Dengan sangat hormat,…maaf ini Jakarta

Siang itu panas, seperti yang sudah-sudah memang beberapa hari ini sangat meyengat. Suasana yang memang sudah memeras keringat ini ditambah lagi dengan ratusan penumpang yang berdiri di antara peron 10 dan 11 di statsiun Kota. Statsiun Kota adalah salah satu ujung perjalanan kereta di sini bertemu kereta baik kereta listrik maupun diesel, bila anda penasaran di mana rel keretan akan berakhir maka di sinilah tempat yang tepat untuk menyaksikannya.

Saya bersama ratusan orang lainnya berdiri di sepanjang peron menunggu KRL ekonomi Jakarta-Bogor yang belum datang. Walau hari ini bukan hari kerja namun tampaknya tidak mengurangi jumlah penumpang yang memang sehari-hari juga padat. Mungkin bila sehari-hari didominasi oleh komuter pekerja maka khusus Sabtu dan mungkin Minggu adalah orang yang habis belanja di seputar Kota dan seperti saya…habis berkunjung ke beberapa tempat bersejarah di Jakarta.

Perjalanan yang menyenangkan, saya dan sahabat saya itu. Beberapa spot diseputar museum menjadi tempat saya merekam dia dan teman-temannya. Jendela-jendela gaya kota Tua dan arsitektur Belanda yang kental membuat kita hampir-hampir terbawa kembali ke masa lalu.

Tetapi itu ketika kami belum masuk ke dalam, ternyata saudara-saudara, ada peraturan bahwa untuk berfoto di dalam ruangan akan dikenakan biaya minimal tiga ratus lima pulu ribu rupiah….sekali lagi minimal!. Kecuali memang bila untuk kepentingan pribadi, tetapi siapa yang bisa membedakan mana yang untuk kepentingan pribadi dan komersial..

Apalagi ketika kami mencoba mengambil gambar di dalam ruangan petugas menegur kami karena katanya dilarang memoto karena koleksi di Museum Fatahilah katanya termasuk koleksi pribadi, ..ada PERDAnya kata petugas museum. Kira-kira siapa ya yang sudah membeli semua koleksi berharga di museum Fatahilah hingga berhak mengklaim sebagai koleksi pribadi….Fauzi Bowo? gak mungkin banget, Miranda Gultom? walau dia berjasa merenov wilayah Kota Tua, tapi apa mungkin?….atau jangan-jangan Jan Pieterszoon Coen himself bangkit dari kubur dan mengklaim semunya?…mungkin saja!

Parahnya lagi ternyata “kebijakan” bayar baru moto merembet ke museum sebelahnya. Bahkan bila di Museum Fatahilah masih bisa beberapa kali merekam di halaman dan beberapa bagian di dalam. Pada museum ini kami sama sekali tidak boleh moto baik di halaman apalagi di dalam, alasan mbak-mbak yang jaga karena kami memiliki halaman sendiri (yang dipagar) …pantas saja museum Batik ini sepertinya sepi sekali.

Dengan sangat hormat,….maaf ini Jakarta bukan Jogjakarta apalagi Singapur.

Kembali ke statsiun Kota, setelah sekitar 15 menit akhirnya KRL ekonomi datang juga. Dan tebak saja, orang yang dari dalam belum lagi keluar namun beberapa penumpang sudah mendesak ingin masuk dan bergerombol di depan pintu. Tampaknya hari yang panas membuat salah satu penumpang yang hendak turun esmosi juga. Hampir saja terjadi baku hantam bila tidak dicegah. Namun tak urung beberapa makian dan binatang sempat terlontar. Saya yang memang masuk terakhir tidak begitu beruntung untuk mendapatkan tempat duduk, tapi itu biasa.

Sekitar beberapa menit kemudian datang lagi KRL jurusan Kota-Bogor di jalur sebelahnya dengan diringi pengumuman dari pengeras suara dari petugas statsiun : bahwa kereta yang baru saja datang akan diberangkatkan lebih dahulu. Spontan ibu-ibu dengan belanjaannya, bapak-bapak dengan menarik tangan isterinya, pemuda-pemudi yang sedang dirudung cinta dan anak-anak yang baru saja pulang sekolah berteriak..”waaaaa!” sambil berbondong-bondong pindah ke KRL sebelah.

Sedangkan saya, memilih untuk tetap dan mendapatkan gerbong kosong melompong, beberapa ibu-ibu dan pemuda tampaknya juga sama seperti saya memilih tetap diam sambil mengambil alih tempat duduk yang beberapa saat lalu menjadi barang mahal. Ibu-Ibu di sebalah saya bercerita hal seperti ini sering terjadi.

“Ah ini mah sering, Mas”

“Masa sih bu?”

“Iya, saya beberapa kali kejadian begini, sampai-sampai dompet saya disilet copet” sambil menunjukkan tasnya yang memang robek sedikit kepada saya”

“he he he” saya hanya bisa nyengir.

Diam beberapa menit

“Ngomong-ngomong Pak, dengan sangat hormat…boleh nggak saya minta duit dari Bapak. Berapa saja tidak apa-apa kok Pak”.

duh….

Pendek kata akhirnya saya dan ibu disebelah tenggelam dalam diam masing-masing menunggu KRL yang katanya dinomor-duakan ini berangkat. Dan saya kembali disadarkan sedang berada di Jakarta ketika, kembali, corong statsiun Kota mengumumkan “MOhon maaf karena KRL jurusan Jakarta-Bogor pada jalur 10 mengalami kerusakan, maka KRL pada jalur 11 (yang saya naiki) akan diberangkatkan lebih dahulu”

Bisa ditebak; ibu-ibu dengan belanjaannya, bapak-bapak dengan menarik tangan isterinya, pemuda-pemudi yang sedang dirudung cinta dan anak-anak yang baru saja pulang sekolah berteriak..”waaaaa!” sambil berbondong-bondong pindah kembali ke KRL kami.

Dengan sangat hormat….maaf ini Jakarta, bukan Kuala Lumpur apalagi Sydney…

Dan, sayapun kembali terjebak bersama peluhnya ratusan penumpang di dalam KRL menuju Depok…