Lebih baik di sini (2009)

Lebih baik disini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada disini
Rumah kita

Lebih baik disini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada disini
Rumah kita,rumah kita

Lebih baik disini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada disini
Rumah kita
Rumah kita
ada di sini (“Rumah Kita” oleh God Bless)

Ini adalah tahun pertama saya tinggal di Depok (2009) tepatnya di daerah Tanah Baru, belum genap setahun memang, baru saja melangkah ke bulan ke-9 bila ingin lebih spesifik. Rumah yang InsyaAllah dalam 8-9 tahun ke depan akan menjadi milik saya ini memang terletak dipinggiran karena memang lokasinya yang nyaris di Jakarta (Ciganjur) dan hampir-hampir saja keluar dari garis kota depok. Depok yang dari dahulu sejak saya kuliah memang panasnya naudzubillah bila tengah bolong ternyata tidak bisa tidak tetap saja saya rasakan walaupun lokasinya yang nyaris nempel dengan Ciganjur tersebut. Namun ada kalanya saya menyukai udara pagi sebelum pukul sembilan dan sore hari menjelang maghrib setelah ashar di mana, kok ya mungkin kata Orang Jawa,…udaranya semilir gitu. Suasana yang mungkin buat seorang teman saya yang penggemar musik krontjong akan mendorongnya memutar satu dua judul lagu mengiringi hari yang kian menenggelamkan matahari. Sedangkan saya, mungkin hanya dengan membaca sehalaman-dua halaman buku sambil menikmati teh hangat buatan Isteri. Tetapi sayangnya, sahabat sekalian, kesempatan emas seperti itu jarang saya dapatkan karena waktu-waktu tersebut biasanya masih dalam perjalanan, bilapun sudah sampai rumah badan cukup lelah, sofa yang empukpun jadi untuk menyenderkan punggung barang sesaat.

Bila ada waktu dan sahabat ada kesempatan, tidak usah sungkan, mampir saja. Tetapi jangan kaget bila rumah kami sangat sederhana dan tidak begitu luas. Tidak ada pohon besar dan rumput hijau menghapar di depannya seperti rumah yang kami impi-impikan dahulu. Kecil saja, dua kamar dengan ruang tamu dan keluarga yang menyatu sehingga maaf bila sahabar bertamu kami, dengan malu-malu, menerima sahabat di ruangan yang sedikit berantakan. Belum lagi suara anak-anak tetangga ; Nayla, Haikal, Aikal, Cinta, Rara, Alma, Aldi dan teman temannya yang kadang membuat gaduh di carport kami yang tidak berpagar. Carport? Ah, jangan salah sahabat belum ada kendaraan roda empat dibawahnya hanya tempatnya dahulu, siapa tahu Allah SWT memberikan kami rejeki nanti untuk memfungsikan sesuai namanya…ya, sebagai carport sebenar-benarnya.

Anak-anak disekitar rumah kami adalah cerita sendiri, karena sebagian besar rumah-rumah disekitar kami tidak berpagar maka mereka bebas saja keluar masuk untuk bermain entah permainan apa, yang kami tahu ketika mereka sedang berkumpul alamat akan ramai sekali. Kadang-kadang sahabat, mereka masuk ke dalam rumah kami untuk ikut nimbrung bersama, ada saja yang dikomentari, dari aroma masakan isteri saya sampai foto-foto di dalam majalah. Mereka dan dunianya, indah sekali tidak pernah ikut bingung ketika orang tuanya memikirkan cicilan rumah dan kebutuhan yang semakin meningkat.

Sahabat, ada satu lagi yang saya suka mengenai anak-anak disekitar rumah kami, setiap maghrib tiba tepatnya. Sesaat sebelum azan berkumandang satu dua anak kadang beramai-ramai akan memanggil-manggil saya mengajak shalat maghrib berjamaah di mushola yang letakknya tepat disebelah rumah saya. Seperti kala itu “Pak Iman…Pak Iman shalat yuk” panggil mereka

“Iya nanti Pak Iman nyusul ya” sambil melirik jam dinding yang menyisakan lima menit sebelum waktu maghrib tiba.

“Pak Iman emangnya lagi apa?”

mikir… “lagi pake baju”

“sudah kancing ke berapa, Pak Iman?”

Bila begitu biasanya saya bingung juga jawabnya. Paling-paling hanya menegaskan kembali untuk menunggu di mushola saja dan nanti saya akan menyusul.

Sahabat-sahabat kecil saya yang mengingatkan untuk shalat berjamaah di kala maghrib namun hilang tak berbekas saat Isya ini kadang membuat saya gemas juga. Namanya juga anak-anak, tidak ada yang bisa tenang saat shalat, adda saja yang mereka lakukan. Rara misalnya, beberapa saat lalu dia memiliki kebiasaan yang walau mengganggu namun menggelikan juga bila diingat, dia suka sekali menerkam dan memukul (maaf) pantat saya bila bila sedang shalat tetapi akhir-akhir ini sudah tidak pernah lagi,…alhamdulillah. Mungkin karena saat ini Rara punya kebiasaan baru selama Taraweh yakni menyanyikan lagu kesayangannya di depan jama’ah shalat,…lagu apa itu yang dinyanyikan “the lucky laki”..aku bukan superman, ya? Dan dua hari belakngan ini lagu d’Massive-pun hafal dilantunkannya walau dengan artikulasi yang hanya Allah SWT saja yang faham, bila saja tidak dihentikan saudara laki-lakinya atau ayahnya makan habis satu lagi diperdengarkan…ah Rara..Rara..adda adda sajjah.Ah, sahabat sayang sekali senja sudah habis dan malam telah tiba saatnya menutup pintu agar serangga-serangga malam tidak memasuki rumah kami. Sekaligus saya menuntaskan kisah rumah saya yang sederhana ini, mungkin nanti mungkin kapan saja akan ada lagi cerita-cerita lainnya menyusul. Sebelum undur diri, sedikit mengenai rumah kami yang memang tidak memiliki pohon yang besar dan rumput hijau menghampar di depannya, namun buat kami dan saya tentunya itu adalah yang terbaik yang diberikan Allah SWT kepada kami, semoga dapat kami penuhi dengan do’a-do’a dan pujian kepada-Nya….InsyaAllah.

Sampai nanti :)