Thomas Crown Wannabe?…pikir lagi!

Barang antik saja harganya bisa selangit, apalagi benda purbakala. Maka tak mengherankan bila benda-benda kuno warisan sejarah ini menjadi sasaran maling untuk didagangkan. Itulah yang kerap terjadi selama ini. Pencurian dan pemalsuan lima arca di Museum Radya Pustaka, Solo, Jawa Tengah, jelas bukanlah cerita baru.(Taufik Alwie “Laporan KhususGatra Nomor 3 Beredar Kamis, 29 November 2007)

Pencuri-pencuri berkeliaran disekitar kita, ada berbagai macam pencurian dari pencuri ayam sampai pencuri kayu-kayu di belantara hutan Pulau Kalimantan. Dari mencuri demi alasan klasik yaitu duit sampai dengan karena gangguan psikologis yang sering dikenal dengan kleptomania. Berbagai julukanpun mewarnai aksi satu ini dari pencopet, maling, sampai dengan perampokan bahkan koruptor.

Dari sekian banyak aksi yang dilakukan oleh pencoleng dan barang-barang yang menjadi tujuan pencuriannya. Ada satu jenis pencurian yang agak lebih dianggap bermartabat dibanding pencuri kelas teri macam copet-copet dalam metromini yang memanfaatkan padatnya penumpang. Dan mereka biasanyan dikenal karena barang yang dicuri bukan benda remeh yang semua orang dapat melakukakannya namun sebuah benda yang dijaga oleh teknologi canggih dan pengamanan berlapis.

Adalah pencurian benda seni yang saya maksud, yah paling tidak dalam dunia Hollywood pencoleng jenis satu ini biasanya digambarkan dengan orang-orang yang berpendidikan tinggi, paling tidak berpengalaman dalam dunia coleng-mencoleng benda seni faham bagaimana menghindari alarm dan penjagaan yang sangat ketat…bahkan kerap kali digambarkan berwajah rupawan bak James Bond….tentu tidak lupa dengan pasangan-pasangan mereka juga tidak kalah dari Bond Girl.

Salah satu yang sedang dalam proses pembuatan sekuelnya adalah The Thomas Crown Affair. Film yang dalam remake tahun 1999 dibintangi oleh Pierce Brosnan dan Rene Russo menceritakan tentang bujang konglomerat playboy yang hobi mengutil benda-benda seni berharga hanya untuk kesenangan belaka. Lalu ingatkah anda dengan film Entrapment juga mengenai pencoleng-pencoleng canggih yang salah satu adegannya diambil di atas menara kembar Kuala Lumpur. Kedua film di atas memberi gambaran pada kita penontonya bahwa menjadi pencoleng kelas wahid dengan kreatifitas yang luar biasa dalam meraih tujuannya adalah sebuah pekerjaan yang…yaaah ga jelek jelek amatlah minimal kalo tidak dapat duit ya wanita cantik di sisi anda…atau bahkan kedua-duanya,…hmm membuat anda berfikir untuk banting setir karir kan, namun apa benar begitu?

Mungkin di Indonesia, bagi Thomas Crown mencuri benda seni kehilangan maknanya karena di sini mencuri benda seni semudah memasukkan gajah kedalam kulkas, ya tinggal buka pintu kulkas lalu masukkan dan tutup kembali kan…semudah itu memang, bila anda “tahu” caranya. Contohnya pencurian benda seni di Museum Solo yang heboh beberapa bulan lalu, ternyata cukup dengan bekerjsama dengan orang dalam maka…viola arca-arca antik berusia ratusan tahun dapat berpindah ke halaman rumah anda.

Mencuri benda seni di Indonesia memang tidak sesulit bila sudah sampai ketangan pembelinya yang notabene adalah para pecinta seni. Tentunya mereka lebih menghargai benda-benda tersebut dengan penjagaan yang lebih ketat ketimbang ketika masih tergeletak di tempat asalnya.

Seperti yang saya kutip dari Majalah Gatra “Maraknya pencurian arca di kawasan Dieng, ya, karena longgarnya pengawasan. Begitu banyaknya situs candi –kini 225 situs– tak diimbangi dengan jumlah petugas pengamanan. Dari seluruh situs di Jawa Tengah itu, tak sampai separuhnya yang dilengkapi penjaga. Itu pun tak sebanding dengan luas kawasan situs yang harus dijaga.”

Mungkin satu-satunya pencurian benda berharga yang lumayan dramatis pernah dicatat pada 1963,ketika emas dan permata koleksi Museum Nasional digasak perampok bernama Kusni Kasdut. Nasib Kusni Kasdut sendiri tidak seindah Thomas Crown karena tertangkap dan divonis hukuman mati oleh pemerintahan Soekarno setelah pernah mencoba lari dari Nusakambangan. Namun bukan berarti setelah matinya Kusni Kasdut Museum Nasional menjadi aman karena setelah kejadian tersebut sempat mengalami kehilangan seperti koleksi uang logam pada 1979,beberapa koleksi keramik senilai Rp. 1,5 milyar tahun 1987, dan pada 1996 pencurian lukisan yang akhirnya bisa ditemukan kembali di Singapura.

Ironi memang, tapi apbolbu (maksudnya Apa Boleh Buat) mungkin penghargaan kita terhadap benda-benda peninggalan sejarah yang bernilai tinggi masih sangat minim karena masih sibuk memikirkan harga minyak dunia yang hampir-hampir saja nembus 100 dollar. Mungkin Buat kita hilangnya benda penting bersejarah baru “terasa penting” bila sudah sampai di Balai Lelang Christie’s. Termasuk juga lagu Rasa Sayange yang baru deh sekian ratus juta rakyat Indonesia merasa memiliki setelah diaku-aku Malaysia.

Jadi, masih berminat menjadi pencuri gaya Thomas Crown di Indonesia? sebaiknya pikir lagi deh ngapain susah-susah amat….