimanapun nanda adalah semangat baru kami, cahaya matahri pertama yang menyembur dari pinggir langit timur pagi hari.Nanda adalah cahaya harapan kami, penerus mimpi-mimpi kami dan kelak ketika kami telah tiada, nandalah yang akan mendo’akan kami.

Nanda memamg bukan yang pertama berada dalam rahim bundamu, namun sampai detik ini nandalah yang terlama berada di sana. Di saat saudara-saudara nanda layu saat belum lagi purnama ke-dua datang, nanda telah bertahan dan berjuang untuk berada disana selama tiga purnama.

Betapa harunya ketika kami kelihat nanda untuk pertama kalinya menginjak bulan ke-3 pada layar USG. Nanda begitu bersemangat bergerak-gerak bagaikan ulat yang tidak sabar keluar dari kepompongnya namun Sang Pencipta belum lagi menyempurnakan nanda.

Nanda anakku, mungkin kita dapat bertemu dalam beberapa bulan ke depan…atau mungkin juga tidak, wallahu’alam. Allahu Maha Besar, dia paling mengetahui yang terbaik bagi kami, orangtua nanda, begitu juga yang terbaik untuk nanda kelak.

Punbegitu, bila kelak nanda ditakdirkan untuk berjumpa dengan kami, maka harapan kami hanya satu Nak. Jadilah nanda anak yang soleh/a sebaik yang nanda bisa usahakan. Jadilah nanda sosok manusia yang dapat kami bangga-banggakan di hadapan Nya kelak. Dan, jangan nanda pedulikan bagaimana nanti nanda memanggil kami. Bapak Ibu, Ayah Bunda, Abi Umi…terserah nanda.

Nah Nak, baiklah-baiklah engkau di dalam rahim ibumu, kami di sini hanya berdo’a dan berusaha, mudah-mudahan yang terbaik, untuk melantukan adzan di kuping kanan dan iqomat di kuping kiri nanda.