Tawar menawar the Indonesian way

Semakin hari di Jakarta maupun kota-kota besarnya lainnya di seputar Indonesia mulai kehilangan satu-persatu pasar tradisionalnya. Demi alasan modernisasi dan kapitalisme maka pasar-pasar modern yang mengemas barang-barangnya lebih apik dibanding pasar tradisional semakin membius warga Indonesia belum lagi dengan iming-iming diskon yang setiap minggu menjadi daya tariknya. Pasar tradisional yang kerapkali kotor becek dan terletak di alam terbuka, thus, bila hujan konsumen dan pedagang sama sama kehujanan dan bila panas kepanasan membuat suasana tidak senyaman carrefour misalnya.

Tetapi memang begitu yang namanya pasar tradisional, becek terutama terutama di negara-negara Asia Tenggara. Bahkan untuk pasar-pasar yang sudah relokasi kedalam gedung-gedung milik PD Pasar jaya tidak bisa menghilangkan atmosfir ketradisionalannya, lupakan lantunan lagu-lagu pop yang sedang hits ketika anda belanja di sana. Bilapun ada terdengar musik maka itupun saling tumpang tindih karena terdengar dari beberapa toko berbeda. Belum lagi gang-gang yang sempit akibat dijejali orang-orang baik konsumen dan pelayan toko yang tidak muat lagi berada di dalam akibat dipenuhi barang-barang dagangannya sampai keluar-luar.

Pun begitu ditengah-tengah pelbagai ketidaknyaman, pasar tradisional masih menjadi tempat favorit bagi kebanyakan warga, ibu-ibu tentu saja. Disamping kabarnya pasar tradisional mematok harga yang lebih murah dibanding beberapa pasar modern yang ada. Kesempatan berkunjung pada pasar tradisional menjadi sebuah tradisi dalam bersosialisasi dengan beberapa tetangga yang kebetulan pada waktu yang bersamaan.

Pasar tradisional memang biasanya mendekati pemukiman warga, entah memanfaatkan lahan yang kosong atau jalan-jalan di seputar perumahan yang cukup strategis. Dan karena pengunjungnya warga sekitar saja yang notabene sudah saling kenal maka kesempatan berbelanja di sana dijadikan untuk bertukar kabar. Pasar tradisional akan semakin ramai sebagai pusat pertukaran kabar terutama bila berada pada lingkungan yang ibu-ibunya memiliki waktu luang lebih atau bahkan sama sekali tidak bekerja.

Di Indonesia sendiri menurut Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo), jumlah pasar tradisional yang berpotensi menjadi pasar grosir berjumlah kurang lebih 150 buah. Keberadaan mereka kian mari kian terancam karena kebijakan pemerintah daerah yang sepertinya kurang memperhatikan kesehatan persaingan antara pasar modern dan pasar tradisonal. Sejumlah pasar tersebut dibeberapa kota besar mempunyai letak lokasi yang strategis. Berdasarkan data dari Asparindo, pasar tradisional yang berletak strategis diantaranya seperti di Jakarta terdapat pasar tradisional Jatinegara, Glodok, Senen, dan Tomang. Di Yogyakarta terdapat pasar tradisional Bringharjo. Di Surabaya terdapat pasar tradisional Wonokromo, dan Turi. Tentusaja letak yang strategis membuat pasar modern juga ingin berbagi “kue” yang sama. Walaupun biasanya keberadaan pasar modern hanya menjadi ancaman bagi pedagang lama.

Satu hal juga yang pasti kenapa pasar tradisional masih menjadi pilihan adalah kebebasan untuk menawar barang dagangan yang dijajakan. Menawar membawa kepuasaan tersendiri bagi konsumen. Merasa mendapatkan barang lebih murah dan mengalahkan harga yang dipasang pedagang adalah sebuat sepiritulisme (baca: nyawa) jual beli dalam pasar tradisional. Berbeda dengan harga tetap terpasang disetiap barang adalah “harga yang harus dibayar” oleh para pembeli di pasar modern.

Tradisi tawar menawar di sekitar kita ternyata sudah demikian uniknya. Tidak hanya ibu-ibu ternyata kebiasaan ini juga biasa dilakukan oleh bapak-bapak, walau mungkin tidak segigih dan sesadis isteri mereka. Di Padang misalnya dikenal denganĀ  sebuah kebiasaan tawar menawar yang cukup menarik dikenal dengan marosok. Marosok berlangsung antara penjual-pembeli seperti orang bersalam-salaman. Tangan yang bersalaman itu selalu ditutupi benda lain, seperti sarung, baju atau topi. Setiap jari melambangkan nilai uang.

Transaksi cukup dilakukan “berduaan” antara penjual dan pembeli dengan menggunakan bahasa isyarat. Tanpa omongan, pedagang-pembeli cukup bersalaman dan memainkan masing-masing jari tangan untuk bertransaksi. Namun begitu, kedua tangan yang berjabat tidak terlihat orang di luar penjual-pembeli. Sebab, tangan yang bersalaman itu selalu ditutupi benda lain, seperti sarung, baju atau topi. Tujuannya agar orang lain tak melihat proses transaksi tersebut. Dengan begitu, harga ternak hanya diketahui antara penjual dan pembeli.

Sewaktu tawar menawar berlangsung, penjual dan pembeli saling menggenggam, memegang jari, menggoyang ke kiri dan ke kanan. Jika transaksi berhasil, setiap tangan saling melepaskan. Sebaliknya, jika harga belum cocok, tangan tetap menggenggam erat tangan yang lain seraya menawarkan harga baru yang bisa disepakati.

Para pedagang ber-marosok agar harga ternak yang dibelinya tidak diketahui oleh banyak orang. Transaksi berduaan seperti itu memang jamak dilakukan di setiap pasar ternak, tentu saja dengan cara yang disepakati masyarakat masing-masing daerah. Tak ada yang mengetahui secara pasti, kapan marosok ini bermula. Sejumlah pedagang ternak hanya mengakui, tradisi ini sudah dimulai sejak zaman raja-raja di Minangkabau dan diterima secara turun temurun (liputan6.com)

Kabarnya akibat sedemikian getolnya orang-orang Indonesia menawar setiapkali beberalanja membuat pedagang Pasar Seng di Arab Saudi, yang sekarang sudah tergusur akibat perluasaan Masjidil Haram mahfum. Sebenarnya menawar barang dagangan di sana sangat tidak etis dan dianggap menghina, namun setelah (ibu-ibu) Indonesia banyak berbelanja di sana membuat mereka faham bahkan akhirnya ikut-ikut menawarkan dagangannya dengan “bisa ditawar, bisa ditawar”.

Yah, akhirnya setelah pasar tradisional kita menjadi bulan-bulanan pasar modern ada juga satu-dua hal yang berasal dari nilai-nilai pasar tradisional Indonesia kita eksport, tidak tanggung-tanggung bahkan sampai Arab Saudi.

Baca Juga
Pemerintah diminta lindungi pasar tradisional