Keplesetologi : Elegi Sepotong Sisir

Ini adalah kejadian beberapa tahun sebelum saya pindah ke Depok
—————————————————————————–.

Beberapa waktu lalu pernah saya membaca sebuah lelucon yang kira-kira begini isinya :

Bagaimana caranya memasukkan gajah ke dalam kulkas?
Caranya, buka pintu kulkasnya lalu masukkan gajah ke dalamnya, lalu tutup pintunya.

Masuk akal kan? namun masalah gajahnya cukup atau ndak ke dalam kulkas adalah masalah lain lagi. Kecuali kulkasnya sebesar kontainer memang sulit dibayangkan gajah akan muat dalam kulkas-kulkas pada umumnya. Sebuah logika yang dipaksakan, begitulah apa yang beberapa hari ini terjadi dalam hidup saya. Tak habis2nya kejadian menggelikan (kalau boleh di bilang menggelikan) mewarbai headline koran-koran dari DPR yang bersaing dengan Tukul dalam soal laptop, polisi yang menembaki atasannya sampai tewas dan kasus penembakan ini bukan hanya satu dua polisi saja yang melakukan walau bukan atasannya saja yg jadi sasaran sampai salah seorang menteri yang melenggangkan kangkungkan rekening seorang anak mantan presiden negeri ini dengan cara-cara yang non prosedural.

Bicara soal tingkah polah pemimpin dan aparatur negara saya jadi teringat Jaya Suprana dengan teori Kelirumonologinya : Sebagai seorang pemikir dan penulis, Jaya mengobok-obok berbagai literatur dan media untuk mempelajari kekeliruan dan kesalahkaprahan yang telah dilakukan orang dalam kehidupan sehari-hari. Hingga akhirnya, ia memelopori istilah kelirumologi dan melahirkan buku berjudul Kaleidoskopi Kelirumologi (www.tokohindonesia.com)

Menurut Wiki ‘kelirumologi’ berasal dari kata ‘keliru’ yang artinya ‘salah’, dan ‘logi (logos)’ yang artinya ‘ilmu’. Dua kata tersebut jika hendak digabungkan, maka seharusnya berbunyi kelirulogi, bukan ‘kelirumologi’. Akan tetapi Jaya Suprana sengaja menggunakan kata yang ‘salah’ tersebut untuk sekadar menjelaskan, bahwa istilah baru yang diciptakannya memang untuk mengajak kita semua menjadi peka terhadap kesalahkaprahan.

Bila Kang Jaya menyebutnya dengan kelirumonologi, maka dalam rumah saya apa yang terjadi adalah keplesetologi. Boleh diterjemahkan secara harfiah atau maknawiyah. Karena kamar mandi saya tidak di disain secara baik, maklum saja bukan kontaktior besar yang menanganinya dulu. Maka setiap kali saya atau isteri mandi dapat dipastikan ada saja air yang keluar dari bawah pintu. Membuat siapa saja yang akan ke dapur rawan kepleset.

Namun, bisa juga keplesetologi yang saya maksud sesuai dengan yang kerap kali terjadi dalam kehidupan rumah tangga saya. Seperti tadi pagi, baru saja saya mendaratkan punggung saya pada sandaran bangku yang nyaman setelah hampir satu jam gabung dengan “pembalap-pembalap jalanan berkemeja” antara Kalimalang-Blok M tiba-tiba HP saya berdering. Pikir saya, ini pasti berita penting, mengingat hari ini memang petugas Telkom berjanji memasang sambungan baru di rumah saya. Tapi, saya salah isteri saya tiba-tiba dengan suara sedikit bete bertanya “Mas, sisirnya di mana??!” sebenarnya bukan sebuah pertanyaan namun lebih ke penuduhan saya menghilangkan sisir yang tinggal satu-satunya di rumah.

“Sisir? ya mana aku tahu, Dek” jawabku dengan refleks dengan masih mennebak-nebak apa hubungannya sisir dengan sambungan Telkom.

“Tadi kan Mas Iman yang pake, terus ditaruh di mana sekarang, kenapa ga ada?”

“Ooooooh….sisir” baru saya ngeh ternyata maksudnya sisir beneran

“Iya!” jawab isteriku dengan nada yang masih mengandung prejudice terhadap suaminya ini.

Percakapan tadi pagi berlanjut dengan kekesalan isteri saya yang menurutnya banyak barang-barang remeh tapi penting “sengaja” dihilangkan oleh saya. Tentunya sebagai seorang pria, sedikit tidak menerima juga walau memang tadi yang pakai terakhir saya namun bukan berarti saya juga yang menghilangkannya…..bukan begitu bukan? sepertinya LSM Kontras harus turun tangan juga nih ;))

Teman saya, mengusulkan agar masing-masing memiliki sisir pegangannya, artinya buat isteri dan suami bahkan anak dan pembantu bila mau. Namun saya fikir percuma juga. Tahukan bulpen? benda yang nasibnya sama kayak sisir, ga di rumah dan di kantor cepat sekali hilangnya kadang-kadang tapi juga cepet ketemu kembali (walau tidak penting siapa pemiliknya, ngaku deh). Oh iya , jadi ketika itu demi memecahkan masalah kelangkaan bulpen di rumah saya (baca = sebenarnya ada tapi kalo butuh ga ada), maka saya putuskan untuk beli se”dus” berisi 20 buah bulpen. Berhasilkah?…..nyatanya tidak, sampai sekarang bulpen masih menjadi kelompok benda-benda “ghoib” selain sisir, gunting kuku dan laiinya di rumah saya.

Nah….pertanyaanya sekarang, benarkan saya (mewakili suami seluruh dunia) adalah fihak yang selalu (terlalu sering) menghilangkan benda-benda remeh tapi penting di rumah? mengingat menurut teman saya tadi juga di rumahnya sering terjadi sisir atau benda-benda lainnya menghilang namun 2-3 jam kemudian sudah nangkring manisnya di atas TV.

Apa harus di rukyah tuh sisir dan bulpen?

Sumber :

WIkipedia Kelirumonologi

One thought on “Keplesetologi : Elegi Sepotong Sisir

  1. menurut gue sih yang penting semua ada tempatnya dan hanya di satu tempat.
    bagi siapa yang habis pakai atau menemukan, harus mengembalikan ke tempat situ juga.

Comments are closed.